Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 64 : Perbincangan seorang laki-laki


__ADS_3

Setelah perjalanan itu, dan akhirnya Sultan bersama dengan Iman pun telah tiba di kosan sana. Salam pun kembali diberikan kepada Akbar yang masih tertidur di kamarnya itu.


Sultan dan Iman pun lalu masuk ke dalam kamar Akbar, yang di mana mereka ingin menjahili temannya itu di dalam sana, dikarenakan ia sungguh pulas sekali tertidur, hingga mana mereka berdua tak kuasa menahan sikap, yang di mana sikap jahilnya itu bisa membuat Akbar merasa panik.


"Sutt! jangan berisik Men," bisik Sultan.


Alangkah susahnya Iman menahan tawa karena celana yang tengah dikenakan Akbar itu, dipelorotkan oleh Sultan, dan yang di mana pakaian dalam Akbar saja yang hanya disisakan oleh Sultan di sana.


"Ahh, ahh, ahh," desah Iman, yang hanya ingin membuat Akbar terbangun saja.


Dengan seketika, Akbar pun terbangun, ketika mana ia mendengar suara Iman di luar kamarnya itu. Dan alangkah terkejutnya Akbar ketika mana ia melihat ke arah celananya, yang di mana waktu itu Sultan akan melemparkan celananya tersebut itu ke dalam kolam ikan yang berada di kosan sana.


"Ehh, ehh, ehh, bodoh, bodoh! jangan Tan," ucap Akbar sembari berjalan ke luar kamar dengan hanya menggunakan pakaian dalam saja.


Iman, Sultan, dan bahkan Akbar pun juga tertawa, namun tawa Akbar tak sepuas dengan tawa dari kedua temannya itu di sana. Dan setelah Akbar sadar, ia pun lalu berlari masuk ke dalam kamarnya kembali, dikarenakan ia terkejut! ketika mana dirinya melihat bahwa dia sedang tidak menggunakan celana.


"Tuyul, tuyul, haha," ucap Kang Azis sembari tertawa terbahak-bahak di sana.


Kang Azis itu adalah kakak kelas dari mereka semua, dan Kang Azis itu adalah kakak kelas paling gila, sama hal nya segila Iman. Kang Azis merupakan kakak kelas yang sama-sama mengikuti Organisasi Pramuka, yang di mana ia dulu memegang jabatan sebagai Krani, dan Krani itu adalah sebutan bagi wakil ketua Pramuka, ataupun Krani juga bisa disebut sebagai seketaris Pramuka juga.


"Gila kalian semua, untung kagak ada cewe," ucap Akbar dengan seketika mengambil satu batang rokok dari Sultan begitu saja.

__ADS_1


"Dih, dih, dih! main ambil-ambil aja tanpa permisi," ucap Iman sembari menepuk tangan Akbar.


Akbar pun lalu tersenyum dan tertawa kepada mereka berdua di sana, dan tentunya Akbar takan pernah marah kepada mereka karena itu memang sudah resikonya bilamana dia berteman dengan teman gila yang seperti mereka itu di sana.


Sebelum mereka memulai perbincangan kembali, Iman pun disuruh oleh Sultan untuk mengabari teman-temannya yang lain karena tanpa mereka, perbincangannya itu takan pernah terasa lengkap.


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala kepada handphone Sultan di sana. Dan tentunya itu pasti dari Rere, namun di sana Sultan tak mengangkatnya karena ia hanya sedang menguji kesabaran Rere, dan apakah Rere akan meninta maaf kepadanya, ataupun tidak akan meminta maaf kepadanya.


"Tan, aku minta maaf karena sinyal di dalam kereta banyak masalah, makanya aku susah ngehubungi kamu, dan tadi juga aku udah balas pesan Whatsaap kamu kok, tapi karena jaringan, jadi pesan aku engga ke kirim," ucap Rere dalam pesan Whatsapp.


"Bodo amat Re! itu urusanmu, yang terpenting di sini gue engga marah sama elu kok, hanya saja gue ingin menguji tingkat kesabaran elu di sana udah sampai mana, apakah kamu masih kuat menghadapi sikapku ini Re," ucap Sultan berbicara sendiri.


....


"Ada apa Bro?" ucap Iman.


"Elu yang ada apa Men? gue kagak ngomong apa-apa sama lu! kepedean amat lu Men, jadi orang!" ucap Sultan kepada Iman.


"Dih, kok, ngegas sih elu Tan! salah apa gue sama lu? heran beut dah gue sama lu sekarang hmm," ucap Iman kembali sambil tertawa kepadanya.


"Kalau elu engga mau gue makan! diam aja udah!".

__ADS_1


Iman pun hanya tersenyum dan terdiam karena ia takut takan di izinkan oleh Sultan untuk mengambil rokoknya itu di sana, dan terlebih itu adalah rokok milik Sultan.


"Asalamu'alaikum brader," ucap Taufik, Maulana, Yogi, dan Rizal bersamaan.


Mereka berempat pun lalu datang ke sana, tanpa harus diancam, ataupun ditegaskan karena mereka adalah teman yang benar-benar selalu ada, tanpa harus diperintah pun, mereka pasti akan datang dengan sendirinya, asalkan di situ ada rokok dan di situ juga akan ada perbincangan baru.


Perbincangan seorang anak laki-laki, tentunya sangat berbeda dengan perbincangan para wanita, yang di mana perbincangan wanita akan selalu lembut dan penuh dengan cerita cinta, namun perbincangan mereka sebagai anak cowok memang sedikit agak kasar, dan ucapan yang mereka keluarkan itu memang agak sedikit jorok, dan tak berpendidikan karena itu lah kehidupan, semua takan pernah sama, namun tujuan mereka pastinya akan sama, yang di mana anak cowok pun akan selalu mengabadikan momen itu dengan cara berfoto bersama juga di sana.


"Bos, kita lagi banyak uang kayaknya ya, tiba-tiba nyuruh kita kumpul di sini," ucap Yogi kepada kawannya itu di sana, dan yang di mana Yogi berbicara seperti itu karena ia hanya ingin membuat Sultan peka terhadap ucapannya itu di sana.


"Engga banyak, yang penting ada untuk kalian, dan terlebih gue senang kalau melihat kalian semua sebagai saudara gue juga ikut senang karena bahagia itu engga harus sama pacar, melainkan sama kawan pun bisa jadi, walaupun agak sedikit morotin uang, yang penting gue bisa mastiin aja, bahwa kalian masih ada di bumi," ucap Sultan kepada mereka semua, yang di mana ia hanya ingin meledek Maulana karena dia lah yang paling suka buncin bersama pacarnya itu.


"Siapa tuh Tan?" ucap Maulana.


"Justru gue bilang kayak gitu karena gue tadi ngeliat elu bego! yang di mana elu lagi pelukan dimotor sama pacar elu di jalan jalur sana," ucap Sultan


Sebelum Sultan menjemput Iman di Odeon, Sultan sempat melihat Maulana sedang bersama dengan pacarnya itu disuatu jalan yang sedikit agak ramai, dan jalan itu bisa disebut dengan jalan, jalur lingkar selatan.


"Dih, bukannya itu Maulana ya? pake acara pelukan segala lagi, udah itu pandangannya kaku! kayak orang yang udah bertahun-tahun diam di dalam kulkas," ucap Sultan waktu itu.


Maulana pun sempat tersenyum, yang di mana Maulana itu juga sempat ingin membuat alasan! agar supaya kawan-kawannya itu tidak meledeknya di sana.

__ADS_1


Maulana bukannya malu, melainkan ucapan yang akan di keluarkan dari mulut kawan-kawannya itu akan sedikit membuat hati Maulana down, dikarenakan perbincangan jiwa anak laki-laki memang seperti itu, dan terlebih ucapan mereka hanya ingin memastikan bahwa kita di sana memiliki sikap seorang laki-laki jantan, dan takan pernah dibuat lemah oleh suatu kata-kata.


__ADS_2