Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 118 : Mengukir kembali kisah


__ADS_3

Gelapnya langit malam di atas sana telah tergantikan, yang di mana pagi pun menyapanya bersama dengan indahnya sinar mentari, sampai bila burung pun bersiul dengan merdunya dia atas atap genting rumahnya itu.


Ditemani dengan segelas teh susu hangat, sehingga angin pun meniup uap asap yang ke luar dari cangkir gelasnya itu, sampai-sampai ia tak perlu meniup panasnya air teh susu itu, dikarenakan alam telah membantu dirinya meniupi panasnya minuman tersebut itu.


Alunan lagu mulai dinyanyikan oleh Sultan, dia pun bernyanyi dengan damainya di depan teras rumahnya itu, alunan gitar yang dipetik pun sama persis merdunya dengan siulan burung yang menemaninya kali ini di Kota kecil tercintanya ini.


Hembusan asap rokok itu, lalu dia ke luarkan dari dalam hidungnya dengan perlahan, sambil sesekali meresapi dinginya angin di luar ruangan yang memang udara itu sangat terasa menusuk hingga ke alam pikiran kedamaian rasanya itu sekarang.


Tak payah menunggu rindu hingga membelenggu, dikarenakan hari ini rindu itu akan datang dengan sendirinya, dan tepatnya rindu itu akan kembali mengukir kisah cintanya ini yang entah Tuhan akan menyatukannya dengan selamanya, ataupun malah sebaliknya, yang di mana Tuhan takan pernah merestui hubungannya itu bersama dengan Rere, wanita cantik dan manjanya di sana.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara nada dring telepon menyala, dan tepatnya nada suara itu berbunyi ketika Sultan tengah memikirkannya, entah apa yang tengah Tuhan rencanakan itu untuknya, namun sekarang hanya lantunan doalah yang harus selalu ia ucapkan kepada Tuhan yang menciptakannya.


"Assalamu'alaikum Be, udah bangun rupanya, gimana tidurnya? nyenyak kan? baguslah kalau emang nyenyak tidurnya, dan jadi hari ini kita bisa main kan?" ucap Rere pagi itu, yang dengan seketika membuat senyumannya itu mulai hadir, dan mulai menemaninya kembali.


"Wa'alaikum Salam, alhamdulillah nyenyak Re, dan mungkin malam itu gue memang tengah memikirkanmu, dan jadi Tuhan memberikan mimpi bertentangan tentang kebahagiaanmu, dan gue harap elu juga bermimpi hal yang sama seperti gue, yang di mana mimpi itu memang sangat terasa nyata, hingga mana senyumannya itu masih tetap terasa utuh sampai sekarang," ucapnya yang mengawali paginya itu dengan sangat manis bersama dengan Rere lewat panggilan telepon suara itu.


"Masa sih Tan? kok, sama ya, tahu ah! gue engga mau dengerinya, entar yang ada takutnya gue engga bisa jauh dari elu bolot!".

__ADS_1


"Cinta tanpa rindu? memangnya ada apa Re? dan bahkan kuatnya rasa cinta itu, beriringan dengan arti sebuah kata rindu, tanpa rindu kita takan pernah kuat, tanpa rindu kita takan pernah bisa mencoba merasakan arti sebuah kata sabar."


"Mungkin seseorang yang tak pernah mengenal kata rindu itu, dia adalah orang yang memang tak pernah mencintai pasangannya itu, ataupun mungkin rindunya itu hanya untuk orang lain, bukan kita."


Penjelasan itu memang cukup rumit untuk pahami, namun Rere tersenyum kepadanya di sana, dan mungkin itu sudah cukup untuk memahami Rere bahwa arti rindu yang sebenarnya itu adalah pujian untuk menyemangati hidupnya di sana.


Telepon suara dimatikan, Sultan pun masih duduk terdiam di depan teras rumahnya itu, hingga pada akhirnya dia pun lalu pergi masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap-siap menjemput Rere.


Sementara itu, Sultan pun lalu mengeluarkan motor tuanya dari dalam rumahnya untuk dia panaskan mesinnya terlebih dahulu.


Bukan untuk apa-apa, dan yang jelas dia hanya takut nanti motornya itu akan mati kembali, seperti hal nya dulu motor tua itu pernah berhenti di sebuah jalan yang menanjak.


Jam 8 adalah waktu yang dia berikan kepada Rere, namun Sultan ingin berdiam diri di dalam rumahnya terlebih dahulu, dan jadi jam 7 tepat ia menjalankan motor tuanya itu untuk mengejutkan wanitanya yang mungkin dia juga masih sibuk dengan urusannya di dalam rumahnya.


"Rere udah makan belum ya? mungkin gue telepon dia terlebih dahulu, tapi jangan dah, mungkin sesampainya di rumah Rere, gue baru akan menayakan hal itu kepadanya di sana," ucap Sultan, yang di mana dia berbicara sembari menjalankan motor tuanya itu dengan perlahan.


Jalanan memang terlihat sepi, dikarenakan hari itu adalah tanggal merah, dan mungkin di tempat tujuannya nanti akan ada banyak orang yang mendatangi tempat itu lebih dulu.


Pelabuhan Ratu mungkin akan menjadi tempat yang tepat untuk ia singgahi, panorama alamnya pun memang begitu indah, apalagi bila Rere yang menemaninya di sana nanti.

__ADS_1


Salam sapa diberikan kembali oleh Sultan, dan alangkah terkejutnya Rere ketika dia melihat Sultan sudah duduk saja di depan teras rumahnya bersama dengan adik perempuannya itu.


Sultan pun nampak asik bermain dengannya, sampai-sampai ibunya tersenyum melihat kedekatan Sultan bersama dengan anaknya itu, dan terlebih dia itu memang pria yang mudah dekat dengan sosok anak kecil seperti dia.


"Sultan ... bilangnya kemarin jam delapan, tapi kok, kamu udah main nongol aja di sini, ini kan masih pagi Tan, emangnya kamu udah sarapan? kalau begitu kita perginya sekarang aja yu," ucap Rere yang langsung menarik tangan Sultan, dikarenakan bilamana dia terus bermain bersama dengan adiknya itu di sana, sampai kapan pun itu tidak akan selesai-selesai.


"Jam delapan aja berangkatnya ya, soalnya saya datang ke sini karena ingin bermain bersama dengan adik saya terlebih dahulu, jadi tungguin aja sebentar ya, lagian mamah juga kelihatannya cape tuh ngurus dia sendirian di sini," ucap Sultan beralasan, yang di mana ibunya hanya bisa tersenyum kepadanya.


"Ihh, dia ini ya, selalu saja bersikap sopan kalau sedang bersama dengan mamah gue ini, awas aja elu Tan! lihat aja nanti! pokonya mamah harus lihat seberapa rese sikap kamu," ucap Rere dalam hati sembari menatap Sultan disaat dia tengah tertawa lepas bersama dengan adik dan ibunya di sana.


"Kalian mau main ke mana? emangnya Sultan belum berangkat PKL? mamah harap sih Sultan diam di rumah mamah aja, engga perlu main jauh-jauh, soalnya mamah takut nanti Sultan kecapean," ucap ibu Rere begitu lembutnya.


"Sultan masih punya waktu dua hari lagi Mah, dan mungkin hari Sabtu nanti Sultan udah pergi berangkat ke Tangerang, Sultan minta doanya dari mamah ya," ucap Sultan dengan lembutnya sembari menatap wajah ibunya.


"Setiap hari, dan setiap saat mamah selalu doain kalian berdua Tan, sehat selalu ya, semoga nanti di sana kamu mendapatkan pelajaran yang lebih untuk diceritakan kepada Rere dan juga mamah."


"Amin, makasih ya, Mah, mamah juga jaga kesehatannya di sini juga ya, Sultan mau nitip Rere, dan maaf kalau nanti Sultan engga bisa bantuin mamah buat jagain Rere yang nakal ini."


Rere pun menjewer telinga Sultan, dan lalu ibunya pun tersenyum melihat kedelatan mereka berdua, namun waktu itu ibu Rere sempat menepuk tangannya, dikarenakan kalau dia tidak menepuk tangan Rere mungkin dia takan melepaskan jewerannya itu dari Sultan.

__ADS_1


Sultan hanya tersenyum manis sembari memegang telinga kiri yang tadi sempat Rere tarik itu, dan sebenarnya Sultan hanya ingin merasakan pelukan Rere di pagi hari yang begitu dingin ini, bukan melainkan jeweran keras itu.


__ADS_2