
Rere duduk terdiam di bawah pohon rindang sembari menyandarkan punggungnya itu dengan damai di sana, dan lalu Sultan pun berdiri di samping kekasihnya sembari menyandarkan punggunya itu juga di pohon rindang bersama dengan Rere.
Kediamannya itu, tak memberikan cukup banyak waktu, sehingga panggilan azan salat asar pun telah dikumandangkan.
Sultan pun lalu meminta izin kepada wanitanya itu untuk pergi melaksanakan ibadahnya terlebih dahulu, dan sementara itu Rere akan menunggu prianya itu di sana seorang diri, dikarenakan hari itu Rere memang tidak bisa mengikutinya masuk ke dalam mesjid, dan apalagi kalau bukan soal urusan halangan yang selalu menghampiri wanita di setiap Bulannya.
"Be, gue mau salat asar dulu ya, elu lagi engga salat kan satu minggu ini? kalau begitu gue nitip tas slempang gue dulu sebentar ya, oke," ucap Sultan sembari memberikan tas slempangnya itu kepada Rere.
"Kok, elu tahu sih Tan, kalau gue itu lagi ... ," ucap Rere, yang di mana dengan seketika Sultan pun lalu memotong perkataan yang akan dia ucapkan tadi kepada Sultan.
"Penasaran kan elu Be? walaupun gue cowok, gue juga belajar kali tentang ilmu kedokteran seperti ini, dan lagian gue itu kan cowok paling pengertian, semua itu gue lakukan demi elu juga Re," ucap Sultan sembari mengelus-elus hijab yang melekat dikepala Rere itu dengan manis.
Sultan pun lalu pergi meninggalkan Rere, dan sebelum itu dia pun sempat tersenyum ke arah wanitanya itu, bukan untuk apa-apa, melainkan itu adalah kebiasaan yang sering dia berikan kepada Rere.
Langkah kaki mulai di jalankan perlahan olehnya, namun waktu itu Sultan melupakan suatu hal, yang di mana rokok satu bungkus penuh itu ia tinggalkan begitu saja di dalam tasnya, namun untungnya kala itu, sebelum dia pergi menjemput Rere di tempat Pelatihan Kerja Lapangannya itu di sana, Sultan sempat menyobekan satu lembar kertas buku yang dibagi menjadi kecil untuk dia tempelkan dicangkang bungkus rokok itu, agar supaya Rere tidak membuang rokoknya begitu saja.
Rere pun lantas membuka tas slempang Sultan, dikarenakan prianya itu pasti akan selalu membawa buku kecil puisinya itu setiap saat, dan bahkan ketika sekolah pun ia masih akan membawanya.
Srekk ....
Suara resleting tas slempang itu mulai terbuka, dan tentunya benda pertama kali yang Rere lihat itu adalah bungkus rokok, yang di mana tadi dia akan membuangnya ke dalam tong sampah, namun ketika mana Rere membalikan bungkus rokok itu, dengan seketika dia melihat ada sebuah tulisan di balik cangkang bungkus rokok tersebut itu.
__ADS_1
"Buka buku puisi gue dibarisan paling belakang."
kata teka-teki itu, merupakan sebuah kata singkat yang Sultan buat, dikarenakan bilamana Sultan menuliskan penuh kata-kata itu, yang di mana tulisan dirobekkan kertas itu, takan tersampaikan dengan jelas karena Sultan hanya menyisakan sedikit robekan kertas di balik cangkang bungkus rokoknya itu.
"Ada-ada aja sih ini anak! untung aja gue engga sempet membuangnya karena gue melihat tulisannya yang jelek itu di balik cangkang bungkus rokok ini," ucap Rere yang tersenyum ketika mana dia melihat tulisan jelek Sultan di dalam buku puisinya itu.
"Kalau kamu menemukan satu bungkus rokok penuh di dalam tas slempang gue nanti, tolong jangan dibuang begitu aja ya, soalnya itu mubazir sayang, lebih baik kamu berikan rokok itu kepada orang lain aja ya, agar supaya kita berdua bisa mendapatkan pahala," ucap Sultan di dalam tulisan buku itu, yang di mana wanitanya itu pun dibuat tersenyum olehnya, dan tentunya dia merasa bahwa Sultan telah mengetahui semua isi yang berada di dalam pikiran Rere itu lebih dulu.
....
Rere pun melihat ada seorang pria yang umurnya sama mungkin dengan umur ayahnya, dan orang itu sepertinya tengah mencari sesuatu, dikarenakan pandangannya itu tak begitu asing ketika mana Rere memperhatikannya.
Rere pun lantas menyapa bapak itu dengan lembutnya sembari berdiri menghampiri beliau, dan memang benar bahwa beliau tengah mencari bendanya yang hilang, entah itu benda apa? dikarenakan Rere belum menanyakannya kepada beliau.
"Ehh, iya nih Neng, bapak lagi nyari kunci motor, perasaan tadi bapak mendengar ada suara benda yang terjatuh di sekitaran sini," ucap bapak itu sembari menoleh ke arah Rere.
"Engga Pak, tapi saya bisa bantu nyari, dan kebetulan kayaknya saya juga mendengar ada sesuatu benda yang terjatuh di sekitaran sini," ucap Rere kembali.
"Maaf kalau bapak jadi ngerepotin kamu ya, Neng."
"Engga apa-apa kok, Pak."
__ADS_1
Setelah sekian lama mereka berdua mencari-cari ke sekeliling arah, hingga pada akhirnya Rere pun menemukan kunci motor bapak itu, dan lantas dia pun segera memberikan kunci motor tersebut itu kepada beliau.
"Alhamdulillah, ini kunci motor bapak bukan? saya tadi menemukannya di bawah pohon itu," ucap Rere sembari memberikan kunci motor itu kepada beliau.
"Alhamdulillah, makasih ya, Neng, ini ada sedikit rezeki buat kamu beli makan," ucap bapak itu sembari memberikan sejumlah uang kepada Rere.
"Engga usah Pak, saya ikhlas kok, lagian niat saya hanya ingin membantu bapak, dan saya sama sekali engga mengharapkan upah sedikit pun dari bapak."
Alangkah terkharunya bapak itu ketika mana Rere menolak sejumlah uang yang akan beliau berikan kepadanya, dan lantas bapak itu tak langsung pergi meninggalkannya, dikarenakan dia merasa sangat tidak enak hati bilamana dia meninggalkan Rere begitu saja di sana sendirian.
Dengan seketika Sultan pun datang, yang di mana Sultan pun lalu mempercepat langkah kakinya itu karena dia merasa ada sesuatu hal yang telah terjadi kepada wanitanya itu, namun itu hanyalah sebuah firasat Sultan saja, dan tentunya dia pun tak ingin bersalah sangka terlebih dahulu sebelum dialah yang akan memastikannya sendiri.
"Asalamu'alaikum, ada apa ini Re?" ucap Sultan yang langsung menatap wajah kekasihnya itu.
"Wa'alaikum Salam, engga ada apa-apa kok, Kang, tadi pacar akang udah nolongin bapak buat bantu nyariin kunci motor bapak yang hilang," ucap bapak itu yang langsung memberikan sejumlah uang kepadanya.
Namun, tentu saja Sultan pun menolak pemberian beliau, dikarenakan uang itu bukan hak miliknya, melainkan uang itu adalah hak milik Rere sepenuhnya, entah dia akan menerimanya, entah dia akan menolaknya dan Sultan pun tak mau mempermasalahkannya.
"Engga Pak, engga usah, lagian uang ini bukan hak milik saya, kalaupun Rere engga mau menerimannya, bapak bisa menyimpannya, ataupun memasukan uang itu ke dalam kotak amal yang ada di mesjid saja, biar nanti kita sama-sama mendapatkan amal ibadahnya," ucap Sultan dengan rendah hati, yang di mana bapak itu dibuat takluk oleh kelembutan hati mereka berdua di sana.
"Saya jarang menemukan pasangan muda yang jujur, yang berwibawa, yang sopan seperti kalian di sini, dan bilamana kalian butuh sesuatu, kalian bisa hubungi saya, dan ini kartu nama saya," ucap bapak itu sembari berpamitan pergi kepada Sultan dan Rere.
__ADS_1
Kebaikan hati Rere, mungkin takan pernah sama dengan apa yang sekarang Sultan miliki, dan bahkan Rere adalah wanita yang lebih baik hatinya bilamana dibandingkan dengan Sultan, kekasihnya.