
"Pik, buruan bego! ngumpet aja ngumpet," ucap Iman dengan nada suara paniknya.
"Lagian kenapa bukan lu aja yang ngendarain motornya bego! udah tahu gue baru lancar bawa motor," ucap Taufik sama paniknya dengan Iman.
Kebetulan di tempat tersebut banyak sekali semak-semak belukar, mereka berdua pun lalu masuk ke dalam semak-semak itu untuk menunggu Sultan.
Untung saja yang mengejar Taufik dan Iman ada jauh di belakangnya, mereka tertinggal karena Iman sempat menendang salah satu motor pengejar hingga terjatuh ke bawah jalan bebatuan.
Sultan telah tiba di lokasi yang telah ditentukan oleh Iman, di mana lagi kalau bukan di Bumi Perkemahan. Sebenarnya Sultan merasa sangat malas menghadapi permasalahan yang seperti ini, tapi Iman membuat posisi Sultan menjadi semakin terpojok saja, antara dia harus memilih untuk meninggalkannya ataupun menolongnya.
Yang jelas di sana Sultan pasti akan memilih untuk menolong Iman bersama dengan Taufik, walaupun pada dasarnya Sultan merasa berat hati karena masalah Iman yang sekarang pasti akan menjadi masalahnya juga.
Sultan melihat ke sisi mana pun, tapi dia tak melihat jejak Iman dan Taufik di sana. Hingga pada saat ia akan pergi meninggalkan tempat itu, dengan seketika Sultan mendengar ada seseorang yang memangil namanya.
Bukan hanya suara itu saja, melainkan Sultan menerima lemparan batu juga, ia berusaha tampil percaya diri bahwa itu adalah ulah Iman.
"Sutt, Tan, gue di sini," sahut Iman sembari melemparkan batu kecil ke arah Sultan.
"Kayak ada yang manggil nama gue, aduh! woii sakit lah! siapa lu! cepat ke luar!" teriak Sultan memanggil sosok yang telah melempar batu kecil tepat mengenai punggungnya.
Iman dan Taufik malah tertawa, mereka sama sekali tak mau menunjukan wajahnya sebelum Sultan yang menyadarinya lebih dulu.
Sultan mengambil batu tersebut dan lalu melemparkannya ke arah semak-semak yang di dalamnya ada Iman dan Taufik.
Satu buah batu tepat mengenai kepala Iman, dan lalu setelah itu batu tersebut memantul ke arah kepala Taufik.
Mereka berdua akhirnya bergumam juga pada saat lemparan batu tersebut mengenai tepat ke arah kepala mereka berdua.
__ADS_1
"Ampun Tan, ini gue Iman, gue ada di dalam semak-semak ini soalnya kita takut ketahuan sama orang-orang yang ngejar gue tadi," ucap Iman sembari mengelus-elus kepala yang tadi terkena lemparan batu dari Sultan itu.
Sultan menyuruh Iman dan Taufik untuk tetap diam di dalam sana, dikarenakan ia mendengar raungan suara motor yang entah itu siapa, tapi ia mengira suara raungan tersebut berasal dari orang-orang yang mengejar Iman dan Taufik.
"Diam di sana, kayaknya orang-orang yang ngejar kalian berdua ada di sini," sahut Sultan.
Ternyata memang benar, orang-orang itu adalah orang yang mengejar Iman dan Taufik. Mereka sempat menanyakan apakah Sultan melihat dua orang pria yang menggunakan motor mio berwarna merah melintas ke jalan ini.
Sultan mengangguk, ia sempat memberitahukan kepada mereka semua bahwa dirinya sempat melihat sosok yang mereka bicarakan kepadanya.
"Kang, saya mau nanya, akang melihat dua orang pria yang menggunakan motor mio berwarna merah melintas di jalan ini kagak?" tanya mereka dengan nada suara yang agak tinggi.
"Saya sempat melihat mereka, tapi itu hanya sesaat saja dan engga lama. Mereka semua orang gila! mereka lari pada saat motor saya disenggol sama mereka," ucap Sultan berbohong.
"Ke mana mereka sekarang kang?".
....
Pantas saja kenapa Iman dan Taufik bersembunyi di dalam semak-semak tersebut, dikarenakan yang mengejar mereka berdua sekiranya ada lima motoran dengan dua orang yang duduk di atas motornya itu semua.
Dua orang yang ia maksud itu adalah satu orang yang mengendarai motornya, dan satu orang yang duduk di atas jok belakang motor tersebut.
Pada saat situasi telah aman terkendali, tak lama setelah itu Iman dan Taufik baru bisa ke luar dari dalam semak-semak. Mereka merasa lega karena telah lolos dari kejaran para anak-anak nakal tersebut.
"Gila lu Men! lain kali jangan bawa-bawa gue masuk ke dalam masalah elu lah, lagian lu kayak engga ada cewe lain aja selain dia," ucap Sultan dengan nada suara tingginya.
"Maaf Tan, abisnya mereka sepuluh orang, kalau ada lima orang udah abis mereka semua," ucap Iman dengan nada suara yang masih sedikit panik.
__ADS_1
"Tahu nih si Iman bolot! gue juga dibawa-bawa," ucap Taufik sembari memegang perutnya.
"Yaudah, kita ke kosan sekarang, semoga mereka semua udah jauh dari sini," ucap Sultan mengajak Iman dan Taufik untuk pergi dari sana.
Suara motor mereka telah dinyalakan. Sultan melajukan motor tuanya tepat di belakang Iman dan Taufik, ia melakukan semua itu demi melindungi mereka semua dari masalah, namun kini masalah itu sekarang menjadi masalah Sultan juga.
Semua orang yang berada di dalam kosan telah lama menunggu kehadiran Sultan. Mereka ternyata sudah mempersiapkan semuanya, dari makanan, rokok, sampai minuman juga mereka sediakan untuk Sultan.
Tapi sayangnya pertemuan ini takan bertahan lama, dikarenakan besok mereka semua sudah harus meninggalkan Kota kecilnya ini kembali.
Sementara adik kelas dan kakak kelasnya akan tetap tinggal di Kota Sukabumi, alasannya karena kakak kelasnya sudah melaksanakan tugas prakerinya, dan sementara adik kelasnya harus melaksanakan ujiannya di sekolah.
"Widih, orang jauh udah sampai nih," ucap Bang Aziz menyambut Sultan dengan hangatnya.
"Baru satu Minggu kenapa gue udah kangen aja dah sama pertemuan ini," ucap Sultan sembari bersalaman dengan adik kelasnya dan juga kakak kelasnya.
Bang Aziz sempat bertanya, kenapa Iman bisa bersama dengan Sultan, namun Iman tak mau menjawabnya karena mereka semua pasti akan meledeknya di sana.
"Apaan Bang, mereka berdua tadi lagi dikejar-kejar sama sepuluh orang di jalan Bumi Perkemahan," ucap Sultan dengan seketika membuat semua orang tertawa di dalam sana.
Sultan belum puas meledek Iman, dan lantas ia pun memperjelas masalah Iman kepada mereka semua tanpa merekayasanya.
"Cuma masalah cewe Iman dikejar-kejar sama mereka Bang, kayak engga ada cewe cantik yang lain aja di sini," ucap Sultan membuat Iman masuk ke dalam toilet kosan.
Ucapan Sultan membuat Iman malu, tapi tidak dengan semua teman-temannya di sana. Mereka malah suka mendengarkan hal ini, dan terlebih mereka semua pun tengah kebingungan akan membahas masalah apa lagi sebelum mereka sibuk dengan urusannya sendiri.
"Ngapain lu di dalam toilet Man? mendingan lu ikut ngobrol sama kita di sini," ucap Bang Azis sembari tertawa lepas melihat tingkah laku Iman di sana.
__ADS_1