Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 175 : Kemiripan


__ADS_3

"Jangan ngarepin yang aneh-aneh dong Re! emangnya elu mau gue seperti itu? gue engga yakin elu bakalan suka melihatnya," ucap Sultan sekaligus menanyakan apakah Rere akan siap mengahadapi ego Sultan nanti.


"Gue kan cuma mau mastiin aja Tan, lagian gue engga akan pernah mau melihat sikapmu yang seperti itu nantinya," ucap Rere dengan tatapan manisnya.


Rere menatap raut wajah Sultan, namun itu hanya seketika saja, dan lalu setelah itu Rere pun kembali menyandarkan kepalanya di bahu Sultan.


Mereka tak hanya berdiam diri di tempat itu saja, Sultan pun lalu mengajak Rere untuk berjalan lebih atas lagi, mungkin Sultan akan mengajak Rere ke lapangan tenis yang sudah lama tak digunakan lagi.


"Re, ikut gue yu, kita jalan ke atas lagi, di sana lebih segar udaranya," ucap Sultan membuat Rere penasaran, sesudah ini ia akan mengajak dia ke mana lagi.


"Mau ke mana lagi sih Tan?" tanya Rere dengan ditatapnya raut wajah Sultan.


"Ke lapangan tenis Re, tempat itu mungkin lebih enak disinggahi, dan mungkin juga elu bakalan mengabadikan momennya di sana."


"Gue baru tahu Tan, di sini ada lapangan tenis."


"Udah lama ada kali Re, makanya lu harus sering jalan-jalan sama gue."


"Elu sih Tan, jarang banget ngajak gue pergi main, makanya nanti-nanti lu harus sering ngajak gue pergi ke tempat yang belum pernah gue kunjungi di sini oke."


Rere membalikan ucapan Sultan sembari pergi meninggalkan tempat itu. Disepanjang jalan mereka tak terlepas dari apa yang namanya berbincang.


Rere memeluk tangan Sultan sembari menyandarkan kepalanya dengan manis dibahu Sultan. Nampaknya kali ini Rere merasa nyaman dengan tingkah laku Sultan, dikarenakan prianya belum menunjukan sikap menyebalkannya itu kepada dia.


Rere tercengang, ternyata di tempat tersembunyi ini terdapat banyak sekali panorama alam yang sangat indah untuk dipandang oleh matanya sendiri.


Rere memberikan ponsel miliknya kepada Sultan agar Sultan kembali mempotret dirinya di sana. Dia tak langsung memberitahukan pola sandi ponsel miliknya itu, dan terlebih Rere mengira dia sudah pernah memberitahukan pola gambar ponsel miliknya kepada Sultan.


Pola gambar di dalam ponsel miliknya itu berupakan gambar pola yang berinisialkan huruf depan nama Sultan, sama seperti hal nya dengan Sultan juga, yang di mana ia pun memasukan pola gambar di dalam ponselnya dengan menggunakan hurup depan dari naman Rere.

__ADS_1


"Nih Tan, tolong fotoin seluruh badan gue sebagus mungkin oke, nanti kita foto berdua," ucap Rere yang langsung saja memberikan ponselnya kepada Sultan.


"Pola gambarnya apa bolot?" ucap Sultan berpura-pura tidak mengetahui pola gambar sandi ponsel milik wanitanya.


"Hurup depan lu Tan, bukannya gue udah pernah ngasih tahu lu ya."


"Siapa tahu lu udah ganti pola sandinya Re."


"Selama lu masih jadi pacar gue, gue engga akan pernah mengubah pola sandinya itu Tan."


"Bisa aja lu karung goni."


Rere sempat tertawa, rasanya Rere pun ingin membalas candaan Sultan itu, tapi bilamana dia membalasnya, maka sampai kapan pun Sultan takan pernah mempotret raut wajahnya.


Beberapa jempretan foto telah Sultan ambil, dan sekarang tinggal raut wajah Sultan yang belum terfoto oleh ponsel milik Rere.


Sultan memang bukan tipe cowok yang sama seperti Rere, bahkan paksaan dari dia pun sering Sultan abaikan begitu saja.


Sultan sering kali menolak ajakan dari Rere untuk berfoto bersama dengan dirinya, tapi sebenarnya Sultan pun sangat ingin memiliki foto berdua bersama dengan Rere, namun rasa ketidak percayaan di dalam dirinya itu sering kali muncul, padahal dia sangat suka mengingatkan Rere untuk tampil lebih percaya diri, tapi sekarang dia sendiri yang malah melupakan ucapannya itu.


"Sekarang giliran kamu Tan, cepat berdiri di tempat gue tadi," perintah Rere yang membuat Sultan mengabaikan mentah-mentah kemauannya itu di sana.


"Kagak ah Re, gue malu! lagian gue sering datang ke sini, malahan foto gue udah terlalu banyak Re," alasan Sultan yang membuat Rere tetap memaksa dirinya untuk menuriti apa ucapannya itu.


"Jangan sampai gue mengungkit kata-kata yang sering elu berikan kepada gue Tan."


Baru saja Rere berucap kata seperti itu kepadanya, Sultan sudah mengetahui semua arti dari ucapannya tersebut itu adalah apa.


Sultan menghela napas panjang sembari sesekali mengernyitkan dahinya yang penuh akan rasa terpaksanya itu.

__ADS_1


Sultan memang merasa sangat terpaksa, namun itu adalah kemauan Rere yang mungkin harus dia terimai sebelum dia memarahi dirinya sendiri.


"Dikit-dikit ngambek! elu ini ya, Re, yaudah kita difoto berdua aja oke," ajak Sultan membuat Rere menyetujui ucapannya itu.


Sultan pun lalu menyimpan ponsel Rere di atas lapangan tenis tersebut, ia menambahkan timer kurang lebih sekitar 5 detikan saja agar mereka bisa berpose semau yang mereka inginkan di sana.


Foto itu diambil tanpa konsep apa pun, tapi hasilnya sungguh memuaskan hati mereka berdua, dan bahkan Rere pun langsung mengirimkan foto itu kepada Sultan agar dia mengeditkan beberapa pencahayaan di dalam foto itu supaya lebih bagus untuk dipandanginya lagi.


"Buat apa malu sih Tan, lagian kalau dipikir-pikir ya, wajah lu engga seburuk yang gue kira," ucap Rere sembari melihat hasil potretan dikamera ponsel miliknya itu.


"Waktu lu bilang buruk, rasanya hati gue merasakan perihnya seperti ditusuk sama jarum ya," canda Sultan yang membuat Rere tertawa.


"Ihh ... maafin gue Tan, maksud gue bukan gitu, tolong jangan salah paham dengan ucapan gue yang tadi itu ya, Be."


Tanpa perintah Rere pun lalu memeluk erat tangan Sultan, itu semua dia lakukan atas dasar kemauannya sendiri selagius dia pun ingin meminta maaf kepada prianya juga.


Rere memang tak berniat untuk mengejek Sultan, dan Sultan pun sama seperti Rere, yang di mana ia pun sama sekali tak menganggap ucapannya itu adalah keseriusannya.


"Gue bercanda Re, lagipula kalau lu bilang seperti itu, maka itu sama saja dengan elu mengejek diri lu sendiri," ucapan Sultan membuat Rere berpikir, apa maksud dari ucapannya itu.


"Maksud kamu apa Tan?" tanya Rere dibayangi oleh arwah penasarannya.


"Coba lihat dah foto kita berdua ini Re, bibirmu, matamu, alismu, bahkan pipimu juga sangat mirip dengan gue, hanya saja hidung gue lebih kayak tusukan cilok, beda dengan hidungmu," ucap Sultan yang membuat Rere sadar, ternyata raut wajah mereka benar-benar sangat mirip sekali.


"Iya Tan, hidungmu lebih panjang kayak pinokio, tapi tetap aja wajah gue lebih imut."


"Makasih Re."


Rere tertawa dengan ucapan Sultan, dikarenakan bila dia memuji dirinya sendiri, maka dari itu dia pun sedang memuji diri Sultan juga.

__ADS_1


Kenapa bisa? karena wajah mereka berdua memang mirip, bahkan kata dari mirip itu kurang tepat, dan lebih tepatnya sangat mirip.


Orang-orang sering sekali keliru dengan raut wajah mereka berdua, sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya sering menganggap mereka adalah dua pasangan kakak beradik.


__ADS_2