Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 424 : Imut


__ADS_3

"Siapa ... siapa aku? aku hanyalah malam, dan julukanku adalah kelam, sunyi, sepi, dan rindu. Julukanku hanya menandakan ketidak adilan rasa! yang di mana rasa itu adalah gundah, gundahku tanpa dirimu, kekasih hatiku," ucap Sultan dalam hati sembari meratapi air hujan, yang di mana air hujan itu sedang mengguyuri atap genting rumahnya tersebut, di malam hari yang sungguh sunyi itu.


Pria itu duduk terdiam, mencemaskan hari esok yang akan datang, apakah akan seperti apa lagi, dan apakah hujan ini akan datang mengguyuri kota kecilnya itu lagi di sana.


Kursi yang berada di depan teras rumahnya itu, kini menemaninya di sana kembali. Ia bersandar lemas tanpa berkutik sedikit pun karena hujan itu sama sekali tak mau mengalah! hingga pagi pun datang, dan hujan itu masih tetap utuh mempertahankan perintah Tuhannya.


Ia lantas tertidur, menemani mimpi Rere di alam sana. Ia tertidur lelap karena 1 minggu itu cukup membuat dirinya tak bisa menghirup nafasnya lebih panjang lagi.


Ia berucap doa pada malam itu, ketika mana ia akan pergi tertidur, untuk meyusul wanitanya di sana. Malam itu, seorang wanita datang mengampirinya, untuk menyuruhnya agar ia tetap menemani dirinya di alam mimpi tersebut.


"Haii, temani aku hingga Tuhanmu menyuruhmu untuk terbangun di pagi hari nanti," ucap wanita dalam mimpinya itu.


"Apakah kamu Rere?" tanya Sultan kepada wanita itu, di dalam mimpinya tersebut.


"Reremu hanya ada satu, yaitu hanya ada di dunia nyata, aku di sini hanya sebagai pemeran simpangan saja, yang bilamana dibutuhkan, aku selalu siap untuk datang," masih ucap wanita itu di dalam mimpi Sultan.


"Sampaikan rinduku ini padanya, bahwa aku esok akan datang menemuinya di sana," ucap Sultan dalam mimpinya, dan sehingga perbincangannya itu membuat dirinya terbangun dari alam mimpinya tersebut.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar," suara azan salat subuh telah dikumandangkan.


Dengan seketika, Sultan pun membuka matanya. Dan di sana ia pun mencuci mukanya terlebih dahulu, dan setelah itu ia pun lalu mengambil air wudunya itu, sebelum ia pergi masuk ke dalam mesjid tersebut.


Ia beribadah dengan khusyuknya di sana, dan setelah salat subuh pun selesai, ia pun lalu berdoa dengan tertib, tanpa tergesa-gesa di dalam mesjid sana.


Setelah kepulangannya dari mesjid sana, ia pun lalu mengecek handphonenya itu, apakah Rere sudah meneleponnya, disaat ia sedang melaksanakan ibadahnya tersebut di dalam mesjid sana.


Satu patah, dua patah kata pun tak kunjung Rere berikan kepadanya pada pagi hari itu, wanita itu pun tak menelepon Sultan seperti biasanya. Sultan pun lalu menaruh handphonenya kembali, dan lantas ia pun pergi ke depan teras rumahnya sembari membawa segelas susu hangat yang ia buat tadi di dapur rumahnya tersebut.

__ADS_1


Sultan pun kembali duduk di kursi itu, sembari merasakan suara air hujan yang jatuh begitu derasnya mengguyuri atap genting rumahnya tersebut di sana.


Jam 6 pagi, hujan itu baru mulai meredah, dan lantas Sultan pun lalu kembali masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap-siap pergi menyapa Rere kembali di sana.


"Aihh ... tadi itu gue mandi pakai air kulkas, apa pakai air biasa ya, perasaan dinginnya udah kayak mandi di air puncak aja," ucap Sultan pagi hari itu.


Dengan kaki yang masih terpincang-pincang pun, ia masih sempat-sempatnya ingin mengunjungi Rere di sana. Entah apa yang ada di dalam pikirannya pada hari itu, namun ia di sana nampak seperti orang sehat biasanya.


....


Grung, grung, grung ... suara motor tua telah dinyalakan.


Ia nampak bersemangat pada hari itu, dan entah apa yang akan Rere lakukan terhadapnya karena ia datang menghampirinya di sana, tanpa sedikit pun Sultan mengabari Rere terlebih dahulu.


Dengan perlahan ia menjalankan motornya itu kembali, dan ditatap lah kembali jalan-jalan yang di mana ia pernah lalui bersama dengan Rere di sana. Sultan melihat bahwa jalan yang pernah ia lalui bersama dengan Rere itu, masih sama saja, tak ada yang berubah sedikit pun, melainkan hanya menyisakan sedikit goresan bekas dirinya terjatuh pada waktu itu di sana.


Tak lama setelah itu, ia pun telah tiba di tempat yang di mana bidadarinya itu singgah di sana. Ucap salam pun kembali ia berikan dengan manis kepada orang rumah.


"Asalamu'alaikum," ucap Sultan dengan manis.


Rere pun di sana sempat terkejut! ketika mana ia mendengar suara Sultan di depan rumahnya tersebut. Sontak Rere pun ingin memastikannya, apakah Sultan benar-benar datang menghampirinya hari itu.


"Iya Wa'alaikum Salam, tunggu sebentar," ucap Rere.


Alangkah terkejutnya Rere, ketika mana ia melihat Sultan sungguh-sungguh menghampirinya di sana, ketika mana ia tak memberi kabar kepada dirinya karena kuota internet yang Rere miliki itu sudah habis.


"Jeng-jeng, mamahmu ke mana Re? biasanya yang selalu bukain pintu rumah itu mamah kamu?".

__ADS_1


"Astaghfirullah, Sultan? kok, elu engga ngabarin gue dulu sih! kalau elu mau ke sini," ucap Rere sambil menampar pelan wajah Sultan.


"Malah nampar lagi! bukannya peluk, atau apa kek."


"Masuk dulu Tan, biar aku buatin kamu minum."


"Mamahku lagi ke depan sebentar Tan, entah mau kemana? gue juga engga tahu," ucap Rere sembari mengantarkan Sultan masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya itu.


Rere pun pergi kembali ke dapur rumahnya untuk membuatkan Sultan minum terlebih dahulu. Dan tak lama setelah itu, ibu Rere pun datang, dengan membawa banyak belajaan untuk ia masak nantinya di sana.


"Ehh, ada tamu," ucap ibu Rere yang sehingga membuat Sultan terbangun dari tempat duduknya itu.


"Ehh, mamah. Asalamu'alaikum Mah, mamah sehat?" ucap Sultan sembari mengecup tangan ibu Rere dengan manis.


"Alhamdulillah Tan, mamah sehat. Sultan sendiri gimana? sehat kan di sana?".


"Alhamdulillah Mah, Sultan sehat."


"Yaudah, mamah mau ke belakang dulu, mau nyimpen belanjaan mamah di dapur. Sultan mau dibuatin apa sama mamah?".


Rere pun dengan seketika datang menghampiri mereka berdua, ia pun dengan manisnya menaruh minuman itu di hadapan wajah Sultan bersama dengan ibunya di sana.


"Udah Mah, kalau mau buatin Sultan minum udah keduluan sama Rere, hmm," ucap Rere memotong pembicaraan mereka.


Ibu Rere pun lalu meninggalkan mereka berdua, namun tak lama setelah itu juga, Rere pun ikut meninggalkan Sultan di sana karena ia ingin meminta izin kepadanya untuk mandi terlebih dahulu, sebelum Sultan mengajaknya pergi main ke luar rumah.


Sultan kembali menunggu sembari melihat-lihat album foto ketika mana Rere masih kecil, ia pun tertawa ketika melihat wajah Rere tak jauh berbeda dengan dirinya yang sudah bertumbuh dewasa itu.

__ADS_1


__ADS_2