Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 150 : Membalikan kata


__ADS_3

Sesampainya Sultan di kosan, ia pun duduk di depan teras sembari menikmati minuman segar yang sebelumnya ia beli dari warung langganannya di sana.


Ia baru sadar, bahwa dirinya harus menjawab pertanyaan dari Rere sebelum dia memarahinya, apalagi dia itu tipe wanita yang mudah marah, bukan melainkan mudah tersenyum.


Bilamana Sultan ingin melihat Rere tersenyum, maka dia harus siap mengeluarkan kata-kata manisnya untuk diucapkan kepadanya.


"Menyebalkan itu entah sifat atau sikap, tapi yang jelas kamu jangan menyamakan hal tersebut ya, soalnya itu engga baik untukmu," Sultan menelan ludah, ia terdiam sesaat ketika dirinya melontarkan ucapan tersebut kepada Rere.


Sultan kembali berbicara dalam hatinya, ia merasa mungkin sebaiknya Rere terus bersikap seperti ini saja kepadanya, apalagi sekarang dia pun masih sering, dan bahkan bisa dibilang sangat suka membuat dirinya bimbang akan sifatnya yang sering berubah-rubah dengan sendirinya, contohnya adalah memarahinya tanpa ada sebab yang jelas.


Beda hal nya dengan Sultan, yang di mana dia hanya akan merubah sifat menyebalkannya itu menjadi manis dengan sendirinya.


"Kamu takut kan Tan! tapi tenang aja, soalnya gue engga akan bersikap lebih menyebalkan melebihi dirimu itu di sana, dikarenakan gue bukan tipe wanita yang sering kali menutup teleponnya dengan seketika cepatnya seperti dirimu."


Rere hanya berniat meledek Sultan saja, lagi pula dia memang pria yang seperti itu, dan mungkin ucapan tersebut bisa dibilang sebagai tegasan agar supaya Sultan tak terlalu bersikap menyebalkan terhadap dirinya, apalagi disaat dia tengah benar-benar merindukan sosok sepertinya.


"Kamu lagi rindu gue kan Re? tapi tenang aja, soalnya gue engga akan membuat rindumu itu menjadi membelenggu, dikarenakan gue bukan tipe cowok yang sering kali membuat wanitanya terdiam merasa bosan," Sultan membalikan ucapan wanitanya dengan sangat jelas, bahkan suaranya pun tak terdengar ragu.


"Masa penulis menjiplak kata-kata pembacanya sendiri sih Tan! engga kreatif elu mah ah bego! palingan sekarang elu lagi kebingungan kan harus ngomong apalagi sama gue di sini?" tanya Rere yang tak menyadari seberapa sanggup pria itu membuat dirinya tersebut tersenyum tak berketepian.


"Menurut gue apa pun bisa dijadikan bahan perbincangan Re, bukannya karena gue kehabisan kata-kata gue sendiri, melainkan kamu sanggup engga mendengarkannya nanti?" tanya Sultan membalikan ucapan Rere kembali.


Rere tercengang, dia pun mulai terdiam tanpa suara, mungkin kali ini dialah yang akan kehabisan kata-katanya itu. Sultan pun tak lebih sama seperti wanitanya, dia menunggu Rere memberikan pertanyaan kepadanya terlebih dahulu.

__ADS_1


Namun, mereka sama-sama terdiam, tapi Sultan takan membuat pembahasan itu menjadi bosan untuk didengarkan, sejujurnya ia memliki cukup banyak kata-kata yang akan dirinya berikan, ataupun akan dia ucapkan kepada Rere.


Sultan mulai membuka mulutnya, dikarenakan sebentar lagi waktu azan salat magrib pun akan segera dikumandangkan.


Maka dari itu, secepat mungkin Sultan harus bisa mengembalikan dan juga melihat senyuman diraut wajah wanitanya itu kembali.


"Bentar lagi kan magrib nih Re, lebih baik kamu mengembalikan lagi raut wajah cantikmu itu dengan cara berwudu," seperti biasa Sultan menjeda ucapannya itu dengan sesaat, bahkan dia memperlihatkan raut wajahnya ketika mana dirinya sedang mengambil napas panjangnya.


"Engga ada salahnya ini kan kamu mengambil air wudu lebih awal, soalnya sayang Re, bila wanita secantik kamu ini menghilangkan rutinitas wajib seperti itu, tapi jujur ya, Re, wajahmu akan lebih bersinar dan akan terlihat lebih cantik bilamana aku melihat raut wajahmu basah terkena basuhan dari air wudu tersebut itu."


....


Ucapan yang ia berikan kepada Rere, mungkin terdengar agak sedikit sulit untuk dipahami, tapi bilamana wanitanya itu mencerna ucapannya dengan sangat baik, mungkin dia pasti akan langsung memahami ucapannya itu.


Sejujurnya Sultan ingin menceritakan apa yang sedang Rere cemaskan di sana, tapi ini bukan waktu yang tepat untuknya, dikarenakan Sultan tahu seberapa lelah Rere melaksanakan aktifitasnya itu di sana.


Sultan hanya ingin memahami posisi Rere sekarang, dan bilamana ia menceritakan semua sebabnya, mungkin Sultan akan menumbangkan semangat dari wanitanya itu.


Walaupun Rere bukan tipe wanita yang mudah termakan rasa cemburu, tapi ini sudah menjadi prinsip dihidupnya tersendiri, yang di mana ia akan tetap menceritakan semua tingkah lakunya di sana kepada Rere, kekasihnya itu.


Rere kembali menghubungi Sultan kurang lebih pada pukul 08:00 malam. Tentunya setelah mereka melaksanakan tanggung jawabnya itu masing-masing di sana.


"Assalamu'alaikum Tanbo," salam Rere dengan manisnya memberikan nama panggilan baru untuk siapa lagi kalau bukan Sultan.

__ADS_1


"Apaan itu Tanbo Re? gue belum pernah denger sebelumnya, ini pertama kalinya gue mendengarkan nama panggilan misterius itu," tanya Sultan sembari tertawa tipis kepada Rere.


"Sebelumnya gue boleh kagak manggil elu dengan sebutan nama seperti itu?".


"Ribet amat dah hidup elu Re! padahal tinggal bilang aja apa susahnya sih."


"Tan bolot!" Rere tertawa setelah ia menyebutkan nama panggilan baru untuk Sultan itu.


"Ketawa lagi lu! engga ada bagus-bagusnya sumpah, lagian elu kenapa dah Re, perasaan dari tadi gue perhatiin kayaknya elu lagi seneng dah."


Hari ini entah kenapa Rere nampak sangat bergairah sekali, suara tertawanya itu pun terdengar begitu sangat lepas pada saat ia mendengarkannya.


Sultan merasa bahwa Rere tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Atau jangan-jangan karena sebab Sultan berbicara kepada Rere, bahwa ia takan lama lagi akan segera pulang ke Sukabumi.


Pertanyaan dari Sultan pun masih belum dia jawab, mungkin memang benar apa kata Sultan, Rere memang sengaja menyembunyikan hal ini darinya, dikarenakan dia malu untuk mengungkapkannya.


"Andai saja kamu tahu Tan, kenapa gue sesenang ini sekarang, dikarenakan beberapa hari lagi elu akan segera pulang, walaupun hanya sesaat dan takan lama, mungkin itu sudah bisa mengobati rasa rinduku padamu ini Tan," ucap Rere dalam hati sembari tersenyum tanpa Sultan sadari.


Ucapan Sultan memang selalu tepat, apa pun yang sekarang tengah ia pikirkan itu, ia pasti akan dengan mudahnya menebak isi dalam pikiran Rere.


"Jangan-jangan kamu lagi senang karena satu hari lagi gue akan pulang ke sana ya? tapi maaf, gue engga bisa menemuimu nanti, soalnya Minggu nanti gue udah harus berangkat lagi Re," ia memulaikan permainannya, yang di mana ia hanya ingin memastikan lebih dalam lagi, apakah benar sekarang dia tengah merindukan sosok dirinya.


Raut wajah Rere mungkin sudah mulai berubah, namun sayangnya Sultan tak dapat melihatnya secara langsung, tapi bilamana dia mendengarkan suaranya itu dengan jelas, mungkin suara akan terdengar sedikit agak merendah.

__ADS_1


__ADS_2