Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 396 : Seperti apa menemani rindu itu


__ADS_3

"Temani ... temanilah aku, meski rindu ini terus-menerus membelengu bagaikan malam kelabu. Hari akan barlalu dan hari akan berlabuh kembali ke tempatnya, dan maka dari itu, peluklah aku, meskipun kita akan dibuat sepi kembali oleh waktu yang telah ditetapkan ini," ucap Sultan dalam hati sembari melirik Rere di lapangan upacara itu.


Semua siswa dan juga para guru-guru kembali berkumpul di lapangan upacara sekolah, setelah mana mereka mengganti semua pakaiannya dengan atribut lengkap, untuk melaksanakan upacara penutupan Pembaretan bersama-sama di lapangan sekolah tercinta itu.


Seluruh siswa berdiri tegak dengan rapi, sembari mendengarkan satu patah, dua patah kata, yang akan disampaikan langsung oleh kepala sekolah SMK Negri 4, berikut juga pesan terakhir yang akan disampaikan oleh para anggota TNI di dalam sekolah tersebut.


Tak lama kemudian upacara pun selesai, namun waktu itu seluruh siswa belum diperbolehkan untuk pulang karena akan ada lencana penghargaan yang akan diberikan oleh ibu Yeli kepada siswa baru paling terfavorit, serta penghargaan pembimbing kelompok paling terfavorit juga.


Penghargaan yang akan diberikan itu berupa piala, piagam, dan juga pin baju, walaupun sesederhana itu, namun yang mereka lihat bukanlah harga, melainkan usaha dan perjuangannya yang harus mereka banggakan itu di sana.


Ibu Yeli pun lalu berdiri dipanggung lapangan sekolah, dan siapa sangka! di sana lah nama Sultan dan Rere yang disebut-sebut sebagai pembimbing terfavorit diangkatannya itu.


"Engga usah berlama-lama ya, karena ibu engga suka bertele-tele orangnya. Dan langsung saja ibu panggilkan pemenang penghargaan pembimbing dan juga kelompok terfavorit jatuh kepada kelompok Sultan dan Rere," ucap ibu Yeli waktu itu.


Sorak suara tepuk tangan pun diberikan kepada mereka dengan sangat meriah. Sultan, Rere, dan juga kelompoknya itu, kemudian menghampiri ibu Yeli bersama-sama di atas panggung tersebut.


"Silahkan untuk para pemenang penghargaan maju ke depan, dan juga berikan lah satu patah dua patah kata yang akan kalian ucapkan di sini ya, oleh salah satu saja, biar engga terlalu lama karena ibu pengen cepet pulang, udah terlanjur lelah ini ya, pengen tidur di kasur," ucap ibu Yeli kembali di atas panggung sana.


"Sebelumnya saya ingin berterimakasih kepada ibu Yeli, guru yang sangat saya cintai ini karena sudah membiarkan saya berbicara di depan sini, kepada rekan-rekan dan juga seluruh siswa yang berada di dalam sekolah kita yang tercinta ini."


"Bohong-bohong," ucap seluruh rekannya waktu itu, yang seketika memotong pembicaraannya sembari tertawa di hadapanya langsung.


"Ya, memang rekan-rekan saya ini pada gila semuanya, sehingga mereka ingin mengadu dombakan saya dengan ibu Yeli di sini. Dan jadi, untuk adik-adik sekalian, jangan dituruti contoh yang tidak baik ini ya, karena kalian akan terjerumus, serta menjadi ketagihan nantinya ya," ucap Sultan yang seketika membuat guru dan juga para siswa tertawa di sana.


"Oke, terimakasih Sultan, karena kamu sudah memberikan waktunya kepada kita semua di sini ya," ucap ibu Yeli yang memotong pembicaraan Sultan.

__ADS_1


"Belum Bu! belum beres Sultan ngomongnya ini."


Dan dengan seketika, semua orang pun tertawa kembali dengan lepasnya melihat tingkah laku Sultan yang sangat menggemaskan itu di atas panggung sekolah sana.


Rere pun bersama dengan kelompoknya di sana tak kuasa menahan gelagak tawa, ketika mana mereka berdiri di belakannya waktu itu di atas panggung sekolahnya tersebut.


Sultan pun lalu kembali berbicara, setelah mana suasana mulai normal kembali, tanpa adanya suara sedikit pun yang berbunyi lagi di lapangan sekolah sana.


"Perjuangan hidup takan pernah bisa terbayar oleh kata-kata dan ucapan saja, melainkan buktikan lah ... buktikan lah bahwa kamu bisa menggapai mimpi itu dengan caramu sendiri."


"Kita tak perlu takut untuk berusaha! karena kita di sini saling merangkul, saling mendukung, dan saling memikul. Maka tak heran! semua usaha akan terasa lebih mudah, bilamana kita bersusah payah bersama-sama di sini, di kota ini, dan di negri kita yang tercinta ini."


"Pesan saya hanya satu untuk adik-adik kelas sekalian, bahwa baret yang sedang kalian kenakan itu adalah titik di mana harga diri kalian itu berada, dan itu adalah semboyan kebersamaan kalian, yang di mana kalian juga harus mengharumkan nama baik sekolah kita yang tercinta ini di sini," ucap Sultan panjang lebar, dan sehingga membuat semua orang terdiam dan hanya bisa berbicara lewat suara tepukan tangan saja di sana.


Sultan pun melihat ke segara arah, yang di mana semua orang menyorakinya dan bertepuk tangan kepadanya dengan waktu yang cukup lama.


"Ini adalah kisahku, yang di mana kisah ini akan selalu ku bahas kepada dunia, bahwa jalanku, sunyi, dan sepiku hanyalah sebatas ruang waktu, takan pernah terbayang dalam pangkuan negriku, kotaku, orang tuaku, dan juga kekasihku," ucap Sultan dalam hati sembari melihat ke atas bayang-bayang langit sore.


"Senja takan pernah membuatku jauh berpaling dari hadapannya, malam takan pernah membuatku takut! akan hari esok aku takan bisa lagi menatapnya kembali, dan hangatnya cahaya mentari takan pernah membuatku berkeringat! walaupun kisah ini dibakar habis olehnya," ucap Sultan kembali dalam hati sembari menatap Rere, kekasihnya itu.


Sore itu, setelah mana mereka pergi meninggalkan sekolah, Sultan dan Rere kembali mengelilingi indahnya Kota Sukabumi dibatas jalan yang tak pernah berhenti akan keramaian yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berada di dalamnya.


Rere kembali memeluk Sultan dengan erat! karena satu hari itu mereka takan bertemu lagi sebelum hari Senin kembali menyapanya, di waktu yang tentunya akan berbeda lagi.


"Padahal kita bisa main di rumah aku aja Tan, nanti biar aku siapin makanan, yang di mana nanti akan aku masak sendiri untuk kamu di sana," ucap Rere yang masih memeluk Sultan.

__ADS_1


"Aku engga mau kalau harus ngerepotin kamu melulu Re, dan terlebih aku cuma mau menghirup udara segar di luar ruangan berdua bersamamu di kota ini," ucap Sultan sembari melirik Rere lewat kaca spion motornya itu.


"Bilang aja takut merindu kembali? huh ... dasar bolot," ucap Rere sembari mengelus-elus helm yang sedang Sultan kenakan itu di sana.


"Rindu itu adalah pilihan, yang di mana kita harus bisa menentukan, kemana rindu itu akan pergi dan kemana rindu itu akan bertemu kembali."


"Emang rindumu itu seperti apa sih Tan?".


"Rinduku itu seperti rembulan malam Re, takan pernah bosan aku menatapnya, walaupun harus menahan rasa dinginnya malam hari itu seperti apa? asalkan rindu itu selalu hadir menemani, maka aku takan pernah bosan membahas rindu ini karena yang sebenarnya rinduku hanya ada pada dirimu Re."


"Apaan sih Tan! mau aku pukul lagi helmnya hah!".


"Bidadari, dengerin ya, aku engga masalah kamu mau apain aku juga terserah! mau kamu gigit aku, mau kamu tampar aku sekeras yang kamu bisa, selama masih berada dititik itu, aku merasa semuanya masih baik-baik saja."


"Yang menurut elu engga baik itu apa?".


"Ya, semua itu ada pada diri elu Re, elu pergi ninggalin gue juga itu udah membuat diri gue engga baik-baik aja."


"Dih, apaan sih Tan! kok, malah ngegas ngomongnya," ucap Rere kembali mencubit Sultan.


"Bagaimanapun aku berucap, pasti ujung-ujungnya kamu bakalan nampar, atau engga nyubit gue kayak gini kan?".


"Kata kamu kan terserah, asalkan itu bisa membuat aku tersenyum bahagia."


"Motor gue tiba-tiba ngegas sendiri Re, kalau engga mau jatuh! peluk guenya yang kenceng ya," ucap Sultan yang seketika membuat Rere memeluk dirinya lebih kencang lagi.

__ADS_1


Beribu-ribu alasan yang dia buat pada waktu itu hanya sekedar ingin mengingatkan Rere, bahwa jaketnya masih dia pakai di sana, tanpa sedikit pun dia ingat untuk mengembalikannya kepada Sultan.


"Percayalah Re, aku bersikap seperti ini karena aku merasa kedinginan! dan maka dari itu, peka lah sedikit sama pacarmu ini kenapa sih Re," ucap Sultan dalam hati sembari mencubit pipi Rere di belakang motor tuanya itu.


__ADS_2