
Perkelahian itu, sungguh membuat Sultan lupa! bahwa luka bekas dari pukulan kayu balok itu, cukup menyisihkan sedikit luka memar, dan terlebih ia memukulkan kembali kayu balok itu ke arah keningnya sendiri, yang di mana luka memar itu semakin bertambah ungu saja bilamana ia menatapnya sendiri.
Namun, pada saat itu Sultan tak begitu terlalu memperhatikannya, dan ia hanya beranggapan bahwa luka itu tidak berbekas sama sekali dikeningnya, dan tentu saja ia begitu bodoh! yang di mana itu akan menjadi suatu pertanyaan dan akan menjadi tanda tanya besar bagi Rere.
Dan yang pastinya Rere akan kembali memarahi Sultan, dikarenakan ia begitu ceroboh! ia terlalu naif! dan ia begitu memanggap dirinya itu kuat! dan yang paling ia benci itu adalah membuat Rere kembali mengkhawatirkan dirinya itu di sana, dan terlebih ia takut akan membuat Rere membenci dirinya bilamana ia tidak berkata jujur kepada kekasihnya itu.
Setelah Sultan memberikan salam, serta mengecup tangan ibu Rere itu kembali, ia pun lalu duduk di sofa ruang tamu itu di sana dengan damai sembari menunggu Rere hadir menemaninya di sana kembali.
Dan tentu saja, Rere pun lansung menatap kening Sultan yang sedang terluka memar itu, dan alangkah menyebalkannya Rere, yang di mana dia pun lalu menepuk kening Sultan dengan alasan ada nyamuk.
Plakk ... suara tamparan yang Rere berikan kepada Sultan itu, sungguh tepat mengenai luka memarnya itu, dan di sana Sultan pun sempat berteriak, dikarenakan ia baru sadar bahwa keningnya itu sedang terluka.
"Aduhh ... kok, sakit sih Re! kebiasaan dah kamu mah Re! kalau aku datang itu seharusnya kamu sapa, ataupun kecup keningnya kek, ini mah malah ditampar! engga ada romantis-romantisnya kamu mah Re, sama pacar sendiri yang imut ini," ucap Sultan sembari memegang keningnya yang tengah kesakitan itu.
"Itu kenapa keningnya hah? berantem lagi ya? udah deh Tan, kamu jangan sok jadi jagoan! aku engga suka kamu kayak gini Tan! bukannya jagain diri sendiri, malah nyakitin diri sendiri kayak gini," ucap Rere yang tengah mengkhawatirkan Sultan itu di sana, sembari memandangi Sultan dengan tatapan tajamnya itu.
"Astaghfirullah, kok, gue bisa lupa kayak gini ya? dan kenapa juga gue bisa balik lagi ke sini? ahh, pasrah aja dah gue kali ini, dan terlebih gue juga engga bisa bohong sama dia karena kali ini gue harus bisa jujur, supaya Rere tahu sebabnya kenapa," ucap Sultan yang masih megang keningnya itu di dalam sana sembari melamuni kata hati yang sedang ia ucapkan di dalam hatinya itu.
Rere pun lalu meninggalkan Sultan di sana, dikarenakan dia akan mengambilkan sesuatu untuk mengobati kening Sultan, yang di mana itu adalah kotak P3K miliknya, yang ia siapkan khusus untuk Sultan, dikarenakan dia sudah mengetahui sifat Sultan dari awal, bahwa hobby pacarnya itu adalah berkelahi.
__ADS_1
Dan di sana Sultan sempat bertanya kepada Rere, bahwa dia akan pergi ke mana, dan kenapa dia meninggalkannya di sana sendirian, apakah Rere marah kepada dirinya.
"Mau kemana Re? kamu marah ya? maafin aku kalau begitu, aku janji deh Re, engga akan mengulangi hal yang akan membuatmu menjadi semakin benci sama aku di sini," ucap Sultan yang terus merayu Rere.
"Diam dulu di sana! jangan ke mana-mana! gue cuma mau ngambil kotak P3K doang kok, buat ngobatin luka memar kamu itu," ucap Rere yang berbicara kepada Sultan sembari berjalan meninggalkannya.
"Gue kira dia marah! tapi kok, dia malah mengalah ya? jadi kesian gue sama dia, maafin gue ini ya, Re, karena ini suatu masalah yang engga bisa gue tinggalin, dikarenakan gue juga ingin melindungi sabahat gue juga, dan terlebih kalau gue bilang dulu sama elu, dan elu pasti engga akan ngizinin gue untuk pergi," ucap Sultan dalam hati sembari tersenyum manis kepadanya, namun waktu itu dia sama sekali tidak menatapnya kembali.
....
Tak lama kemudian, Rere pun lalu datang kembali menghampiri Sultan sembari membawa kotak P3K itu dengan ditemani oleh ibunya itu juga. Dan di sana, ibunya juga sempat berbicara kepada Sultan, kenapa keningnya memar seperti itu.
"Abis berantem dia Mah! makanya mamah engga usah heran! kenapa Rere beli kotak P3K ini, dan yang pastinya ini juga buat kebaikan Sultan karena Rere tengah mendekati cowok nakal seperti dia," ucap Rere sembari mengoleskan salep untuk meredakan rasa sakit, serta meredakan luka memar dikening Sultan itu.
"Sultan punya dokter pribadi sendiri kok, Mah, dan tentunya itu adalah Rere, kalau soal urusan mengobati luka seperti ini, yang paling jago itu adalah Rere, dan bahkan dokter terhebat mana pun akan kalah bila berhadapan dengan Rere," ucap Sultan sembari menatap ibunya itu, dan yang di mana Rere pun lalu tersenyum ketika mana ia berbicara seperti itu kepada ibunya di dalam sana.
Bukan hanya Rere yang tersenyum, melainkan dirinya, bersama dengan ibunya itu pun tersenyum juga, dan ibunya itu pun tak terlalu banyak bertanya hal yang lain kepada Sultan, dikarenakan beliau adalah wanita yang paling pengertian, dan rasa pengertiannya itu juga ada, dan tertanam dalam hati Rere.
"Aku tak pandai melukis, dan aku tak pandai dalam hal mengobati luka, namun bilamana kamu menanyakan kepandaian aku itu apa? dan lantas aku akan menjawabnya, bahwa kepandaian aku itu adalah memberikan sebuah rasa, yang di mana rasa itu adalah rasa sayang, yang dibarengi dengan lantunan doa," ucap Sultan dalam hati sembari menatapi Rere kembali sambil tersenyum lebar kepadanya.
__ADS_1
Rere terus menatap Sultan di sana, dan dia terus memarahi Sultan hingga ia merasa bahwa dirinya begitu beruntung bisa memiliki kekasih yang begitu perhatiannya seperti Rere.
Rere pun masih mengoleskan salep luka memar itu kepada kening Sultan, yang di mana ia hanya bisa memandangi sikap Rere itu, dan terlebih ia pun sangat suka melihat Rere sebegitu perhatian kepada dirinya, dan di sana ibu Rere pun sempat kembali pergi dari ruangan itu, dikarenakan anak bungsunya itu tak mau ditinggalkan pergi jauh-jauh dari sisi beliau.
"Berantem sama siapa kamu? jawab jujur Tan? aku udah tahu kalau luka memar ini diakibatkan dari pukulan benda keras," ucap Rere sembari duduk di samping Sultan kembali, dikarenakan dia telah selesai mengobati luka memar Sultan itu di sana.
"Hmm, sebenarnya aku juga engga mau seperti ini Re, dan apalagi kamu lagi sakit, aku engga mau sampai harus membuatmu terluka karena ulahku, tapi kalau aku engga melakukan hal ini, sahabat aku pasti bakalan celaka Re, andai kamu ada diposisi serba salah seperti aku, dan tentunya kamu pun pasti bingung Re," ucap Sultan sembari menyandarkan punggungnya itu di kursi sofa, sambil sesekali mengelus hijab yang melekat dikepala wanitanya itu.
"Iya kenapa?".
"Rizal sama pacarnya lagi dikeroyok orang Re, dan di sana cuma aku aja yang bisa menjawab telepon suara dari dia, dikarenakan temen gue semua engga pada megang handphone, melainkan mereka semua sedang sibuk dengan urusannya sendiri."
"Terus itu lukamu."
"Aku engga sengaja dipukul dari belakang pake kayu balok Re, dan ketika aku melihat ke arah si pemukul, dan tiba-tiba aku dihantam begitu aja, itu engga sakit sih Re, melainkan sebab kening aku bisa berubah warna menjadi ungu seperti ini, dikarenakan waktu itu aku memukulkan kembali kayu balok itu ke arah kening aku sendiri."
"Mau jadi jagoan hah? pulang sana, kalau perlu besok kamu engga usah sekolah aja, kalau pusing cepet pergi ke dokter langsung, pokonya aku engga mau melihat kamu kenapa-kenapa Tan," ucap Rere sembari meniup-niup luka memar yang ada dikening Sultan itu.
Sultan pun di sana tak terlalu banyak membantah, dan ia pun hanya bisa mengikuti kemauan Rere, dikarenakan hari juga sudah semakin sore, dan bilamana ia tidak pulang sebelum matahari terbenam, dan pastinya akan ada sesuatu yang dapat terjadi kepada Sultan.
__ADS_1