
Sesampainya Sultan di Sukabumi, ia pun lalu mencari-cari angkutan umum berupa angkot yang masih narik hingga sampai selarut malam ini, namun seperti dugaan Sultan yang sebelumnya, di mana sepinya malam kelam di Kota Bogor sama dengan sepinya di Kota Sukabumi.
Sultan duduk di atas trotoar sambil menghisap dan menghembuskan asap rokoknya perlahan. Ia menunggu kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 5 menitan sampai rokok pertamannya habis.
Di sana hanya ada ojek pangkalan saja, tapi Sultan masih tetap ingin menunggu angkot agar supaya tarip pembayarannya lebih terjangkau.
Tak lama kemudian ada salah satu orang bertubuh besar yang menghampiri Sultan, ia memang sudah mengirannya dari awal bahwa orang tersebut akan menganggap Sultan sebagai pemudik, bukan sebagai warga asli Sukabumi.
Lantas Sultan pun lalu berdiri dengan sikap yang sudah siap untuk berkelahi. Orang itu bisa dibilang sebagai preman terminal, dia benar-benar menganggap Sultan sebagai orang jauh, bukan sebagai orang asli Sukabumi.
Sepertinya preman tersebut tidak mengetahui bahwa Sultan bukan pria polos yang dapat dia injaki harga dirinya begitu saja tanpa permisi.
"Akang darimana, mau ke mana?" tanya pereman tersebut hanya berbasa-basi saja kepada Sultan.
"Saya dari Tangerang Kang, ini juga saya lagi nunggu angkot Barosan, katanya kalau saya mau nunggu angkot Barosan, saya harus nunggu di sini," ucap Sultan berpura-pura menjadi orang jauh, padahal di sana hatinya tengah tertawa lepas melihat preman tersebut berpura-pura bersikap baik kepada dirinya.
"Mau saya antar engga Kang?".
"Engga usah Kang, saya mau nunggu angkot saja."
"Haduhh ... jangan bercanda deh Kang! saya lebih tahu daripada akang! mana mungkin malam-malam begini ada angkot yang lewat sini, seharusnya akang datang ke Sukabuminya lebih awal biar akang bisa dapetin tumpangan murah," ucap preman tersebut mulai mengeluarkan nada suara tingginya.
__ADS_1
Tak hanya sampai di situ saja, mereka berdua pun berdebat hebat di sana, bahkan preman tersebut menertawakan Sultan, dikarenakan dia mengira kalau Sultan itu sok tahu.
Sultan pun takan pernah mau membiarkan preman itu menertawakan dirinya begitu saja, lantas Sultan pun bertanya kepada beliau bahwa beliau bersinggah di Kota Sukabumi sudah berapa lama.
Jawabannya benar-benar membuat Sultan tertawa karena beliau menjawab pertanyaan darinya dengan tatapan penuh amarah, dan terlebih jawabannya itu sudah sangat mencerminkan bahwa dia bukan warga asli Sukabumi.
Pereman tersebut berkata bahwa dirinya sudah 5 Tahun bersinggah di Kota Sukabumi, sementara Sultan dari lahir sudah bersinggah di Kota Sukabumi.
08 Januari 2002, di mana itu adalah pertama kalinya Sultan lahir dan resmi menjadi warga asli Sukabumi, tentunya preman tersebut kalah jauh darinya.
"Malah cengengesan lagi! anda mau main-main dengan saya! semua orang takut sama saya di sini, anda belum kenal siapa saya? oke, kalau begitu izinkan saya untuk memperkenalkan diri, nama saya ... ," ucapannya terjeda karena Sultan menghantap pipinya dengan keras.
Bukk ....
Sultan menghantap pipinya kembali pada saat preman tersebut akan terbangun dari jatuhannya. Sultan pun mulai membuka mulutnya dan berkata bahwa dia adalah warga asli Sukabumi.
"Kelamaan! kalau mau berantem ya, berantem aja! engga usah memperkenalkan diri terlebih dahulu, emangnya lu anggap perkelahian kita ini sebagai apa hah! lomba berpidato? kalau begitu abang salah cari lawan," ledek Sultan dengan tenangnya sembari membakar satu batang rokoknya kembali.
....
"Cihh, sial! percuma gue ladenin elu, gue kira lu itu lawan tangguh, tapi ternyata elu lawan yang layu," ucapan terakhir Sultan membuat langkah kakinya ingin segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Sultan memilih untuk berjalan kaki saja, ia hanya ingin melihat apakah preman tersebut akan memanggil teman-temannya semua nanti.
Ternyata jiwa preman tersebut memang lemah, nyalinya tak sesuai dengan julukannya, orang-orang di sana sering memanggil namanya dengan sebutan, Tebas.
Sultan melihat ke arah belakang, di mana preman yang menjadi lawannya tadi tengah mengejar kepergiaanya. Sepertinya dia ingin meminta tanda tangan dari Sultan, sampai-sampai dia juga memanggil semua teman-temannya.
"Kayaknya gue punya pengikut baru nih, haha. Woii, teruntuk elu-elu semua para pengikut gue yang baru, silahkan antri dibarisan paling belakang ya, kalau mau minta tanda tangan dari gue yang tampan kayak jalanan aspal ini," ledek Sultan mulai mengambil seribu langkahnya untuk berlari.
"Mampus dah gue! ternyata mereka semua orangnya pada baperan! mendingan gue ngebaperin Rere aja daripada harus ngebaperin bapak-bapak tua seperti mereka. Sini lu semua! kejar gue kalau bisa," ledek Sultan sembari menghembuskan sisa-sisa rokok terakhirnya serta melempar rokoknya itu juga ke arah mereka semua.
Dengan cepatnya ia berlari meninggalkan para preman di belakang sana. Sultan sama sekali tidak menakuti dirinya akan dipukuli habis-habisan oleh mereka selagi mereka semua tidak membawa senjata tajam.
Dengan santainya ia tertawa-tawa sendiri di depan mereka semua, andai saja kesehatannya yang sekarang ini pulih seperti biasanya, mungkin dia akan melawan mereka semua walaupun dia kalah.
"Sebenarnya mereka semua pada mau ikutan lomba pidato apa mau ikutan lomba lari maraton sih! perasaan larinya cepet amat dah, mungkin gue nyerah aja kali ya, tapi masa sih gue nyerah gitu aja, sementara gue masih belum menyampaikan rindu gue kepada Rere," ucap Sultan mulai kelelahan.
"Gila tuh bocah! larinya udah kayak mobil kijang aja! sebenarnya bocah itu siapanya sih Bang? kok, dia bisa nyari gara-gara sama lu," tanya salah satu pengikut dari preman yang sempat Sultan hajar di terminal.
Saking dendamnya preman tersebut kepada Sultan, dia mengabaikan pertanyaan dari rekannya. Sebagian dari rekannya sudah ada yang kelelahan, namun dia masih saja ingin mengejar Sultan walaupun jarak mereka dengan Sultan lumayan jauh.
Bila dihitung oleh Sultan, kira-kira jumlah mereka ada enam orangan. Tapi sekarang jumlah mereka berkurang dua, dikarenakan mereka tak kuat lagi mengejar Sultan.
__ADS_1
Sekarang tinggal sisa empat orang lagi, Sultan sengaja bersembunyi dibalik pohon yang lumayan cukup besar untuk ia jadikan sebagai tempat perlindungannya.
"Huhh ... cukup sampai di sini lari malamnya, lebih baik gue ngumpet di belakang pohon besar itu aja, gue engga perduli walaupun pohon itu angker," ucap Sultan sembari menatap pohon rindang tersebut, di mana sepertinya dia melihat sosok wanita berjubah putih di atas pohon itu, namun ia berusaha mengalihkan pandangannya dan lebih pokus mengumpulkan batu besar untuk ia lempar ke arah para preman gila tersebut.