Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 167 : Rindu itu


__ADS_3

Setelah ia melempar handphonenya begitu saja di atas kasur tidurnya, Rere pun lalu mematikan panggilan telepon suara dari Sultan.


Itu memang sebuah kode bagi Rere, bahwa Sultan pasti akan menyuruhnya untuk mematikan panggilan telepon suara tersebut lebih dulu.


"Kebiasaan dah ini anak! emangnya dia engga bisa apa cara merawat handphonenya sendiri, main lempar gitu aja! udah tahu gue kaget," ucap Rere mendengarkan suara jatuhan handphone Sultan itu.


Rere memang tak mengherankan hal yang selalu Sultan lakukan kepadanya, bahkan hal sepele pun dia selalu memperhatikannya, bukan melainkan mempermasalahkannya, apalagi bila soal mengangkut pautkan urusan kesehatan prianya, mungkin itu akan menjadi suatu kebiasa terbaik yang Rere berikan kepada Sultan.


Bisa dibilang Rere adalah wanita paling pengertian, namun itu hanya di kala dia sedang mau saja bersikap seperti itu kepada Sultan.


Tapi, sebelumnya dia memiliki sikap yang tak pernah Sultan miliki dari Rere, dan bahkan dia pun menginginkan sikap itu, apalagi kalau bukan sikap yang tak pernah mau mempermasalahkan hal kecil menjadi besar.


Singkat cerita, di mana Sultan tengah memanaskan motor tuanya untuk menjemput Rere. Seperti biasa ia menghubungi Rere terlebih dahulu yang hanya sekedar ingin memastikan apakah dia sudah selesai dengan urusannya sendiri di sana.


"Gue udah siap nih Re, sebentar lagi gue jemput elu di sana, ngomong-ngomong elu udah selesaikan dengan urusanmu itu? jadi kita bisa langsung berangkat nih," tanya Sultan sembari menggerung-gerung pelan motor tuanya.


"Gue udah siap kok, Tan, elu bisa langsung ke sini aja, lagian gue udah selesai dari sebelum elu nelepon gue di sini juga," ucap Rere agak sedikit canggung, dikarenakan ini Minggu pertama dia bertemu dengan Sultan kembali.


"Gemeteran amat itu suaramu Re, jangan bilang elu malu lagi kalau harus ketemu sama gue sekarang."


"Siapa yang malu! lagian mana mungkin gue malu sama pria bolot seperti kamu di sana!".


Sultan hanya bisa tersenyum, ia pun lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celana jeans hitamnya. Ia pun berpamitan kepada ibunya untuk pergi menjemput Rere, wanita yang selalu dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


Motor tua mulai dilajukan, ia merasa sangat rindu dengan suasan alam Kota Sukabumi, lantas ia pun melajukan motor tuanya dengan perlahan sembari menatap tajam alam yang tak begitu asing baginya.

__ADS_1


Rere masih menunggu Sultan, padahal biasanya Sultan tak pernah datang ke rumahnya selama ini, dan Rere berpikir mungkin Sultan ingin melampiaskan rasa rindunya itu kepada semua temannya yang berada di kosan terlebih dahulu.


Tapi, Rere salah! sebenarnya Sultan hanya ingin melampiaskan kerinduannya dengan alam yang berada di sekitaran Kota Sukabumi ini, yakni tempat kelahirannya sekaligus tempat dia menghabiskan masa kecilnya di Kota kecil tercintanya ini.


Sultan lebih mengenal dekat Kotanya ketimbang dia mengenal Rere, pada dasarnya dia bertumbuh besar dengan mengenal alam terlebih dahulu, bahkan dari saat dia masih kecil pun Sultan sudah belajar memahami apa itu alam yang harus dia jaga.


Maka dari itu hobbynya mendaki sampai saat ini masih dia lakoni, walaupun mudanya yang sekarang sudah jarang berkelana, tapi ia sebenarnya memiliki sebuah rencana untuk berkelana bersama dengan Rere nanti.


Sultan telah tiba di depan gang rumah Rere, dan ia tak sengaja melihat adik kelasnya yang sama-sama mengikuti oganisasi Pramuka di sekolahnya, lantas adik kelas Sultan yang bernama Dimas pun berhenti untuk menyapa kakak kelasnya di sana.


....


"Widih, elu udah pulang Bang? itu anak-anak udah nungguin elu di kosan," ucap Dimas sambil mencium tangan Sultan.


"Lu duluan aja, bilang sama mereka kalau gue mau menjemput rindu dulu sebentar," ucap Sultan dengan gaya tersenyum tipisnya.


"Waduh, perkara sulit itu Dim! tapi gue yakin lu pasti bisa, dan mungkin elu engga perlu mengikuti gaya gue karena gaya lu lebih kece daripada gaya gue," ucap Sultan sembari menepuk bahu adik kelasnya.


Nama adik kelasnya memang sama dengan nama teman sekelas Sultan, kadang kala dia pun sering keliru dalam menjaga sikap keadik kelasnya itu, yang di mana ia sering menganggap adik kelasnya seperti Dimas, teman sekelasnya di sekolah, jadi tak heran kenapa Sultan lebih cepat mengenal adik kelasnya itu ketimbang dengan dia mengenal dekat adik kelasnya yang lain.


"Oke, Bang, nanti saya sampaikan, pokonya abang tenang aja, lagipula kita semua mau menginap di sana," ucap Dimas kembali menyalakan motornya yang sempat dia matikan hanya untuk menyapa Sultan.


Dimas pergi, sementara Sultan masuk ke dalam gang untuk menemui Rere yang sudah lama menunggunya. Mungkin ini akan menjadi suatu pertanyaan bagi Rere kenapa Sultan bisa telat menjemputnya.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Sultan dengan lembutnya.

__ADS_1


"Sampai juga akhirnya itu si bolot! sebenarnya dia ke mana dulu tadi sih, perasaan lama amat datang ke rumah guenya," ucap Rere dari dalam ruangan.


Rere menjawab salam dari Sultan dengan tatapan rumit. Kata rumit itu adalah sikap ketidak jelasannya, yang di mana dia sangat bingung, apakah dia harus memberikan sikap pada saat dia bertemu Sultan untuk pertama kalinya, atau dia harus bersikap seperti biasa saja.


"Udah gue tebak dari awal, padahal gue baru satu Minggu tinggal di Tangerang Re, tapi elu sepertinya udah menganggap gue seperti orang asing di sini," ucap Sultan sembari memiringkan kepalanya, dikarenakan dia melihat ibu Rere ada di belakangnya.


Sultan mengecup tangan ibu Rere dengan manisnya, ia pun lalu melontarkan ucapan yang sempat dia dengar dari mulut ibunya sendiri tadi pagi.


Ibu Rere mengangguk dengan senyuman manisnya, beliau memperbolehkan Sultan membawa Rere ke mana pun yang dia inginkan, asalkan dia harus mengembalikan anaknya itu kembali ke dalam pelukannya.


Sebelum Sultan pergi, ia sempat berbincang bersama dengan ibu Rere. Rasanya rindu ini bukan hanya untuk Rere saja, melainkan untuk ibunya dan adik-adiknya juga.


"Sultan sehat di sana? rasanya satu Minggu serasa satu Bulan aja bagi Rere," ucap beliau sembari menatap wajah Rere yang sedang tersenyum-senyum sendiri di samping Sultan itu.


"Apaan sih Mah! engga jelas ah!" ucap Rere menjauhkan padangannya dari Sultan pada saat Sultan melihat wajah Rere.


"Alhamdulillah Mah, Sultan sehat kok, mamah gimana? pastinya sehat juga kan di sini?" tanya Sultan dengan rendah hatinya.


"Selagi Sultan sehat, mamah pun sehat juga Tan."


"Malaikat tanpa sayap mungkin akan terlihat lebih kuat ketimbang dengan anak-anaknya sendiri. Alhamdulillah kalau mamah sehat, Sultan ikut senang mendengarnya."


Rindu itu bisa dibilang takan terasa lama, dikarenakan esok siang ia akan pergi kembali meninggalkan semua orang yang dia sayangi di Kota kecilnya ini.


Sultan tak hanya duduk bersebelahan dengan Rere saja, dan tentunya ia pun duduk ditemani dengan adik bungsunya, yang di mana tubuh dia sekarang rasanya begitu berat sekali pada saat ia memangkunya, padahal sebelumnya tubuh dia tak seberat ini.

__ADS_1


Tapi, yang jelas ia nampak senang sekali melihat semua orang yang dia cintai itu di sini sesehat seperti ini sekarang.


__ADS_2