Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 277 : Sesuatu hal


__ADS_3

Sultan melihat ke salah satu arah, yang di mana di sana ada sekumpulan orang yang sedang memperhatikannya, dan tidak lain mereka adalah teman-temannya sendiri.


Sultan memanggil mereka agar mereka bisa duduk dan berbincang bersama dengan Aisyah juga, berhubung teman-teman Aisyah pun ada di sana, jadi dia ingin menceritakan pasal surat ancaman yang sempat Sultan terima pagi sekarang ini.


"Bocah-bocah bego! lagi pada ngapain lu berdiri di sana hah! jangan bilang elu semua lagi pada nguping lagi, daripada nguping lebih baik sekarang elu semua ikut duduk sama gue aja dah, elu engga lihat apa mereka semua udah pada nungguin elu di sini," teriak Sultan membuat semua teman-temannya yang terdiam itu menjadi terkejut.


Bukannya menghampiri Sultan mereka semua malah terdiam, rasanya ini memang hari pertama kalinya Sultan terlihat sebegitu membutuhkan semua temannya, sampai dia rela mempertemukan mereka dengan teman-teman Aisyah di sana.


Untung saja Dimas meneriaki semua temannya agar mereka tersadar dari lamunannya itu. Dan hingga pada akhirnya orang-orang yang Sultan panggil bego itu datang bersamaan sembari memberikan pandangan yang begitu datar serta kaku seperti robot.


"Woii, elu engga dengar apa Sultan nyuruh kita semua untuk pergi ke sana! perasaan sebelum berangkat elu semua terlihat begitu semangat ya, apa jangan-jangan rekan-rekan gue ini pada takut jatuh cinta ya," candaan Dimas tak henti-hanti menghantui pikiran mereka semua.


"Gila lu Dim! lagian di samping lu masih ada si Rizki dah, tapi kenapa elu lebih memilih untuk mengejutkan gue seorang diri, udah itu air ludah lu sempat loncat ke wajah tampan gue lagi," ucap Azmi berpura-pura mengusap ciptaran air ludah dari Dimas itu, padahal Dimas sama sekali tak merasa melakukan hal yang Azmi ucapkan itu tadi.


"Alahh, bilang aja lu lagi salah tingkah Mi, lagian raut wajah elu itu tak terlihat seperti biasanya seriusan dah! terus ini lagi parfum yang elu gunakan kayaknya terlalu berlebihan dah," ucap Alamsyah sembari mencolek pipi Azmi.


Wildan mengendus wangi parfum itu, dan sepertinya aroma wangi dari parfum yang Azmi gunakan bukan berasal dari parfum yang dia miliki, melainkan wangi aroma itu tercium begitu khas dihidung Wildan, tidak lain parfum yang dia gunakan adalah parfum milik Sultan.

__ADS_1


"Wanginya emang enak untuk dihirup sih Bre, namun apakah benar parfum yang elu pakai ini adalah parfum milik elu sendiri Mi, perasaan wangi dari parfum ini cukup familiar dihidung gue," ucap Wildan yang hanya ingin memastikan apakah ucapan darinya itu benar, apakah parfum yang dipakai oleh Azmi adalah parfum milik Sultan.


Azmi sempat merasa enggan bila harus berbicara jujur di hadapan teman-temannya semua, sebagaimana sikap rese yang dimiliki oleh mereka, di mana teman-temannya itu pasti akan mengejeknya sekarang.


Dan yang lebih Azmi takutkan lagi bahwa nanti semua temannya itu akan mencomelinya hingga dia benar-benar dibuat malu oleh mereka semua.


"Iya, iya, gue emang pakai parfum Sultan, tapi ini semua ada alasannya, lagian gue juga mana mau disamakan dengan Sultan hanya karena gue memakai parfumnya saja, coba saja parfum gue engga habis, dan mungkin gue engga akan pernah tuh memakai parfum Sultan."


Ucapan Azmi terdengar samar-samar ditelinga semua temannya, dan sepertinya Azmi juga sedang menutupi sesuatu hal dari mereka, namun hal yang dia tutupi takan pernah membuat Dimas tak mengetahuinya, dan tentunya dia mengetahui semua hal yang tengah Azmi tutupi itu.


"Alasan aja lu Mi! emangnya elu engga kenal apa dengan parfum ini? sepertinya gue cukup mengenalnya dah, apalagi teman-teman gue Mi, mereka semua tahu parfum ini milik siapa," ucal Dimas membuat Azmi terkejut, di mana pada saat Dimas mengangkat tinggi parfum tersebut dengan seketuka Azmi pergi.


Semua temannya tertawa melihat Azmi berbohong, namun perginya Azmi juga percuma saja dikarenakan Sultan pasti sudah mengetahui wangi dari parfum yang digunakan oleh temannya Azmi.


Aisyah membiarkan Azmi duduk di samping Sultan, sementara Aisyah akan menghampiri semua teman wanitanya, tapi di sana langkah kaki Aisyah sempat terhenti ketika mana dia mendengar ucapan Sultan.


"Aihh, wangi parfum siapa nih! jangan-jangan elu ya, Mi? emangnya parfum elu dikemanain, sampai segitunya elu pakai paefum gue, udah itu pakainya kebanyakan lagi, soalnya gue tahu bener bagaimana wangi dari parfum gue bila gue memakainya terlalu banyak," ucapan Sultan malah semakin membuat Azmi mati langkah.

__ADS_1


Azmi tak bisa mengelak lagi, dia mengira solusi terbaik itu hanyalah menghampiri Sultan saja, namun alangkah resenya dia sampai hingga Sultan mencomelinya di dapan teman-teman Aisyah.


"Woii, si Azmi pakai parfum gue nih, udah itu pakainya terlalu berlebihan lagi, padahal dia juga punya parfum sendiri, hanya saja parfumnya tak sewangi parfum gue," comel Sultan membuat semua temannya tertawa.


"Mampus lu Mi! gue bilang juga apa, elu engga akan bisa berlali jauh-jauh dari comelan teman-teman elu semua, dan terlebih elu sudah salah memilih tempat pelarian, udah tahu si Sultan itu salah satu teman terkampret, dan dengan polosnya elu malah menghampirinya," ucap Alamsyah terlihat begitu lepasnya tertawa bersama dengan semua temannya.


"Ehhh, gila lu Tan! bikin gue malu aja, kalau tahu gini gue engga mau disuruh datang sama lu ke sini! nyesel dah gue," ucap Azmi sambil menatap raut wajah Sultan dengan seketika cepatnya, dan lalu setelah itu dia pun menundukan pandangannya serta bertingkah tidak jelas di hadapan seorang Sultan.


Azmi menelan ludah sambil mengelus-elus rambut belakangnya. Rasanya dia ingin pergi dari sana, namun apa yang dia lakukan itu hanya akan membuatnya semakin bertambah tak karuan saja menahan rasa malunya.


"Dengar ya, Mi, mulai dari sekarang elu semua engga boleh pergi ke luar sendirian, bukannya apa-apa Mi, hanya saja banyak hal yang harus gue bahas, semoga elu dan teman-teman elu itu mau menerima semua perintah dari gue ini," ujar Sultan sambil merangkul bahu Azmi dan tersenyum tipis di hadapannya.


Azmi tak pernah melihat Sultan seserius ini, pandangan datarnya berubah menjadi pandangan yang terlihat begitu sangat ramah sekali.


Pandangan itu sudah sama seperti tatapan keraguan, rangkulannya itu terasa seperti sebuah pelukan ketakutan, dan senyumannya terlihat begitu berat dia berikan kepada Azmi.


Azmi hanya bisa mengikuti perintah dari Sultan saja, dia tak mau menambah belenggu dihati temannya itu untuk sementara waktu ini sampai mana Sultan benar-benar sudah merasa lepas untuk menceritakan semua masalah serta alasan mengapa dia bisa terlihat semalang ini.

__ADS_1


__ADS_2