
Perbincangan Sultan dengan kawannya itu cukup membuang waktu yang panjang saja. Hingga pada akhirnya, Sultan pun lalu pergi berpamitan kepada mereka semua setelah usai melaksanakan rapat kecil-kecilan di kosan sana bersama.
"Brader, gue pamit pulang duluan oke," ucap Sultan sembari mengenakan helmnya itu.
"Oke, siap kawan, hati-hati," ucap semua kawan Sultan.
"Gue juga mau pamit pulang bareng Sultan ya, brader," ucap Rizal kepada semua kawannya juga.
Sultan dan Rizal pun akhirnya meninggalkan kosan tersebut bersama dengan Sultan. Namun, sebelum itu mereka berdua sempat diberhentikan oleh sekelompok orang yang kiranya berjumlah 4 orang.
Dan ternyata 2 orang diantara 4 orang itu pernah bertemu dengan Sultan sebelumnya, kedua orang itu juga pernah berurusan dengan Sultan juga, ketika mana ia akan menghampiri Rere waktu itu kerumahnya.
Dan kedua orang itu adalah pemuda yang pernah meminta uang kepada Sultan, namun waktu itu Sultan sempat meledeknya dan menyuruh kedua pemuda itu untuk bekerja bilamana mereka ingin mendapatkan uang.
"Gawat Jhon!" ucap Sultan kepada Rizal.
"Kenapa berhenti Tan?" tanya Rizal.
"Elu lihat engga Jhon, ke dua pria yang sedang menggunakan jaket kulit hitam itu di sana."
"Lihat Tan, terus kenapa?".
"Mereka berdua yang pernah minta duit sama gue, namun waktu itu gue engga nurutin kemauannya di sana."
"Hajar ajalah Tan! tuman!".
Ke empat orang itu juga sempat menghampiri Sultan di jalan sana, dan Sultan pun di sana sudah bersiap-siap bersama dengan Rizal untuk menghajar ke empat orang itu, bilamana mereka yang mencari masalah terlebih dahulu dengannya.
Tanpa basa-basi lagi, ke empat orang itu lalu menyerang Sultan dengan Rizal lebih dulu, namun di sana Sultan dengan rizal pun sempat menghindari pukulan dari mereka itu di sana.
Sultan bersama Rizal pun lalu turun dari motornya itu dengan sesegera mungkin, dan mereka berdua pun sempat menendang salah satu dari pemuda itu hingga terkapar.
"Hehe, sakit Bro? ayo sini maju kalian bertiga," ucap Sultan meledek mereka di sana.
Bukk! satu pukulan keras yang Sultan berikan tepat mengenai kepala dari salah satu pemuda itu di sana.
__ADS_1
"Mana lagi nih? masa baru satu kali pukul udah jatuh aja," ucap Sultan kembali kepada mereka.
Dengan seketika, kedua pemuda yang tadi terkapar itu kembali berdiri dan langsung menghantam Sultan, namun pukulan serta tendangannya itu tidak mengenai anggota tubuh dari Sultan sedikit pun.
"Jhon, elu hadapi satu orang aja, dan yang 3 ini biar jadi urusan gue," ucap Sultan kepada Rizal sembari memasang kuda-kuda pegulat sesungguhnya.
"Kebanyakan Tan, biar kita bagi dua aja."
"Kurang banyak ini mah Jhon! kalau perlu semuanya gue hajar habis sampai babak belur."
Satu lemparan batu tepat mengenai kepala Rizal, namun itu tak terlalu fatal bagi dirinya karena lemparan yang mereka berikan itu tidak cukup kuat untuk menjatuhkan Rizal.
Sultan berlari dan melompat ke arah mereka, dan dengan seketika, ke dua pemuda itu terjatuh karena terkena tendangan dari Sultan di sana.
Rizal pun memukul perut dari salah satu pemuda hingga terjatuh, namun satu orang di belakangnya sempat mau memukul Rizal dengan balok, tetapi di sana Sultan sempat melihatnya, dan ia pun lalu menyikut leher bagian belakang dari salah satu pemuda itu di sana hingga jatuh pingsan.
....
"Jhon, udah berapa lama kita engga olah raga seperti ini ya? satu tahun ada kan Jhon?".
"Satu tahun kayaknya kelamaan Tan, hehe."
"Wajib Tan, ayolah gas," ucap Rizal sembari tertawa.
Mereka berdua pun lalu kembali menduduki motornya itu masing-masing di sana, dan setelah itu, Sultan bersama dengan Rizal pun meninggalkan ke empat pemuda itu di sana.
"Bro, gue pamit ya, cepat-cepat urut tuh kaki sama tangannya, kalau dibiarin bisa patah nanti," ucap Sultan sembari melempar 4 batang rokok kepada mereka yang sedang terkapar itu.
Grungg, grungg, grungg ... suara motor telah dinyalakan oleh mereka berdua di jalan sana.
Jalan arah pulang mereka pun berbeda, dan lantas di sana Sultan mulai mengambil jalannya untuk pulang ke rumahnya sendiri di sana. Sultan pun lalu melambaikan tangannya itu kepada Rizal, dan Rizal pun di belakang juga sama-sama melambaikan tangannya itu kepada Sultan.
"Mungkin benar kata Sultan, gue harus diurut ke Cimande ini mah ni hehe, badan pada pegal semua jadinya," ucap Rizal yang berbicara sendiri dimotornya itu.
Sultan pun lalu mematikan motor tuanya itu, dan ia pun lalu duduk kembali di kursi depan teras rumahnya itu sembari melentangkan kakinya di sana.
__ADS_1
"Udah berantem sama siap kamu Tan?" ucap ayah Sultan yang seketika mengejutkan Sultan di sana.
"Ehh, tahu aja dah bapa gue ini hehe," ucap Sultan yang tak bisa membohongi ayahnya itu.
"Yaudah, makan dulu sana Tan, terus udah itu mandi."
"Udah makan Pak, di rumah Rere tadi."
"Oke, kalau begitu mandi aja sana kamu Tan."
"Siap Pak, tunggu sebentar lagi ya, masih cape ini Pak."
Sebelum masuk ke dalam rumah, di sana Sultan pun sempat menelepon Rere terlebih dahulu karena ia tahu, Rere pasti sedang menunggu prianya itu untuk kembali menyemangatinya di sana.
Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala.
Rere pun lalu mengangkat telepon Wa dari Sultan, namun ia di sana sama sekali tak berbicara kepada Sultan, dan lantas Sultan pun ikut terdiam sejenak di sana karena ia hanya ingin memastikan seberapa kesal dia terhadap Sultan.
"Asalamu'alaikum Tan," ucap Sultan yang salah memberikan sapaannya itu.
"Ihh ... kenapa Tan, sih manggilnya bolot! hehe," ucap Rere yang seketika tertawa kembali.
"Tuh kan, saking gugupnya gue, jadi salah manggil nama elu."
"Ada apasih Tan? aku engga mau ngomong sama elu!".
"Ciee, marah ya? yaudah sana matiin aja teleponnya Re."
"Tahu ah, bodo amat! gue engga perduli hmm!".
Tutt, tutt ... suara telepon dimatikan oleh Rere begitu saja.
"Hmm, untung gue sayang sama elu Re, kalau gue engga sayang sama elu! udah gue bunuh lu di sana dari tadi! hehe," ucap Sultan berbicara sendiri.
Sultan pun lalu masuk ke dalam rumahnya setelah mana ia menatap kontak Whatsapp Rere di sana. Rere memang wanita penuh misteri, Sultan sungguh dibuat bingung olehnya! kenapa disaat seperti ini dia sering menghilang begitu saja.
__ADS_1
Sultan pun lantas tak mau banyak berbicara lagi, dan ia pun di sana hanya tinggal menunggu malam yang sunyi itu hadir kembali menemaninya di sana.
Sultan adalah sosok pria yang penuh dengan tanda tanya, dan Rere di sana belum cukup mengetahui sifat Sultan itu seperti apa lagi? ia takan pernah tahu, malam yang akan datang nanti, Sultan akan kembali membuatnya tersenyum, hingga mana Rere takan pernah bisa untuk tertidur di malam itu.