Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 126 : Sunyinya rindu


__ADS_3

"Tan, ini nasi kuning pesanan lu, sebelumnya gue mau berterima kasih karena lu udah mau neraktir gue makan siang, kalau gue ada rezeki lebih, insyaallah gue ganti nanti ya, Tan," Akbar datang sembari membawakan dua bungkus nasi kuning pesanannya itu.


"Kagak ada kata perhitungan buat kawan sendiri Bai, kalau emang lu mau ganti uang gue ini, elu hanya tinggal mendoakan gue saja Bai, itu udah cukup bagi gue," ia langsung merangkul bahu temannya itu, dan dia merasa bahwa ucapan Akbar itu terlalu melebih-lebihkan, dan tentunya dia tidak mengharapkan uang ganti rugi sedikit pun darinya.


2 bungkus nasi itu ternyata bukan semua porsinya paket lengkap, Akbar memesan paket biasa dan mungkin karena dia merasa tidak enak kepadanya.


Dengan seketika cepatnya Sultan mengambil nasi bungkus Akbar dan lalu menukarkannya dengan nasi paket lengkapnya itu.


Sultan pun nampak terheran-heran dan ia pun ingin menukarkan nasinya itu dengan nasi Akbar, namun dia tidak menyetujuinya, dikarenakan alasan Sultan hanya ingin menukarkan nasinya itu karena nasinya terlalu banyak, dan mungkin Sultan takan bisa menghabiskannya.


"Punya lu sedikit amat Bai, tukar ah, punya gue terlalu kebanyakan, gue takutnya engga bisa ngabisinnya, jadinya nanti mubazir kan," Sultan menatap raut wajah Akbar sembari mengambil nasi bungkusnya dan lalu menukarkannya dengan nasi yang ia dapatkan itu tadi.


Akbar sempat terkejut dan akan mengambil nasinya tadi, tapi Sultan memang orangnya tak mau banyak berdebat, jadi ia mengambil nasi Akbar dan lalu masuk ke dalam kamar Akbar, serta ia pun mengunci pintu kamar Akbar itu.


"Elu engga pernah berubah sedikit pun Tan, dari semenjak gue kenal dekat sama lu, sifat elu masih tetap sama kayak dulu, orangnya engga tegaan," dia berucap dalam hatinya sambil tersenyum melihat sifat baik Sultan, dan ia merasa bahwa Sultan memang berbeda dari teman-temannya yang lain, sehingga dia bisa berkata jujur dalam hatinya tentang kepribadian sikap baik Sultan itu.


Tak lama setelah itu, Sultan pun pergi ke luar dari dalam kamar Akbar, ia pun melemparkan satu bungkus rokok penuh kepadanya.


Mereka pun seperti biasa menikmati rokoknya itu hanya berdua-duaan saja, dan memang hanya tinggal mereka saja yang belum melaksanakan tugas prakerinnya itu.


Dan ada juga Rizal, dia pun sama-sama belum pergi berangkat melaksanakan tugas prakerinnya, dan mungkin beberapa minggu lagi dia akan segera melaksanakan tugasnya itu, walaupun dia lebih telat bila dibandingkan dengan Sultan dan juga Akbar.

__ADS_1


Semenjak kelas 11 dibaskan dari tugasnya untuk belajar di sekolahannya, Rizal jarang ke luar, dan dia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama dengan kekasihnya.


Panggilan azan telah dikumandangkan, dan seperti biasa mereka berdua pun kembali melaksanakan salat zuhurnya itu bersama-sama di dalam kamar kosannya.


Sultan tak bisa berlama-lama berdiam diri bersama dengan Akbar, dikarenakan ia juga harus menjemput wanitanya itu di tempat dia sedang melaksanakan tugas prakerinnya itu.


"Ini anak dari tadi susah dihubunginya sih! kemana aja dia selama ini? apa jangan-jangan dia udah bosan chatingan sama gue ya? awas aja kalau kamu punya pasangan yang baru Tan, gue bunuh lu!" ucapnya sembari menunggu Sultan di depan parkiran Pt. Yamaha Motor.


Waktu itu Sultan sempat mendengar ucapan Rere, dikarenakan ketika pacarnya itu berucap, ia sempat mendengarkannya di samping tembok yang cukup agak sedikit besar untuk dirinya bersembunyi di samping Rere.


....


"Andai saja kamu tahu, kenapa aku engga membalas chat dari kamu, dan kenapa aku engga menjawab panggilan telepon suara dari kamu," Sultan datang dengan seketika hingga mana dia membuat Rere terkejut, kenapa bisa Sultan datang disaat wanitanya itu tak menyadari kedatangannya.


"Handphone gue lagi dicharger di kamarmu Re, soalnya mamahmu juga yang nyuruh, tadinya gue mau bawa handphone gue itu, tapi buat apa? soalnya gue juga pasti bakalan ke sana lagi," Sultan menatap tajam wajah Rere, dan ia pun seperti biasa mencubit kedua pipi wanitanya itu kembali dengan lembutnya.


Sultan mulai melajukan motornya dan membawa wanitanya pergi kembali untuk menyinggahi rumahnya di sana.


Setelah mengantarkan Rere, dia pun menyuruh Rere untuk mengambilkan handphonenya karena ia akan segera pergi dari sana. Bukannya dia tidak mau bermain ataupun membawa Rere pegi ke luar sebentar, tetapi ia tahu bahwa Rere harus beristirahat, dikarenakan dia baru saja pulang dari tugas prakerinnya, dan pastinya itu cukup melelahkan karena kita di sana bekerja seperti layaknya seorang karyawan sesungguhnya.


Rere mengantarkan Sultan hingga ke depan gang, pria itu lalu mengecup tangan Rere hingga membuat wanitanya takluk akan hadirnya rasa cinta, serta kebersamaan cintalah yang membuat hatinya terpanah dan ingin selalu bercerita sampai mana kebersamaannya itu akan dipisahkan.

__ADS_1


"Mata dan hati akan saling terbuka bilamana rasa itu hadir membawakan kisah cinta," ucapnya dalam hati sembari menatap indahnya langit sore yang takan lama lagi akan segara terbenam.


Bukan hanya Sultan yang berbicara dalam hatinya itu saja, melainkan ketika Sultan pergi meninggalkan kekasihnya itu, wanitanya itu pun sempat berkata dalam hatinya juga sembari menatap kepergian Sultan.


"Seperti yang pernah kamu ucapkan sebelumnya kepadaku kekasih, bahwa sunyinya rindu akan terasa, dan sepinya rindu takan bersuara, hingga pada akhirnya doaku untukmu kali inilah yang akan selalu menghampirimu dalam diam," ucap Rere dalam hati sambil meratapi kepergian Sultan dari arah belakang.


Waktu itu Sultan mengambil jalur yang agak sedikit memutar, dan dia memutuskan untuk mengambil jalan yang melawati terminal Kota Sukabumi.


Mungkin esok nanti tempat itulah yang akan ia injaki terlebih dahulu, maupun itu disaat dia pulang dari Tangerang, dan ataupun itu disaat dia pergi berangkat untuk menuju ke Tangerang.


Namun, disaat dia melajukan motor tuanya itu, dia pun sempat melihat saudara wanitanya yang bernama Syifa.


Dia adalah wanita cantik, dan kenapa wanita secantik dia berjalan-jalan sendirian di sebuah jalan sepi, dan tentunya jalan itu bersampingan dengan tempat wisata kolam renang Santasea Waterpark yang berada di Kota Sukabumi.


Kolam renang tersebut tepat berada di belakang terminal Kota Sukabumi, dan maka dari itu kenapa tempat tersebut sudah sangat sepi, tentunya sore itu sudah hampir termakan habis oleh gelapnya malam.


"Woii, ngapain jalan sendirian di sini?" Sultan menyapanya dan menghampirinya karena ia takut saudaranya itu dijahili oleh preman di sana.


"Aduh, kaget Syifa Tan!" ucapnya terkejut.


"Ayo naik cepat! kita pulang bareng," ajak Sultan menyuruhnya untuk menaiki motor tuanya itu.

__ADS_1


Wajahnya nampak tidak senang, entah kenapa dia semurung itu ketika mana Sultan menyapanya di sana, apakah mungkin dia tengah memikirkan sesuatu? sehingga wajahnya merunduk takut Sultan akan mengetahui masalahnya itu.


Sultan tidak mau banyak berbicara panjang lebar kepadanya, dan ia tentunya lebih memilih untuk menghiburnya telerbih dahulu, sampai mana dia yang akan berbicara kepadanya nanti.


__ADS_2