
"Dari tadi siang dia kok, masih belum ngabarin gue juga sih, sebenarnya dia pergi ke mana? ditelepon dari tadi juga dia engga menjawabnya, atau jangan-jangan dia emang lagi berdua-duaan sama cewe lain di sana ya, mungkin!" ucapnya, yang memang dia telah lama menunggu Sultan untuk mengabarinya.
Rere tengah berdiam diri di dalam kamarnya sambil memeluk boneka yang Sultan berikan kepadanya sebelumnya. Dan dia di sana memang tengah menunggu Sultan, hingga pada akhirnya dia pun merasa bahwa dirinya seperti orang gila saja, yang memang malam itu Rere sempat berbicara sendiri kepada boneka pemberian Sultan.
Namun, seorang Sultan takan pernah bisa melupakan sosok rindu yang kian datang menghampirinya, dan mungkin malam ini ia akan kembali mengungkapkan rasa rindunya itu kepada Rere, walaupun hari sama sekali belum berganti.
Suara telepon Rere berbunyi. Dan pada waktu itu, dia memang tengah asik berbaring sembari memeluk, serta mengajak boneka tersebut berbincang bersama dengannya.
Rere pun dengan seketika menjawab panggilan video dari Sultan, dan biasanya dia tidak mau kalau Sultan memvideocallnya ketika prianya itu sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya.
Mungkin karena rindu, rasa malu itu hilang dengan seketika saja, tapi bilamana 1 Minggu telah berlalu, dan mungkin rasa malunya itu akan hadir menemaninya kembali.
"Assalamu'alaikum, pasti kamu lagi nungguin gue ya? jujur aja sama gue Re, gue udah tahu kok," Sultan menyapanya dengan nada suara yang agak sedikit menyebalkan, namun Rere hanya bisa tersenyum, dikarenakan malam itu Sultan meneleponnya.
Sultan baru saja memvideocallnya, tapi dia dengan seketika menuduh Sultan bahwa dia sedang bermain bersama dengan wanita lain di sana.
Kata-kata itu terdengar sangat jelas sekali ditelinga Sultan, dan bahkan ia sudah bosan mendengarkan ucapan pesimis itu, namun bila dia tak bersikap seperti itu kepada Sultan, maka dia bukanlah Rere yang asli.
Tak disangka-sangka Rere benar-benar memarahi Sultan, dikarenakan dia sempat melihat kontak status Whatsapp Sultan sedang online, tapi dia malah mengabaikannya tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
Pada saat itu Sultan sedang menelepon Iman, dan ternyata di sana Rere pun sempat menelepon Sultan juga, namun tulisan dibilah status teleponnya itu membuat Rere terkejut karena disaat dia menelepon Sultan, tiba-tiba panggilan Sultan sedang berada dipanggilan lain.
__ADS_1
Hal itulah yang membuat Rere mencurigai dirinya, tapi Sultan memang tak pernah melakukan hal semacam itu, dan terlebih itu untuk apa? sementara dia masih mencintai Rere sepenuhnya.
"Ke mana aja kamu Tan? gue teleponin elu dari tadi siang juga, abis teleponan sama cewe ya? soalnya waktu gue nelepon elu tadi gue lihat Whatsapp lu sedang berada dipanggilan lain," Rere menunggu jawaban pasti dari Sultan, dan dia tidak ingin melihat Sultan sampai membohonginya.
Senyuman menyebalkan Sultan mulai kembali hadir, dan itu membuat Rere semakin penasaran dengan jawaban yang akan dia keluarkan itu.
Percuma saja Sultan berkata jujur kepada Rere, palingan dia akan membela dirinya sendiri untuk melampiaskan rasa kekesalannya itu kepada Sultan.
"Jadi kamu cemburu Re? sejak kapan kamu menjadi wanita cemburuan seperti ini? perasaan dulu kamu engga kayak begini dah Re," Sultan berusaha mengulur waktunya agar supaya dia bisa berbincang lama dengan Rere.
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih Tan!" ucapnya yang mulai merasa tak nyaman.
....
Rere selalu saja membuat alasan untuk membuat Sultan merasa kesal terhadap dirinya, lagi pula Sultan memang tak mau mencari-cari masalah kepadanya.
Tentu saja Rere tak mempermasalahkan dia mengabari ibunya itu terlebih dahulu, namun yang dia permasalahkan itu adalah kenapa Sultan lebih memilih untuk mengabari Iman terlebih dahulu, ketimbang dengan dia mengabari Rere terlebih dahulu.
"Kenapa kamu lebih mendahulukan Iman sih Tan? padahal aku lagi nunggu kamu di sini," Rere berucap seperti itu kepada Sultan setelah dia melihat foto yang dikirimkan oleh prianya itu kepadanya.
Memang benar apa kata Sultan, Rere pasti akan tetap memarahinya, walaupun dia telah menunjukan beberapa bukti yang jelas kepadanya.
__ADS_1
"Tadinya gue emang mau nelepon elu dulu Re, berhubung di sana ada Pak Mukhsin, jadi gue menundanya terlebih dahulu, soalnya gue engga enak sama dia, dan lagian elu juga pastinya malu kan kalau gue nelepon elu ketika mana gue sedang berada didekatnya pada saat itu?" ucapan Sultan membuat Rere paham, dan dia memang mau menjaga sifat baiknya di hadapan beliau.
Sifat baik yang ia maksud itu adalah sifat baik Rere, bukan melainkan sifat baik dirinya sendiri. Kenapa Sultan tak mau memuji dirinya sendiri? dikarenakan pandangan beliau kepada Sultan masih akan tetap sama, yang di mana beliau akan menganggap Sultan sebagai siswa nakal! yang kerjaannya sering bolos sekolah, sama hal nya seperti teman-temannya itu.
"Maaf, gue kan engga tahu Tan," Rere merasa malu sendiri karena telah menuduh Sultan yang tidak-tidak di sana.
"Apaan sih Re, kagak jelas dah elu mah! kenapa juga harus minta maaf segala, lagian ini semua emang salah gue Re, karena gue telat mengabari elu dulu," ucap Sultan yang hanya bisa merendah dan mengalah untuk kebaikan pacarnya itu juga.
"Kamu udah makan Tan?" tanya Rere dengan manis.
"Sebelumnya gue mau nanya nih Re, kenapa elu engga mau melepaskan boneka itu?".
"Hmmm, engga apa-apa Tan, gue cuma merasa nyaman aja kalau sedang berada didekatnya."
Ucapan imut yang diberikan oleh Rere itu, sungguh membuat hati Sultan tenang, bagaimana bisa? dikarenakan seorang wanita manja benar-benar bisa menerima kepergiannya di sana, apalagi dia begitu senang menerima pemberian darinya.
Dia memang wanita penuh misteri, yang kaya akan sifat-sifat anehnya itu, seperti hal nya sifat manjanya, sifat keras kepalanya, sifat manisnya, dan sifat kasarnya, serta sifat perhatiannya itu juga dengan seketika bisa berubah-ubah dengan sendirinya dan sesuka hatinya.
Sultan memang tengah dilanda kebingungan, entah sampai mana dia akan bersikap seperti itu kepadanya. Entah apa yang akan dia lakukan kepada Sultan selanjutnya, dan entah sampai kapan dia akan membuat rindu menjadi debu yang berlalu.
"Manis beut pacar gue yang satu ini, untung saja gue jauh dari elu Re, coba saja kalau gue dekat dengan lu, dan mungkin pipimu itu bakalan habis gue cabik-cabik," ucapnya yang memang wajah manja Rere membuat Sultan ingin mencubit kedua pipinya.
__ADS_1
"Sukurin! siapa suruh kamu pergi PKL jauh-jauh, padahalkan PKL di sini juga bisa," Rere hanya meledek Sultan, padahal dia pun sama-sama merindukannya juga.
Tak ada yang dapat menahan senyuman dan tawa itu terhentak begitu saja, sementara mata masih sanggup digunakan untuk saling menatapinya, hanya saja angin mudah berlalu, sehingga rindu pun mudah membelenggu bagaikan air laut yang surut.