
"Ahh, sialan ini handphone! dari tadi ngajak ribut mulu, udah itu pake acara mati segala lagi, kenapa bukan mati dari tadi aja kek, padahal barusan gue lihat sendiri bahwa bilah setatus pacar gue lagi mengetik, untung aja gue sayang sama elu Phone, kalau gue engga sayang udah gue buang dari dulu lu."
Sultan tak dapat mengeluh, dia hanya bisa menerima sang angin berhembus dan tertawa melihat nasibnya yang sekarang ini.
Ketika handphone Sultan mati, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang, yang di mana seolah-olah sang angin tengah memperhatikannya serta meledek nasibnya yang amat malang ini.
"Udah deh, elu engga usah ngeledekin gue seperti itu! gue tahu elu lagi senang melihat nasib buruk gue ini sekarang, asalkan elu tahu, gue engga bermaksud untuk melupakan elu, akan tetapi sekarang rindu gue semakin terbelenggu, dan gue harap elu bisa membantu gue, bukan malah tertawa lepas kayak begini."
Ucapan Sultan seperti didengar oleh sang angin, di mana suara gemuruh angin pun perlahan-lahan mulai mereda, tapi ucapannya itu tak membuat sang angin berhenti, dikarenakan sekarang Sultan memang tengah membutuhkan hembusannya agar pikirannya dapat kembali normal seperti awal dia mendengar suara pacarnya di sana.
Sebelumnya Sultan memang sempat melupakan sosok angin yang selalu dia anggap sebagai teman di kala sepinya itu, tapi entah apa yang membuat dia melupakan sosok angin, padahal pada saat perkelahian dimenangkan oleh teman-temannya, dia pun ikut merayakannya dengan memberikan hembusan angin yang dapat membuat jiwanya semakin ringan saja.
Hembusan angin memang solusi terbaik untuk dirasakan setelah Sultan selesai berkelahi, tanpa hembusan itu rasanya terlihat berbeda dan sunyi, apalagi disaat keringat tengah deras-derasnya membasahi semua bajunya, hal yang paling dia butuhkan bukanlah minum, melainkan ada pada sang angin yang dapat mengubah rasa gerah menjadi sejuk yang tak bertepi.
"Hembusan elu membuat gue sadar, bahwa apa yang gue butuhkan sekarang itu hanya ada pada sujud gue serta ada pada Tuhan yang gue sembah, yakni Allah."
"Setelah gue selesai melaksanakan salat isya, gue bakalan duduk di depan teras ini lagi, apakah elu mau nemenin gue hingga gue tertidur di dalam ruangan kontrakan?".
Pertanyaan Sultan membuat angin bergemuruh kembali, entah apa yang telah dia ucapkan kepadanya sehingga sang angin dapat membalas semua ucapannya sebagaimana dia sedang berbincang dengan para teman-temannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian setelah Sultan selesai melaksanakan ibadah salat wajibnya, dia pun duduk kembali di depan teras kontrakan sesuai dengan janji dia kepada sang angin.
Sultan membakar satu batang rokok, dan lalu dengan perlahan dia menghembuskannya ke atas langit malam yang indah ini sedamai seperti dia melihat senyuman Rere.
"Bila waktunya tiba, gue akan menceritakan semua perjalanan yang sangat panjang ini kepada anak-anak gue dan cucu-cucu gue nanti, tak lupa gue pun akan bercerita panjang lebar tentang sosok angin yang sering datang disaat sepi melanda kegelisahan hati."
"Thanks ya, karena lu udah mau jadi teman sesaat gue, jangan lupa untuk tidak berhembus terlalu kencang seperti waktu elu menertawakan gue."
Sultan berbincang bersama dengan sang angin seperti orang gila saja, namun apa yang menurut dia baik untuk dia lakukan, dia pasti akan tetap melakukannya hingga sampai amarahnya mereda.
....
Itu adalah malam terakhir bagi Sultan mendengar suara dari sosok angin yang telah rela menemaninya hingga sampai selarut malam ini hanya untuk menghilangkan amarah Sultan serta rasa kekesalannya juga.
Setelah Sultan masuk ke dalam ruangan, sekarang yang terdengar ditelinga Sultan hanya suara dengkuran saja, bila dia membandingkannya dengan suara jatuhan uang recehan, maka suara uang recehan yang terjatuh itu akan terdengar lebih merdu bila dibandingkan dengan dia mendengar suara dengkuran teman-temannya.
"Suasana yang tak asing ini masih terdengar bising saja, dan ternyata suara dengkuran Dimas masih tetap berada di atas puncaknya, bisa dibilang suara dengkurannya adalah suara dengkuran paling keras diantara mereka semua."
Seperti biasa Sultan akan selalu menjahili para temannya yang mendengkur paling keras, dan keusilannya itu tentunya akan berbeda-beda.
__ADS_1
Niat buruknya yang sekarang, yaitu mencoret-coret raut wajah Dimas dengan menggunakan spidol, entah itu permanen, ataupun itu tidak, dia tak dapat memastikan spidol tersebut sebagaimana tinta hitamnya bekerja, dikarenakan semua lampu disegala penjuru ruangan sudah dimatikan oleh mereka, sehingga pandangan Sultan yang buruk itu semakin bertambah buruk saja.
"Hehe, rasain lu Dut! suruh siapa sih mendengkur sekeras ini, lagian dari dulu hingga sampai sekarang suara dengkuran elu itu masih tetap sama saja, engga mau berubah meskipun elu udah tahu resikonya seperti apa."
Suara tawa Sultan tak dengar cukup lepas, lantaran dia tak mengetahui jelas wajah Dimas sudah sehitam apa sekarang, untung saja semua lampu ruangan telah mati, jadi dia bisa mencoret-coret wajah Dimas tanpa diketahui oleh orangnya langsung.
Sultan agak sedikit terkejut ketika Dimas mengubah arah posisi tidurnya, Sultan kira Dimas sadar bahwa dia tengah dijahili oleh teman resenya itu, namun tentunya Dimas hanya sekedar mengubah arah tidurnya saja.
Sementara itu tanpa sengaja Sultan mendengar Rizki yang entah dia sedang mengigau apa, namun pada saat itu Sultan sempat mendengar dia menyebutkan kata, "Jangan pergi".
Ucapan itu membuat Sultan hampir membunyikan suara tawa yang dapat membangunkan mereka semua di sana, untung saja dia masih bisa menahannya walaupun bibir dia tak sengaja tergigit oleh giginya.
"Gila apa ya, si Rizki! hampir saja gue tertawa, kayaknya bukan hanya gue aja dah yang lagi galau, sepertinya teman-teman gue semuanya pada ngerasain hal yang sama seperti gue saat ini, makanya kenapa mereka semua tidur secepat ini," ucap Sultan sambil memegang perutnya, dikarenakan perutnya itu terasa begitu menggelikan, dan rasa gelinya itu sudah hampir sama seperti tubuh dia sedang dikelitiki oleh semua teman-temannya.
Sultan pun lalu tertidur di ruangan yang berbeda, tak terlalu jauh, dia hanya tertidur di samping motornya yang terdapat sedikit celah untuk Sultan membaringkan tubuhnya.
Sultan menyalakan headphone bluetooth yang sempat dia bawa dari rumahnya, dia memang sengaja membawa headphone tersebut agar suara dengkuran teman-temannya tak mengganggu waktu tidurnya di dalam sana.
Sultan membuka penutup baterai handphone miliknya, dan lalu dia pun mencabut SD cardnya agar dia bisa mendengar semua musik yang berada di dalam file SD cardnya itu.
__ADS_1
Tadinya Sultan mau langsung mendengarkan musik dari dalam handphonenya dan juga menghubungkan suara itu ke headphone bluetooth miliknya, namun karena handphonennya mati, jadi ia memilih untuk melakukan langkah kedua agar Sultan bisa membuat dirinya tertidur.