Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 103 : Suara lembut Teh Mawar


__ADS_3

Suara lembut yang kakaknya itu ke luarkan, dengan seketika membuat semua orang yang berada di sekitaran Curug Ciberem itu merasa sangat terpanah.


Terdiam takluk, tak sanggup untuk berpaling, dan bahkan telingan pun ingin terus mendengarkan suara itu tetap bergumam.


Setiap menit waktu berjalan, yang di mana tempat itu kini menjadi semakin sangat ramai saja, padahal hari Senin itu bukanlah hari libur bagi para pekerja dan para siswa sekolahan, namun sebagian orang yang mengunjungi tempat itu kebanyakan memang ada dikalangan para remaja yang ingin bercinta bersama dengan sang kekasih pujaan hati.


"Makin banyak orang yang datang aja! padahalkan ini bukan hari libur kan Tan?" ucap kakaknya itu.


"Ini kan tempat umum Teh, semua orang berhak untuk datang ke sini, dan kita pun engga bisa melarang mereka, dikarenakan di sini kita juga kan hanya sebagai pengunjung biasa," ucap Sultan sembari mengelus-elus rambut kakaknya itu dengan manis.


Angin di sana memang begitu kuat, dan terlebih gemuruh suara air terjun yang berjatuhan itu pun bisa dibilang selalu mendampingi angin yang tercipta di tempat tersebut itu di sana.


Dan sebenarnya waktu itu, bunda akan mengajak kedua anaknya itu untuk pergi kembali ke perkemahan, namun bunda tak ingin mengacaukan hari-harinya yang mudah berlalu itu begitu saja.


Beliau merupakan sosok malaikat yang sangat baik, dan bahkan kata itu hanya sebagian dari sifat beliau, yang di mana kata sempurna itu hampir mendekati seluruh sifat lembut bunda di bumi ini.


"Kapan kita kembali ke camp Bun? Stevia udah engga tahan sama dinginnya nih," ucap Stevia kepada bundanya sembari memeluk tubuh bundanya dengan erat.


"Yaudah ayo, kita pulang duluan aja, biarin kakakmu itu sama Sultan di sana," ucap bundanya sembari mengecup kening anaknya itu di sana.


"Robby, Danar, Agung ... kalian temenin Stevia dulu ya, bunda mau nyamperin kedua anak bunda dulu di sana oke," ucap bunda kembali sembari pergi menghampiri Sultan dan anak perempuannya itu.


Tapp, tapp ....


Suara langkah kaki bundanya itu sudah mulai terdengar ditelinga Sultan, dan yang pastinya bunda pun sempat menatap dahulu kedua anaknya itu sembari tersenyum dengan lebarnya di belakang mereka.


"Bunda duluan ke camp ya, kalau kalian berdua masih mau di sini juga engga apa-apa kok, tapi jangan terlalu sore pulangnya ya," ucap Bunda sembari memeluk kedua tubuh anaknya itu di sana.

__ADS_1


"Kalau bunda mau ke camp duluan, kita juga bakalan pergi bersama bunda aja," ucap Sultan.


"Kita pulannya nanti aja Bun, bunda duluan aja, Mawar bisa pulang sama Sultan," ucap kakaknya itu.


"Yaudah Bun, kita ke camp duluan aja, biarin Teh Mawar di sini sendirian," ucap Sultan, yang di mana dia pun membuat raut wajah kakaknya itu merunduk.


"Yaudah bunda, nanti Sultan jalan di belakang bunda lagi aja, palingan sebentar lagi kita pulang, soalnya Sultan belum salat zuhur," ucap Sultan yang membuat raut wajah kakaknya itu mulai kembali bisa menatap dirinya.


Kecupan dikening, telah bunda berikan kepada kedua anaknya itu, dan lalu setelah itu beliau pun pergi bersama dengan anak asuhannya yang lain di belakang sana.


"Rese lu Tan! sana pulang duluan!" ucap kakaknya sembari mencubit keras lengan Sultan.


"Ya, abisnya itu muka engga enak beut kalau dilihat! emangnya kenapa sih elu engga mau pulang bareng sama bunda?" ucap Sultan sembari mengelus-elus kembali rambut kakaknya itu.


Kakaknya hanya terdiam, dan dia lebih memilih untuk kembali menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan dengan manis.


Perbincangan itu hanya menghabiskan waktu 5 menit saja, yang di mana sejuknya angin di sana sudah mulai masuk ke dalam tulang rusuk kakaknya itu.


Sultan pun semakin merangkul erat tubuh kakaknya itu, dikarenakan ia takut akan kakaknya itu mengalami suatu kejadian yang selama ini banyak menyerang para pendaki di pertengahan jalan, yaitu Hipotermia.


"Makin ke sini, udara makin dingin ya, Tan! yaudah ah Tan, kita ke camp juga yo."


"Dingin kan? maka dari itu gue engga mau lama-lama di sini karena suhu tubuhmu mudah menurun drastis, dan apalagi elu sempat tumbang di pertengahan jalan! yang di mana hal itu paling gue takutkan."


Sultan pun lalu membawa kakaknya itu pergi, dan tentunya Sultan pun akan mengambil jalan pintas untuk pergi kembali ke perkemahan, dikarenakan bilamana ia mengambil jalan tadi, maka kakaknya itu akan dibuat kelelahan kembali.


"Dihh, elu mau bawa gue ke mana Tan? perasaan tempat ini sepi amat! dan terlebih tempat ini bukan jalur yang kita lalui tadi kan?" ucap kakaknya itu, yang di mana dia sempat melepaskan pelukannya dari Sultan.

__ADS_1


"Elu itu polos banget dah! emangnya apa yang gue inginkan dari elu? macem-macemin elu? ya, engga lah ... dasar bolot! udah lah diem aja! gue cuma ngambil jalur pintas agar supaya kita bisa lebih awal sampai," ucap Sultan, yang di mana ia pun langsung merangkul bahu kakaknya itu kembali.


"Susah banget rasanya kalau harus mencari pendamping hidup seperti Sultan, yang di mana hal ini yang gue inginkan dari dulu-dulu," ucap kakaknya dalam hati sembari kembali memeluk lengan kiri Sultan dengan erat.


Pelukan kepercayaan itu, kembali dia berikan, dan di sana Sultan pun dibuat tersenyum olehnya kembali, yang di mana Sultan berpikir kalau dia bersama dengan orang lain selain dia, apakah yang akan terjadi dengan kakak manisnya itu di sini.


Perjalanan pulang tentunya akan terasa lebih mudah untuk mereka berdua lalui, dikarenakan menuruni puncak, tak seberat ketika mana kita menanjaki tanjakan curam puncak.


"Cape kagak? kalau cape biar gue gendong lagi," ucap Sultan sembari milirik raut wajah kakaknya yang manis itu, yang di mana wangi rambut kakaknya itu ikut terbawa bersama dengan tiupan angin.


"Emang kagak berat gitu Tan? engga ah, gue engga mau ngerepotin elu mulu, kasihan anak orang entar sakit."


"Engga apa-apa berat juga Teh, asalkan elu selamat, dan kalau pun elu cape, bilang sama gue."


"Kalau gue cape, elu bakalan gendong gue lagi bukan Tan? yaudah gue cape Tan."


"Berhenti dulu bolot! perasaan dari tadi pengen digendong mulu dah elu Teh, elu engga lihat apa dibawah sana turunan tajam gitu kayak paku! emangnya elu mau jatuh barengan sama gue?".


Ucapannya itu, sungguh membuat kakaknya tertawa lepas, dan bahkan kakaknya itu semakin memeluk erat lengan Sultan tanpa sedikit pun dia mau melepaskannya.


Tak membutuhkan waktu lama, ketika mana mereka telah menuruni turunan puncak itu, mereka berdua pun telah sampai di sebuah jalan yang agak mendatar.


Dan setelah itu, kakaknya pun sempat mengajak Sultan untuk berfoto-foto di perkebunan teh bersama denganya sebelum mereka pergi kembali ke perkemahaan.


Dan tentunya bunda pun juga ada di sana, mereka semua sengaja menunggunya di sana, dikarenakan semua kawan Sultan itu telah menebaknya dari awal, bahwa Sultan akan melawati jalanan itu kembali untuk mempersingkat waktu.


Kakaknya menyuruh Stevia untuk berfoto-foto dengan Sultan, dan tentunya di sana lah Agung yang akan menjadi kameramen sementara untuk mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2