
"Tadi lu marah-marah, sekarang lu malah tersenyum-senyum sendiri kayak gini, makin hari sikap lu makin aneh aja dah Re!" ucap Sultan yang sebenarnya ia pun ingin mengetahui jelas kenapa sikapnya sering berubah disetiap waktu berjalan, namun bilamana ia bertanya pun tak ada gunanya juga, dikarenakan dia pasti takan pernah memberitahukan alasanya itu apa kepada Sultan.
Rere membuang wajahnya sambil menyantap makanan yang Sultan pesan sebelumnya. Rere hanya membisu bagaikan belantara malam yang sunyi tanpa adanya titik kehidupan.
Sultan dan Rere beranjak mencari keberadaan yang terdapat banyak kehidupan, yakni pergi menghampiri teman-teman Rere.
"Mendingan kamu main sama mereka dulu sana Re, soalnya gue mau salat zuhur dulu sebentar, mumpung gue masih bisa salat zuhur berjamaah di dalam mesjid itu di sana," ucap Sultan yang langsung pergi meninggalkan Rere sambil sesekali mencubit pipi Rere juga.
Rere hanya merespon ucapan Sultan dengan anggukannya saja, dan tak lama kemudian Sultan pun menghampiri Rere kembali, dikarenakan ia benar-benar lupa untuk menitipkan tas slempangnya itu kepada Rere.
Rere memakai tas slempang milik Sultan, dan setelah itu dia pun lalu duduk di kursi yang telah disediakan sebelumnya di sana.
Seperti biasa Rere pasti akan melihat-lihat isi di dalam tas slempang milik Sultan itu ada benda apa saja, dan lalu dia pun melihat di dalam tasnya ada sebuah buku catatan harian milik Sultan yang memang dia sering membawanya ke mana pun dia pergi.
"Udah lama juga gue engga lihat buku si Sultan ini, siapa tahu tulisannya ada yang baru lagi, mendingan gue lihat aja dah, penasaran juga gue sama isi tulisannya," ucap Rere seorang diri sembari melihat-lihat isi buku catatan Sultan.
Rere salah membaca buku catatan milik Sultan, dan sekarang buku yang tengah Rere baca adalah buku catatan harian dia selama bekerja di Tangerang.
__ADS_1
Sebenarnya Sultan juga salah membawa bukunya, dikarenakan buku catatan harian pribadi miliknya itu memang sama dengan buku catatan harian selama dia bekerja di Tangerang.
Rere pun sempat bingung, kenapa isi tulisan di dalam buku Sultan itu bukan tulisan Qoutes yang sering dia tulis di waktu luangnya, melainkan itu adalah catatan yang berbeda, bahkan Rere pun tak mengerti sama sekali tulisan tersebut itu berisikan tulisan kode apa.
"Tulisan apa ini! gue engga ngerti sama sekali, tapi gue tahu pasti dah kalau buku catatan Sultan cuma ada satu, yakni yang ini aja, apa jangan-jangan dia salah bawa buku lagi, dasar Sultan bolot! bagaimana coba kalau buku ini jatuh terus hilang, ceroboh banget dia ini ya!" ucap Rere yang masih berbicara seorang diri sambil memasukan kembali buku Sultan itu lagi, dikarenakan dia takut menghilangkan buku penting milik Sultan tersebut.
Tak lama setelah Rere memasukan buku Sultan, teman prianya yang sempat mengantarkan dia pulang itu menghampirinya.
"Kamu sendirian aja Re? ke mana teman cowokmu yang tadi itu?" tanya dia sembari mengernyitkan dahinya dengan tatapan penuh kejengkelannya juga.
"Udah berapa lama kamu temenan sama dia Re?"
....
"Sebenarnya dia itu pacar gue, walaupun gue belum mengenal lama sosok seperti Sultan, namun pada dasarnya gue sadar kalau dia adalah pria yang selalu ada di samping gue, bahkan dalam kondisi sesulit apa pun dia pasti akan selalu meluangkan waktu singkatnya itu hanya untuk memastikan apakah senyuman gue ini tetap terjaga meskipun jarak tengah memisahkan kita di sini," ucap Rere panjang lebar, dia berusaha menjelaskan kalau hubungannya bersama dengan Sultan itu bukan sebatas pertemanan saja.
"Menurut gue rasa sayang itu takan pernah bertahan lama Re, ketika dia bertemu dengan wanita yang lebih cantik darimu," ucap teman prianya mulai menguji kesabaran Rere.
__ADS_1
"Asalkan elu tahu, dia memang engga pernah menganggap gue sempurna dimatanya, namun dia pernah berkata sebarapa cantik wanita di luaran sana itu takan pernah membuat dirinya lupa, bahwa salah satu dari ketujuh bidadari surganya sekarang tengah turun ke bumi, dan sosok bidadari tersebut itu tidak lain adalah diri gue sendiri."
Teman Rere terdiam ketika mana Rere melontarkan ucapannya yang sudah lama dia simpan untuk membuat semua orang yang tengah mendekatinya itu terkagum-kagum.
Dan ucapan tersebut itu pun masih berada dititik tengahnya, bukan melainkan dititik terakhirnya, yang di mana Rere masih menyimpan beberapa patah kata lagi untuk diucapkan kembali kepada teman prianya itu.
Rere menghela napas panjangnya, dia berusaha mengingat ucapan yang telah dia siapkan sebelumnya untuk dilontarkan kepada siapa pun orangnya, dan tentunya itu bukan hanya kepada teman prianya itu saja.
"Sultan memang sosok pria keras kepala, bahkan setiap hari kita sering bertengkar hanya gegara masalah rindu, cemburu, dan takut, tapi di sini gue sadar marahnya dia, cemburunya dia, dan juga egonya itu bisa dibilang adalah sebagian rasa sayangnya yang selalu dia berikan sebagai pengingat untuk gue bahwa betapa besar rasa cintanya itu terhadap gue di sini," ucap Rere, di mana itu bukan ucapan terakhirnya di sana, melainkan dia hanya sedang menjeda ucapannya saja untuk mengambil napas panjangnya sejenak.
"Sultan, dia merupakan sosok pria menyebalkan yang dapat mengubah beberapa butiran abu menjadi belenggu kerinduan, dia telah membuat perkenalan menjadi sebuah pertemuan, dan dia telah mengubah hampa menjadi sebuah harapan yang pasti. Seberapa mandirinya gue di sini, dia akan tetap menjadikan gue sebagai wanita manjanya, itu adalah sifat yang selalu dia inginkan walaupun sebenarnya gue ingin mencoba mengungguli sifatnya yang kuat itu, namun dia sering melarang gue untuk melakukannya, dikarenakan dia tidak mau membuat masa muda gue menjadi kelam seperti masa muda Sultan yang sebenarnya."
Ucapan Rere dan kata-katanya itu semua berasal dari tulisan yang Sultan buat untuknya. Ternyata dia benar-benar menghafal semua tulisan Sultan, padahal sebelumnya Rere tak pernah terobsesi untuk menjadi seorang picisan seperti Sultan, namun dengan seketika Sultan membuat kekasihnya rajin membaca tulisan yang tak berarti apa-apa, tapi letak semua arti itu dapat kita rasakan bilamana semua orang dapat menyimpulkan maknanya dengan hatinya sendiri, asalakan mereka berniat untuk memahaminya sedalam seperti Rere.
Tak lama kemudian teman Rere pun mengangguk paham, dia tersenyum ke arahnya dengan tatapan terkagum-kagumnya.
Mungkin kali ini dia takan pernah berharap lebih untuk mendekati Rere, apalagi sampai mengambil hatinya karena itu takan pernah membuat Rere jatuh ke dalam pelukannya juga selagi Sultan masih menemani Rere di sini.
__ADS_1