
Masih dikisah nostalgia ....
Sesudah Sultan meminjam payung kepada Mas Yogi, ia pun segera menghampiri Rere, namun dia telah meninggalkan Sultan dengan gaya berjalan yang agak sedikit tergersa-gesa.
Sultan menoleh ke arah sekolahnya, tapi Rere tidak ada di sana. Dan lantas ia menoleh ke arah kanan, dan Sultan baru bisa melihat Rere sedang menjauhi dirinya, dikarenakan dia merasa takut Sultan akan menyakitinya, ataupun memarahinya.
Namun, pada dasarnya Sultan tidaklah marah kepadanya, hanya saja sedikit merasa cemburu, dan terlebih Rere pulang tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
"Haii, tunggu sebentar kenapa sih Re! ini pake payung dulu bolot, kalau nanti elu sakit gimana coba! emang elu rela melihat gue pulang pergi hanya untuk menjengukmu," ucap Sultan sambil berlari menghampiri Rere kala itu.
Ia merasa bingung! yang harusnya marah itu dirinya sendiri, bukan melainkan Rere. Tapi, kenapa Sultan tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengalah, dan sebenarnya Rere suka melihat Sultan berani mengalah kepada sikap keras kepala yang dia miliki itu.
Namun, Rere hanya ingin melihat seberapa perdulinya dia terhadap Rere. Dan tentunya Sultan perduli kepadanya, kalau saja Sultan tak memperdulikannya, yang jelas Sultan takan mengejar Rere sambil berhujan-hujanan bersamanya.
"Tunggu bolot! kok, jadi kamu yang marah sih Re, harusnya gue yang marah sama lu! jadi engga selera dah gue marahin cewe kasar kayak lu," Sultan langsung menarik tangan Rere dan menyuruhnya untuk berhenti melangkah kala itu.
"Ya, abisnya gue takut bego! makanya jangan marahin gue Tan," ucap Rere sambil menundukan kepalanya karena dia takut melihat Sultan marah kepadanya.
Sultan tertawa tipis, Ia beranggapan bahwa Rere adalah wanita yang sangat imut. Pantas saja kenapa Sultan sangat mencintai wanitanya itu, yang jelas dia nampak anggun disetiap sisi Sultan menatap kekasihnya itu.
"Idihh ... siapa juga yang marah sama kamu Re?".
"Ya, terus tadi kenapa kamu engga mau melirik gue sedikit pun Tan?".
__ADS_1
"Gue engga mau melihatmu jatuh sakit Re! maka dari itu gue minjem payung ini untuk menjagamu dari pedihnya menahan jatuhnya air hujan."
"Udah gitu aja? singkat banget perasaan Tan!".
"Iya, iya gue minta maaf sama kamu Re. Yaudah, jangan marah lagi lu bolot, mendingan sekarang lu pakai jaket gue ini."
"Terus kamu gimana Tan? yang ada entar kamu yang sakit."
"Gue sakit mah engga apa-apa Re, asalkan jangan kamu aja yang sakitnya," Sultan pun lalu memakaikan jaket gunungnya itu kepada Rere.
Tak lupa ia juga memasangkan kupluk jaketnya itu dikepala Rere, ditambah lagi payung yang ia pinjam sebelumnya pun ia berikan kepada Rere, bukan ia gunakan untuk melindungi seluruh tubuhnya dari jatuhan air hujan.
Tapi, Rere tak seegois itu, yang di mana Rere pun lebih baik memilih untuk memayungi Sultan, namun pada dasarnya dia bukanlah wanita yang tinggi-tinggi amat, jadi alhasil dia mengangkat tangannya dengan setinggi mungkin agar supaya payungnya itu bisa menutupi tubuh Sultan dari air hujan.
"Dasar pendek! kalau susah bilang aja sama gue, dan elu engga perlu tuh mengangkat tanganmu seperti itu, dan itu tuh engga ada gunanya! yang ada payung ini malah akan melukai mata gue karena dari tadi lu meganginnya engga bener!" ucap Sultan yang langsung mengambil payungnya itu.
....
"Ihh, apaan sih lu bolot! ngehinanya sakit beut! sampai masuk ke dalam hati gue," Rere memukul tangan Sultan serta mencubit pipinya juga kala itu.
"Kesian banget pacar gue, sampai-sampai tangannya diangkat sebegitu tingginya, seperti hal nya gue dulu waktu kecil melihat pesawat lewat sambil berteriak minta duit," ucapnya sembari tertawa bersama dengan Rere kala itu dengan lepasnya.
Kisah itu mungkin akan menjadi sebuah kenangan yang takan pernah terlupakan seumur hidup Sultan. Rere pun pasti akan mengingat hal itu karena dia adalah pengingat yang baik, beda dengan Sultan yang pelupa.
__ADS_1
Kembali ke awal cerita Sultan sedang memvideocall wanitanya itu di sana. Setelah mereka mengingat kenangan tersebut, dengan seketika mereka berdua tertawa bersama-sama dengan lepasnya, dan bahkan mereka berdua lupa bahwa ini sudah larut malam.
Sultan masih menunggu di luar ruangan kosan sambil menemani Rere tertidur. Ia senyap tak bersuara, dikarenakan ia takut Rere akan terbangun, dan terlebih Rere tidak sadar bahwa dia sendiri tengah tertidur tanpa dimatikannya videocall tersebut.
Sultan tersenyum menatapnya, sampai hingga seluruh temannya itu semua telah tiba dan hadir di luar kosan. Mereka tak langsung tertidur, yang ada mereka malah memberi Sultan kabar bahwa di depan sana tadi banyak wanita cantik yang sedang berkeliaran.
Tentu saja Sultan tak mau mendengarkan ucapan dari teman-temannya itu, sementara dia masih memiliki Rere yang lebih dari cukup untuk tetap mencintainya tanpa menduakannya di sana.
Dimas mendekati Sultan dan duduk di sampingnya. Dia berbicara kepadanya, kenapa Sultan tak mau pergi ke luar bersama dengan mereka? dan mereka menyangkanya Sultan memang sedang berjaga-jaga bilamana nanti Pak Mukhsin meneleponnya kembali.
"Kenapa lu engga ikut kita ke luar Tan? padahal di depan sana banyak cewe cantik, tapi sayangnya elu lebih memilih untuk berdiam diri di sini sendirian," ucap Dimas sembari menepuk bahu Sultan dan lalu dia pun merangkulnya.
"Pacar gua lagi tidur Dim, gue minta tolong sama lu jangan berisik oke!" ucapnya yang membuat Dimas ingin melihatnya juga.
Sultan menyembunyikan handphonenya, dikarenakan ada suatu permasalahan yang harus ia jaga, dan permasalahan itu hanya Tuhan, ibunya, dan Sultan lah yang boleh mengetahuinya.
"Eitss ... oke, oke, gue kagak bakalan gangguin elu Tan, tapi elu harus makan dulu sama kita, soalnya tadi elu makannya dikit amat!" ucapan manisnya itu membuat Sultan merasa geli! dan terlebih disaat Dimas akan masuk ke dalam kosan, dia sempat mencolek dagu Sultan.
"Gila lu! jangan sok manis kayak begitu! geli gue dengernya Dim!" Sultan pun lalu melemparkan sandalnya ke arah Dimas, hingga mana Dimas pun tertawa-tawa.
Seluruh temannya penasaran, kenapa Dimas dan Sultan bertengkar, namun itu bukanlah suatu pertengkaran yang sangat serius, melainkan itu hanyalah sebuah candaan yang Sultan dan Dimas buat-buat sendiri.
"Tan, sini makan! lu dari tadi belum makan, emangnya lu kagak laper apa Tan?" teriak Alamsyah kepada Sultan dari dalam ruangan kosan.
__ADS_1
Alamsyah adalah seorang santri, namun sifat serta tingkah lakunya tidak mencerminkan dia itu benar-benar seorang santri. Ya, mungkin karena sifat konyol dan gokilnya itulah yang membuat semua teman-temannya merasa heran terhadapnya.
Sultan lebih memilih berdiam diri di luar ruangan sembari menikmati rokok dan juga segelas susu jahe hangat yang dia buat sebelumnya, apalagi malam itu ia ditemani oleh sang rembulan malam yang bersinar dengan terangnya di atas sana.