
"Apaan sih Tan, perasaan bawel amat dari tadi! lagian bentar lagi waktu salat magrib juga loh, emangnya kamu engga pergi ke mesjid apa?" tanya Aisyah dicampur dengan perasaan serba salahnya, di mana dia tak sanggup menahan rasa ingin tersenyum dengan lebarnya di sana.
"Seperti janji gue yang sebelumnya itu, bahwa kedatangan gue ke sini cuma mau mengembalikan wadah makanmu ini saja, engga akan lama kok, lagian gue juga lagi bawa gajah genit di belakang sana," canda Sultan membuat Aisyah tertawa tipis.
Aisyah tertawa tipis sambil menutup mulutnya itu agar supaya tawanya itu tak dilihat jelas oleh Dimas, dia juga tanpa sengaja melihat raut wajah Dimas hanya selewat saja, entah kenapa pandangannya yang sekarang ini terlihat sangat buruk bila dibandingkan dengan tatapannya di waktu itu.
Sultan pun memberikan kotak makan milik Aisyah itu hanya dengan menggunakan tangan kanannya saja, dikarenakan tangan kirinya itu tengah memegang rokok yang sempat dia bakar di saung dekat kontrakan Aisyah bersama dengan teman gemuknya.
"Ihh ... kenapa sih elu selalu jahat sama teman-teman elu? lagian gajah itu adalah kata yang tidak tepat untuk diucapkan kepada dia," ucap Aisyah kembali menatap raut wajah Dimas.
"Terus yang tepat apa Syah?" tanya Sultan singkat, dan sekarang tatapan Sultan sangat datar, namun senyuman di raut wajah Sultan masih bisa dilihat jelas oleh Aisyah.
"Lagian menurut gue temanmu itu engga terlalu gemuk-gemuk amat kok, Tan, udah deh, jangan resein teman kamu itu, padahal dia itu orangnya baik loh, coba pikir dulu deh, dia rela nemenin elu sampai ke sini hanya untuk melihat kita berbincang di sini saja."
"Tapi engga sebaik guekan Syah?".
"Ihh ... bisa serius engga sih elu Tan! rasain nih."
Aisyah melempar kotak makannya ke arah Sultan, dan untung saja dia sempat menangkapnya menggunakan kedua tangannya itu, hingga mana kotak makan Aisyah tak terjatuh ke bawah tanah.
__ADS_1
Namun, nasib rokoknya sekarang tak dapat Sultan selamatkan lagi, hingga pada akhirnya rokoknya itu pun terjatuh ke bawah tanah, dan yang lebih parahnya lagi, rokok tersebut sempat mengenai tangannya.
Memang cukup panas, tapi dia masih bisa menahannya bila sewaktu-waktu Aisyah merasa bersalah terhadap dirinya, jadi ia lebih memilih untuk menahan rasa panas tersebut demi menjaga perasaan bersalah Aisyah.
"Untung saja gue sempat menangkap kotak makan siangmu yang hampir terjatuh ke bawah tanah ini Syah, andai saja gue lengah sedikit, dan mungkin gue engga akan sanggup untuk menangkapnya lagi, dan yang lebih parahnya lagi elu harus membasuh kotak makanmu ini untuk kedua kalinya, yaudah nih, gue kembalikan lagi sama elu," ucap Sultan sambil memberikan kembali kotak makan milik Aisyah itu.
Aisyah masih belum menyadari lengan Sultan yang sempat terkena bara api dari rokoknya itu, dan terlebih dia tak sadar kalau Sultan tengah memegang sebuah rokok, biasanya Sultan memang jarang sekali merokok di hadapan semua teman dekat wanitanya itu, bukan hanya Aisyah saja, melainkan teman wanitanya yang lain juga ada.
Setelah asik berbincang bersama dengan Aisyah berdua di sana, Sultan pun lalu pergi berpamitan kepada Aisyah, dikarenakan dia juga harus melaksanakan ibadah salat wajibnya di dalam mesjid bersama dengan Dimas dan juga bersama dengan para jamaah yang lainnya.
....
"Gue engga bisa janji sama lu ya, Syah, dikarenakan gue hanya memiliki beberapa janji yang harus gue tepatin," ucap Sultan membuat Aisyah bingung.
"Makasih ya, Syah, masakanmu enak, bila waktunya tepat, dan mungkin gue akan membiarkanmu mencicipi masakan yang gue buat sendiri nanti, tapi gue engga janji ya."
Aisyah tersenyum tipis, ternyata yang dia maksud dengan janjinya itu adalah Sultan ingin membalas pemberiannya dengan hal yang sama juga, yakni membuatkan Aisyah beberapa masakan buatan tangan Sultan sendiri.
Bukan hanya tersenyum, Aisyah juga menggangguk dan hanya bisa menunggu Sultan memberikan apa yang dia inginkan, namun Sultan sudah bilang kepadanya bahwa dia tidak bisa janji, maka dari itu Aisyah hanya bisa menunggu dengan harapan yang tak pasti akan terjadi.
__ADS_1
"Aihh ... ini bocah bolot! woii, lagi ngeliatin siapa sih lu Dut! perasaan dari tadi gue perhatiin kayaknya elu merasa damai-damai aman aja, udah selesai ngerokoknya? ayo, pulang. Yaudah Syah, gue pamit pulang dulu ya, assalamu'alaikum," ucap salam Sultan kepada Aisyah, dan di sisi lain ada Dimas yang terkejut ketika dia mendengar panggilan dari Sultan itu.
"Wa'alaikum Salam," balasan salam singkat dari Aisyah untuk Sultan.
Entah kenapa wajah Sultan terlihat agak sedikit datar walaupun di sana Sultan juga sempat memberikan senyuman tipisnya itu kepada Aisyah, tapi nampaknya Aisyah tak begitu yakin dengan tatapan Sultan itu.
Pantas saja mengapa Aisyah tidak begitu yakin dengan tatapan serta cara Sultan mengucapkan salam kepadanya itu tadi di sana, dikarenakan biasanya Sultan baru bisa pergi meninggalkan Aisyah setelah dia membuat sosok seperti Aisyah merasakan arti dari kata kesal itu terlebih dahulu.
Tak lama kemudian setelah Sultan pergi jauh meninggalkan tempat persinggahan Aisyah, di mana dia pun menyuruh Dimas untuk memberhentikan langkah kakinya itu sejenak, entah karena apa! Dimas hanya bisa mengikutinya saja.
"Ahhh ... panas beut tangan gue ini Dim!" teriak Sultan sambil memegang dan meniupi tangannya yang terkena bara api dari rokoknya itu tadi.
Sultan berteriak begitu lepas di sana, sehingga orang-orang yang mendengar dan melihatnya sangat terkejut, sampai-sampai Sultan sempat dianggap sudah gila oleh para warga yang sedang melintas di jalanan tersebut itu di sana.
Dimas terkejut bahwa Sultan benar-benar berteriak seperti itu. Lantas Dimas pun menenangkan Sultan, dikarenakan dia takut bahwa Sultan akan mengamuk di sana.
"Gila lu ya! elu kenapa bego? tiba-tiba teriak engga jelas seperti ini, orang-orang mulai memperhatikan elu tuh," ucap Dimas nampak kebingungan melihat Sultan tiba-tiba berteriak dimuka umum seperti orang gila.
"Mampus lu Dim! lu malukan sekarang? haha, tangan gue panas ini bego! gue engga sengaja nyenggol rokok gue sendiri tadi, rasanya tangan gue ini seperti mati rasa bilamana gue engga melepaskannya dengan teriakan ini," ucap Sultan dengan santainya mengabaikan semua tanggapan buruk dari orang sekitar.
__ADS_1
"Maaf ya, akang, teteh, teman saya memang punya penyakit Psikologis yang dapat membuatnya berteriak dengan sendirinya seperti orang gila," ucap Dimas yang tengah berusaha menjelaskan penyebab Sultan berteriak selepas itu di sana.
Namun, alangkah menyebalkannya Sultan, di mana dia tidak bisa berdiam diri melihat Dimas menjelek-jelekannya seperti itu, dan jadi dia pun membalikan kata-kata tersebut agar Dimas menerima rasa malu Sultan juga.