
"Oyy, Syah, gue pamit pulang dulu ya, terima kasih atas semua suguhan yang sudah elu hidangkan untuk gue, bukannya gue mau bermaksud seperti ini, abis makan tiba-tiba main pulang gitu aja, sebenarnya gue hanya ingin elu sadar aja, bahwa tempat curhat terbaikmu ada pada hatimu sendiri dan juga siapa penciptamu."
Setelah Sultan mengucapkan kata tersebut, dia pun lalu pergi meninggalkan Aisyah tanpa dia mau mendengarkan beberapa ucapan dari Aisyah terlebih dahulu.
Aisyah hanya mengangguk saja, tapi anggukannya tak sempat Sultan lihat, dikarenakan dia tak mau melihat lagi raut wajah murung Aisyah meskipun Sultan sudah berbicara panjang lebar agar dia tak terlalu memikirkan sesuatu hal yang dapat membuat semangat dari Aisyah jatuh ataupun menurun.
"Sebenarnya gue engga tahu elu itu siapa, tapi kenapa elu sering datang disaat gue benar-benar lagi membutuhkan pertolongan dari sosok seperti elu, hanya saja gue sering dibuat bingung oleh sifat rese yang elu miliki itu, kenapa setelah elu menolong gue, elu sering pergi begitu saja tanpa jejak, tanpa elu mau berpamitan selengkap seperti yang gue harapkan."
Aisyah mengoceh seorang diri setelah Sultan pergi dari depan teras kontrakannya itu. Tanpa Aisyah sadari bahwa ternyata wanita-wanita yang berada di dalam kontrakan sempat melihat dia dan mendengarkan perbincangan dia bersama dengan Sultan.
Apa yang mereka dengarkan itu semuanya adalah curhatan dari Aisyah, dan sekarang mereka sadar, ternyata sosok ceria seperti Aisyah pun membutuhkan sandaran seperti dorongan ataupun masukan dari seorang teman yang selalu siap mendengarkan semua keluhannya di sana.
Mereka sudah terlalu lama membiarkan Aisyah beriam diri tanpa mereka sadari bahwa dia pun membutuhkan sebuah rangkulan yang dapat menghilangkan beban pikiran dihidupnya.
"Sosok ceria seperti Aisyah ternyata bisa galau juga ya, apa jangan-jangan kita semua sebagai teman lamanya sudah salah dalam segi memahami perasaan Aisyah yang selama ini terlihat baik-baik saja di hadapan kita semua," ucap salah satu teman Aisyah yang masih saja menengok temannya itu dari balik jendela.
__ADS_1
"Kayaknya iya sih, selama ini kita selalu membiarkan dia tertawa tanpa kita mengetahui isi hatinya, Kang Sultan aja bisa mengerti perasaan Aisyah, walaupun dia cuma teman baru, masa iya kita kalah sama dia," ucap salah satu sahabat dekat Aisyah yang merasa iri dengan sikap perhatian Sultan.
Mereka semua terdiam, dan mereka merasa bahwa ucapan temannya itu ada benarnya juga, masa iya mereka sebagai sosok orang yang paling dekat dengan Aisyah sama sekali tak dapat memahami isi hati Aisyah, sementara Sultan adalah sosok yang baru mengenal Aisyah, namun akan tetapi dia sudah dapat mengetahui kegelisahan Aisyah seperti apa dan karena apa.
Aisyah masuk sambil terbingung-bingung melihat semua temannya tengah berkumpul di ruang utama, pantas saja pada saat Aisyah akan masuk ke dalam ruangan kontrakan, tiba-tiba pintu kontrakan begitu sulit dia buka, dan ternyata sahabatnya itulah yang menghalangi jalan Aisyah untuk masuk ke dalam ruangan.
"Kalian ini lagi ngapain sih di sini? udah itu semuanya pada diam di depan pintu lagi, pantas saja gue sulit membuka pintu kontrakan, ternyata elu yang ngehalangin jalan gue untuk masuk! perasaan bukannya tadi itu elu-elu semua lagi pada diam di ruang tengah ya, tapi kenapa selarang elu semua tiba-tiba main nongol aja di sini."
....
Aisyah terlihat bingung, kenapa wajah teman-temannya terlihat seperti orang yang sedang menyimpan rasa bersalah kepada dirinya, bahkan pada saat Aisyah bertanya semua temannya malah terdiam.
Aisyah masih saja ngeyel dan masih saja menutupi rasa gundahnya yang terbelenggu itu di hadapan mereka semua, padahal mereka semua sudah mengetahui jelas bahwa sekarang Aisyah tengah dilanda kegelisahan, dan rasa tersebut beriringan dengan hati yang dikecewakan.
Setelah Aisyah masuk ke dalam kamar, kini mereka mulai berani membuka mulutnya dan juga mulai berani membahas titik permasalah yang tengah Aisyah hadapi sekarang ini.
__ADS_1
Mereka berniat untuk membantu Aisyah, namun seberapa giat mereka membantu Aisyah, itu semua takan berjalan sesuai dengan apa yang tengah mereka pikirkan, dikarenakan usaha mereka telah tersampaikan oleh Sultan, dan sekarang dialah orang pertama yang sudah membuat hati Aisyah agak sedikit membaik.
"Apa kita coba hibur dia dengan cara gila kita ini aja ya? siapa tahu dia bisa tertawa lepas lagi seperti hari biasanya, tapi jangan sekarang, lebih baik kita lakuinnya besok aja gimana? soalnya ucapan Aisyah yang tadi itu ada benarnya juga, kita semua butuh waktu untuk beristirahat sejenak agar besok kita bisa bekerja semaksimal mungkin," ucap salah satu teman terdekat Aisyah.
"Mata gue juga udah berat nih, tapi sebelum itu kita pastiin Aisyah dulu, apa dia benar-benar udah tidur atau dia hanya tiduran aja, gue cuma takut kalau sekarang dia lagi nangis di dalam sana," ucap salah satu teman Aisyah, sebenarnya dia bukan teman dekat Aisyah, namun dia adalah teman yang sudah menemaninya selama dua Tahun ini.
Mereka semua setuju, lantas sesudah mereka memastikan bahwa Aisyah benar-benar sudah tertidur di dalam sana, hingga pada akhirnya mereka semua pun tertidur pulas.
Sementara Sultan, dia masih saja menunggu kabar dari pacarnya yang menghilang entah ke mana, sampai-sampai dia terus-menerus memandangi kontak Whatsapp Rere tanpa sedikit pun dia berpaling darinya.
Sultan beranggapan apakah mungkin data internetan Rere itu sudah habis, makanya sekarang dia pergi ke tempat yang menjual paket data internetan untuk dikirim kepada pacarnya.
Tak lama kemudian setelah Sultan membelikan Rere paket data internet, hingga pada akhirnya kontak Whatsapp Rere pun sudah terlihat online.
Ternyata dugaan Sultan memang benar, bahwa paket data internet Rere sudah habis, tapi malam itu Sultan tak sempat melihat Rere membalas pesan Whatsapp darinya, dikarenakan ponsel Sultan mati dengan sendirinya, dan untung saja sebelum ponselnya mati Sultan sempat menulis beberapa pesan di aplikasi Whatsappnya agar Rere tak salah dalam memahami semua alasan mengapa disaat Rere online, Sultan malah menghilang.
__ADS_1
Alasan Sultan dapat dimengerti dengan mudahnya oleh sosok Rere, lantas dia pun tak ingin membuang waktunya lagi hingga mana Rere baru bisa berucap kata terima kasih dan kata maaf karena dia telah merepotkan Sultan.
"Sepengertian itukah elu sama gue Be! bahkan elu juga tahu apa yang sedang gue butuhkan sekarang ini, makasih ya, dan sebelumnya gue juga mau minta maaf karena dari tadi siang gue sibuk membantu ibu gue beres-beres rumah serta menjaga adik-adik gue, dan sebenarnya tadi itu gue juga mau videocall elu, tapi tiba-tiba internet gue terputus, pokoknya gue balakan terima semua hukuman yang akan elu berikan kepada gue, bahkan sekali pun hukuman itu adalah kemarahan elu sendiri Be," kata Rere dalam ketikan pesan di Whatsapp.