
Masih berada di dalam pukesmas, yang di mana hari itu sungguh sangat membuat mereka tertawa lepas karena ulah dari salah satu seorang pria yang mau mendekati kekasih cantik Sultan itu.
Setelah Sultan dan Rere ke luar dari dalam ruangan pemeriksaan itu, kemudian nama mereka berdua pun dipanggil oleh seorang petugas, yang di mana petugas itu bertugas sebagai pemberi obat.
"Kakak Sultan, kakak Rere ... kalian sudah bisa mengambil obatnya di ruang admin ya," ucap petugas itu memanggil nama mereka berdua.
"Kok, nama kita bisa dipanggil barengan ya, Tan? aneh banget dah! biasanya kan satu orang satu orang yang bakalan dipanggilnya," ucap Rere sembari menatap Sultan dengan wajah yang terheran-heran.
"Mungkin petugasnya tahu kali Re, kalau kita itu pasangan yang engga bisa dipisahkan," ucap Sultan yang sama-sama menatap Rere.
"Ngaur aja kamu mah Tan! dan terlebih emang mereka tahu kalau kita pacaran gitu?".
"Semestinya tahu sih Re, tapi kalaupun mereka engga tahu, gue bakalan bilang kepetugasnya bahwa kita itu pasangan yang engga bisa dipisahkan."
"Untung gue pakai masker ya, Tan? kalau misalnya gue engga pakai masker, pastinya elu senang dah tu, ngelihat gue tersenyum karena ulahmu," ucap Rere sembari mencubit pipi Sultan.
Mereka berdua pun lalu menghampiri meja admin, yang di mana meja itu adalah tempat untuk mereka mengambil obat yang telah dokter kasih, ataupun yang telah dokter pastikan, bahwa obat itu memang benar-benar harus mereka minum.
Dan setelah itu, mereka berdua pun lalu kembali ke luar dari dalam pukesmas itu di sana. Dan sebelum itu, yang di mana tadi itu Rere mau menanyakan apa pertanyaan yang dokter berikan kepada Sultan di dalam ruangan pemeriksaan itu di dalam sana.
Akan tetapi, waktu itu Rere tak mau banyak bertanya dulu kepada Sultan, dikarenakan ia tak mau membuat Sultan semakin lama di sisinya karena Sultan harus pergi kembali masuk ke dalam sekolahnya itu.
Dan tak lama kemudian, Sultan pun lalu kembali menuntun Rere berjalan untuk pergi mengantarkannya masuk ke dalam rumahnya itu di sana, dikarenakan ia takut kalau melihat Rere hanya berjalan sendirian tanpa ia tuntun terlebih dahulu.
__ADS_1
Dan di sana Sultan pun memilih untuk berdiam diri terlebih dahulu di dalam rumah Rere itu, dikarenakan tugas dia untuk melaksanakan praktek jurusan itu, telah selesai semua ia kerjakan, dan jadi ia bisa kembali berbincang dengan ibu Rere di dalam sana terlebih dahulu.
"Seharusnya kamu engga perlu menuntunku seperti ini Tan? soalnya aku juga bisa kok, kalau harus berjalan masuk ke dalam rumah aja," ucap Rere, yang di mana waktu itu Sultan benar-benar menuntunya dan benar-benar memegang tangan, serta bahu Rere.
"Tugas aku itu adalah ini Re, yang di mana tugas gue itu harus bisa menjagamu sebaik mungkin karena ucapan ibumu itu, sungguh membuatku terinspirasi, bahwa mimpi gue berjalan itu mulai dari sini," ucap Sultan yang hanya fokus menatap jalan dan menuntun Rere, namun pada saat itu Rere benar-benar memperhatikan Sultan dengan tajamnya sembari tersenyum panjang.
Ucap salam kembali Sultan lantunkan, dan seperti biasa ibu Rere pun membukakan pintu rumah dengan segera, dikarenakan ibunya itu memang telah lama menunggu mereka hadir di dalam sana kembali.
....
"Asalamu'alaikum," ucap salam Sultan.
"Wa'alaikum Salam, tunggu sebentar ya, Sultan, mamah bukain dulu kuncinya," ucap ibu Rere sembari membukakan pintu rumah dengan perlahan.
Dan Sultan pun tak langsung duduk di kursi sofa itu, dikarenakan ia harus membelikan Rere bubur untuk dia makan terlebih dahulu, karena itu adalah pesan yang dokternya itu tadi berikan kepada Rere.
"Mah, Sultan mau minta izin ngambil minum di belakang dulu buat Rere ya, soalnya Rere harus minum obat sebelum makan terlebih dahulu," ucap Sultan, yang di mana waktu itu ibu Rere menyuruh Sultan untuk tetap diam menemani Rere saja, dikarenakan beliau lah yang akan mengambilkan minum itu untuk Rere dan Sultan.
"Kapan kamu mau masuk ke sekolah lagi Tan? dan itu kamu kenapa masih berdiri aja? duduk kenapa sih Tan, nanti juga mamah gue pasti bakalan balik lagi kok," ucap Rere sembari menatap Sultan kembali.
Dan tak lama setelah itu, ibu Rere pun datang dengan membawakan dua gelas air putih untuk mereka minum terlebih dahulu di dalam sana.
Dan di sana, Sultan pun lalu mengambil dua gelas air putih itu, namun tentu saja Sultan lebih mementingkan Rere terlebih dahulu, yang di mana padahal ia juga sama-sama harus meminum obat juga di dalam sana.
__ADS_1
"Ini obat sebelum makan ya, Re, kamu harus minum obat ini dulu, dan udah itu kamu baru boleh makan," ucap Sultan sembari memberikan obat itu untuk Rere minum terlebih dahulu.
"Tunggu dulu di sini sebentar ya, Re, Sultan mau beli dulu bubur buat kamu makan," ucap Sultan kembali sembari pergi berpamitan kepada ibunya juga di sana.
Motor tua kembali ia nyalakan, dan selepas itu Sultan pun lalu pergi dari rumah untuk membelikan Rere bubur terlebih dahulu. Namun, setelah Sultan ke luar dari rumah itu, Rere pun lalu menceritakan tingkah laku Sultan tersebut itu di sana tadi kepada ibunya.
"Tadi dia nyebut namanya sendiri kan? gue engga salah denger kan Tan? kok, bisa-bisanya elu bersikap sopan hanya di hadapan ibu gue saja ya? tapi jujur Tan, gue seneng melihat elu seperti ini," ucap Rere dalam hati sembari menatap kembali Sultan yang tengah menggunakan sepatunya itu.
"Ini obat kamu bukan Re? banyak juga ya? apa semua ini harus kamu habiskan juga ya, Re?" ucap ibu Rere sembari melihat bungkus obatnya itu.
"Yang satu lagi itu bukan obat Rere Mah, melainkan itu adalah obat punya Sultan, dan obat punya Rere cuma yang ini Mah, yang ada salepnya."
"Sultan sakit juga?".
Seketika itu, Rere pun lalu tertawa, dan tentu saja beliau pun merasa heran! kenapa anaknya itu tiba-tiba tertawa, ketika mana ibunya itu berkata seperti itu kepada anaknya itu di dalam sana.
"Malah ketawa lagi kamu mah Re! orang Sultan juga sama-sama sakit kayak kamu di sini, kenapa kamu malah seneng kayaknya ya?".
"Kalau Rere ceritain semuanya, mamah juga pasti bakalan tahu, kenapa Rere bisa tertawa lepas kayak gini kepada dia di sana tadi," ucap Rere yang masih tetap tertawa lepas.
"Kenapa emangnya? ceritain sama mamah."
"Tadi itu, Rere bilang sama Sultan, apakah dia berani berobat juga seperti Rere, dan tentunya Rere bilang seperti itu hanya sebuah candaan aja, namun Sultan terlalu berlebihan, yang di mana tadi itu Sultan beneran daftar juga dong Mah, sebagai orang sakit," ucap Rere yang tertawa semakin lepas di hadapan ibunya itu langsung di dalam rumah itu di sana.
__ADS_1
Dan seketika itu, ibu Rere pun lalu tertawa lepas, ketika mana Rere menceritakan tingkah laku Sultan yang seperti itu kepadanya tadi di dalam pukesmas itu di sana.