Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 104 : Hari terakhir


__ADS_3

Setelah Sultan berfoto-foto di atas puncak perkebunan teh bersama dengan ketiga wanita yang sangat dia cintai itu di sana, yang di mana kemudian Sultan bersama dengan seluruh keluarganya pun mulai kembali menuruni puncak perkebunan teh tersebut itu untuk pergi menyinggahi kembali perkemahannya di bawah puncak itu di sana.


Dan seperti biasa Sultan pun berjalan dibarisan paling akhir bersama dengan bundanya, dan lantas kakaknya itu berjalan di membelakangi tubuh Sultan bersama dengan adik perempuannya, Stevia.


Esok adalah hari terakhir Sultan melihat dan bertemu bersama dengan keluarga angkatnya itu di Pondok Halimun Sukabumi.


Namun, hari itu adalah hari yang tak begitu tepat untuknya, dikarenakan Sultan pun harus menjemput dan menemui kekasihnya itu di tempat, yang di mana kekasihnya itu tengah melaksanakan tugas terakhirnya tersebut di sebuah perusahaan yang letaknya memang tak begitu jauh di sekitaran sekolah dan di sekitaran rumah Rere.


Dan Hari itu, Rere tengah memandangi raut wajah Sultan, yang di mana dia memang sengaja menganti wallpaper di dalam layar handphonenya itu dengan menggunakan foto raut wajah mereka berdua.


Foto itu dia ambil ketika mana mereka berdua sedang bermain di tempat yang sekarang tengah Sultan injaki, dan di mana lagi kalau bukan di Pondok Halimun.


"Kok, tiba-tiba gue kangen sama si bolot ini ya! apa gue telepon dia aja kali ya, tapi ... emangnya di sana bakalan ada sinyal gitu! coba dulu aja deh, siapa tahu ada," ucap Rere yang mulai menelepon Sultan sembari tersenyum dan bergumam tawa dengan tipisnya.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara telepon Sultan berbunyi, yang di mana waktu itu dia baru saja selesai melaksanakan salat zuhurnya bersama dengan keluarganya.


"Aihh, ini si bolot! perasaan ini adalah jam masuk pelatihan kerjanya dah, tapi kenapa bisa-bisanya dia malah nelepon gue! apa dia engga akan dimarahin sama karyawannya gitu ya," ucap Sultan, yang di mana dia pun sama-sama tersenyum dan bergumam tawa dengan tipis.


Sultan pun di sana sempat merasa bingung, kenapa di tempat seperti ini ada sinyal sekuat itu, dan lantas ia pun mulai mengangkat panggilan suara dari Rere dengan di iringinya senyuman manis.


"Asalamu'alaikum bolot," ucap Rere dengan nada manis serta nada suara manjanya itu.

__ADS_1


"Wa'alaikum Salam Be, ada apa nih? kok, tiba-tiba elu nelepon gue dengan nada suara lembutmu itu, apa jangan-jangan elu lagi rindu ya, sama gue di sana?" ucap Sultan, yang di mana ia pun dibuat tertawa oleh kekasihnya itu di sana.


"Gue kira engga nyambung telepon gue Tan, tapi kok, ini malah nyambung ya."


"Mungkin elu nelepon gue disaat gue udah melaksanakan panggilan dari Allah kali Be, makanya Allah memberikan sinyal sebagus ini kepada gue di sini."


"Woww, alhamdulillah kalau begitu Tan, padahal tadi itu gue mau bilang elu udah salat zuhur belum, tapi tahu-tahunya elu peka sendiri."


"Hal tersebut itu, engga perlu kamu ingetin lagi Re, karena panggilan wajib itu adalah suatu tugas yang harus gue laksanain di bumi ini Re," ucapnya, yang di mana ia merasa sangat senang ketika mana ia mendengar bahwa sikap perhatian Rere itu semakin bertambah disetiap waktu berjalan.


"Gue pulang jam dua Tan, soalnya bengkel Yamaha sekarang lagi sepi, dan jadi siswa PKL bisa pulang lebih awal."


"Ini gue mau langsung pulang juga kok, Re, tunggu sebentar ya, gue mau mampir dulu ke warung makan, gue tahu kalau elu belum makan kan?".


Tutt ....


Suara panggilan dengan seketika Rere matikan, dikarenkan Sultan takan pernah mau kalau Rere menyuruhnya untuk mematikan teleponnya itu lebih dulu.


....


Sementara itu, Sultan pun lalu pergi berpamitan kepada keluarganya dan juga dengan seluruh kawannya, yang di mana hari ini memang bukan hari yang tepat, dan mungkin malam nanti Sultan akan datang kembali untuk menikmati indahnya dan hangatnya api unggun di perkemahan bersama dengan keluarga dan juga bersama dengan kawannya kembali.


"Bunda, Sultan pamit mau jemput Rere dulu ya, mungkin besok Sultan engga akan tertinggal, dan tentunya Sultan akan mengantarkan rombongan bunda hingga ke jalur akhir Kota Sukabumi," ucap Sultan sembari mengecup tangan bundanya dengan manis, dan serta ia pun lalu mengecup kening bundanya itu juga dengan manis.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ya, Tan," ucap bundanya, yang di mana beliau pun mengecup kening Sultan dengan manis juga.


"Haii, jangan murung gitu ah! kalau teteh murung! wajah cantinya itu engga akan terlihat lagi, nanti malam gue bakalan temenin hari terakhir elu di sini, kalau perlu nanti gue temenin elu tidur juga dah di dalam tenda," ucap Sultan sembari mengelus-elus rambut kakaknya itu kembali, namun kali ini ia benar-benar membuat rambut kakaknya itu berantakan.


"Kalau bohong! gue bunuh lu! dan ini jaket lu, maaf kalau gue baru balikinnya sekarang, soalnya gue bener-bener lupa Tan, untung aja Stevia ngingetin teteh, kalau engga mungkin jaket ini udah gue bawa pulang," ucap kakak wanitanya itu sembari membuka resleting jaket gunung yang tengah dia gunakan itu.


"Simpen aja buat kenang-kenangan, lagian jaket gunung gue ada banyak di dalam lemari, dan terlebih harusnya di alam terbuka seperti ini, elu harus menggunakan pakaian yang sedikit agak tertutup biar nanti engga mudah terserang Hipotermia, contonya Agung, dia pernah mengalami sakitnya menahan Hipotermia," ucap Sultan kembali, yang di mana ia pun menutup kembali resleting yang tadi kakaknya itu sempat membukanya.


"Tapi kalau dia menggunakan pakaian yang agak sediki tertutup nanti, apakah gue bisa memanjakan mata ini lagi engga ya, Gung?" ucap Danar sembari membisiki telinga Agung.


"Gue harap, kakaknya Stevia tetap akan menggunakan pakaian terbuka seperti itu sih Nar, dan tentunya hal itu merupakan sebuah harapan yang ingin gue lihat kembali nantinya," ucap Agung, yang di mana dia pun membisiki telinga Danar.


Sultan pun lalu datang dan mencubit badan kedua temannya itu dengan keras, dikarenakan Sultan sudah mengetahui ucapan yang mereka bisiki itu pastinya akan berbau hal yang negatif.


"Kalau ngomong itu dijaga! kalian jangan pernah memanfaatkan sifat kepolosannya itu dengan hati buruk elu, kalau sampai gue mendengar kata-kata yang engga baik ke luar dari mulut kalian berdua itu, elu bakalan habis semua sama gue," ucap Sultan yang membisiki telinga kedua kawannya itu juga sembari mencubit keras badan mereka dengan sekuat tenaga, dan tentunya Sultan berbicara seperti itu hanya sekadar candaan saja, dikarenkana ia berbicara sembari tersenyum kepada mereka.


"Sakit Tan! oke, oke, gue engga akan merusak tubunya yang mulus itu, dikarenkan gue engga pernah mengharapkan hal itu semua kok, Tan," ucap Danar dan juga Agung seirama.


"Kalau lu mau cewek cantik dan wah kayak dia, gue bisa kasih kalian sepuluh janda, mau apa kagak?" ucap Sultan yang perlahan melepaskan cubitannya itu.


"Kirim aja nomer Whatsapnya ke gue Tan, asalkan janda itu belum memiliki anak," ucap Danar, yang di mana Sultan dan juga Agung pun dibuat tertawa lepas olehnya.


Grungg, grungg, grungg ....

__ADS_1


Suara motor tua kembali Sultan nyalakan, dan lalu dengan perlahan ia menjalankan motornya itu sembari melambaikan tangannya, dikarenakan bundanya pun sempat melambaikan tangannya itu di belakang Sultan.


__ADS_2