Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 168 : Mod baik


__ADS_3

Sultan mengecup tangan ibu Rere, dan setelah itu ia pun lalu pergi meninggalkan beliau bersama dengan adik-adiknya di sana. Beliau sudah memberi izin untuk Sultan membawa anaknya, entah berapa lama ia akan membawa Rere pergi, tapi untung saja ibu Rere pun tak lama lagi akan meninggalkan rumahnya juga, setahu Sultan beliau akan pergi ke rumah bibi Rere.


Sultan mulai menyalakan motor tuanya, dan seperti yang pernah ia ucapkan sebelumnya bahwa sikap Rere sekarang begitu kaku, tetapi tidak dengan senyumannya yang lebar itu.


Sepanjang jalan Rere tak memeluk tubuh Sultan selain hanya tersenyum lebar di belakangnya, ia sengaja mengatur kaca spion motor tuanya yang difokuskan langsung ke arah raut wajah Rere.


Dia sama sekali tak menyadari hal itu, dan terlebih Sultan pun tak berkata apa-apalagi kepadanya, rasanya hari ini sama saja seperti hari pertama kali ia bertemu dengan Rere, semuanya terdiam tanpa suara sebelum Sultan lah yang mengembalikan tawa itu kepada wanitanya.


Sultan mulai membuka mulutnya, ia mulai menceritakan semua pengalamannya pada saat dirinya tengah melaksanakan ujian prakerinnya itu di Tangerang.


"Ohh, iya Re, sebelumnya gimana PKL kamu di sini? yang pastinya lancarkan?" tanya Sultan sembari menatap raut wajah Rere di balik kaca spion motor tuanya.


"Emm, alhamdulillah Tan, PKL gue lancar, terus gimana dengan PKL kamu, yang pastinya lancar juga kan?" tanya Rere sembari mengatur kembali kaca spion motor tua Sultan.


"Selancar gue mencintaimu Re, tapi sebelumnya ini kaca spion udah gue atur agar gue bisa melihat senyumanmu itu loh Re," ucap Sultan yang kembali mengatur kaca spion motornya itu.


Setelah Sultan mengatur kaca spion motornya itu, lantas Rere pun malah mengubah arah pandang kaca spion motor tersebut kembali, yang di mana dia berkata bahwa kali ini dia hanya ingin melihat wajah Sultan saja, bukan melainkan ingin melihat wajahnya sendiri.


Pada saat Sultan mengubah kembali posisi arah kaca spion motornya itu, dengan seketika Rere pun mengembalikan arahnya lagi, namun Sultan sempat memegang tangan Rere dan menyuruh Rere untuk diam sebelum mereka berdua terjatuh dari atas motor tua itu.


"Udah lah Re, lagian kaca spion motor yang di sebelah kiri pun masih ada, kenapa elu engga mengubah arah pandang kaca spion yang satu lagi itu aja," ucap Sultan dengan dipegangnya tangan kanan Rere.


Sultan memegang tangan kanan Rere, dan setelah itu ia pun memegang tangan kiri Rere, lantas ia mulai melingkarkan tangan Rere agar dia memeluk tubuhnya saja di belakang sana.

__ADS_1


Akhirnya, Rere menyandarkan manis kepalanya dibahu Sultan, dia memeluk erat tubuh Sultan, dan ternyata dia hanya ingin diperlakukan seperti itu olehnya.


"Manja amat sih Re! baru aja sebentar gue tinggal di Kota orang, tapi rindu kamu ini kayaknya udah setengah mati ya," ucap Sultan mulai meledeki Rere dengan kata-kata menyebalkan seperti biasanya.


"Kalau mati engga akan ada rindu Be, lagian elu engga pekaan sekarang, apa mungkin elu di sana punya ... ," ucapan Rere dipotong begitu saja oleh Sultan.


"Jangan mulai deh Re, kayaknya elu suka amat dah berantem sama gue hanya karena masalah rindu, emangnya engga ada gitu pembahasan yang asik untuk dibicarakan selain kata kecemburuan?".


"Kapan lagi bisa kayak gini Tan, mumpung mod gue lagi bagus sekarang, jadi elu harus bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin."


....


Harapan Rere kepada Sultan begitu besar, dia percaya bahwa prianya dapat membuat dia jauh lebih bahagia ketimbang dengan waktu yang sekarang ini.


"Be, mungkin di Bulan depan kita engga akan bisa bertemu seperti ini lagi," ucap Sultan yang membuat Rere heran, tapi sekarang dia tak langsung melepaskan pelukannya itu.


"Kenapa emangnya Tan?" tanya Rere sembari melirik Sultan dengan tatapan manjanya.


"Bulan depan udah puasa, gue engga mau mengurangi pahala ibadah puasa gue di sini, jadi satu Bulan itu kita engga akan bisa bertemu seperti ini lagi."


Rere berpikir sembari mengernyitkan dahinya, dia merasa ucapan Sultan engga ada salahnya juga, dan jadi dia hanya bisa memeluk erat tubuh Sultan untuk saat ini selagi masih ada dan sempat.


"Berat ya, Be, mungkin ini akan menjadi kisah nyata kita berdua di Kota yang sering kamu sebut-sebut dengan Kota kecil sejuta kerinduan," ucapan Rere mewakili perasaan Sultan, yang di mana dia pun menyetujui apa kemauan Sultan untuk tidak bertemu selama satu Bulan penuh.

__ADS_1


"Engga ada rindu yang berat menurut gue Be, bahkan gue sering kali dibuat bingung oleh kata-kata tersebut, tapi gue belajar dari tulisan gue sendiri, bahwa arti dari kata berat itu adalah kurangnya kita dalam berdoa, serta sering kali kita melupakan siapa yang menciptakan kita, dan siapa yang menciptakan rindu itu juga," ucapannya terpotong, dikarenakan ia memang sengaja menunggu lontaran kata yang akan Rere ucapkan kepadanya.


"Terus apalagi Tan?" ucap Rere yang masih merilik Sultan dengan tatapan manjanya.


"Maka dari itu kenapa gue sering menegaskan kamu untuk selalu mendahului Allah terlebih dahulu Re, kurang lebihnya supaya nanti kamu engga kemakan rasa rindu yang terbelenggu itu."


Rere terdiam menyaksikan apa yang ingin dia lihat dari seorang Sultan, apakah kebiasaannya itu akan hilang ketika dia sedang berada jauh di sisinya, tapi tentu saja itu adalah hal yang tak mungkin Sultan lakukan, apalagi menghilangkan sedikit rasa sayangnya kepada Rere, itu adalah hal yang takan mungkin terjadi.


Di sana terlihat ibu Sultan tengah menunggu kehadiran Rere, beliau tak memberikan respon apa-apa selain menjawab salam dari Rere.


Beliau memeluk erat tubuh Rere di hadapan Sultan langsung. Ia tersenyum melihat mereka berdua saling menyayangi dan saling menerimakan satu sama lain seperti itu.


Pelukannya cukup lama, sehingga mata Rere terpejam merasakan apa itu arti dari rasa kasih sayang yang sebenarnya.


Tak lama kemudian beliau mengajak Rere masuk ke dalam rumah tanpa menyuruh Sultan untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo masuk Re, jangan malu-malu, mamah udah pernah bilang sama Rere, anggap aja ini seperti rumah Rere sendiri," ucap beliau dengan lembutnya.


"Sultan bagaimana Mah?" tanya Rere sangat polos sekali ketika mana dia sedang berhadapan langsung dengan ibu Sultan.


"Biarin aja Re, nanti juga dia masuk sendiri, lagipula dia mau ke luar sebentar, soalnya tadi ada temen sekampungnya yang datang ke sini."


Rere masuk ke dalam rumah sembari meledek Sultan, dan kali ini Rere berhasil membuat beliau acuh kepada anaknya itu di sana.

__ADS_1


__ADS_2