Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 215 : Tangerang


__ADS_3

Singkat cerita, yang di mana sekarang Sultan telah tiba di stasiun Serpong. Pada saat ia menyalakan data di handphonenya, dengan seketika pesan Whatsapp berbunyi tanpa henti, lantas ia pun mengubah nada suaranya itu menjadi berdering saja.


Di dalam handphonenya terlihat bahwa Rere memecahkan rekor sebagai penelepon terbanyak, bahkan bila dibandingkan dengan Dimas tidak ada apa-apanya.


Dimas hanya menelepon Sultan sebanyak 5 kali panggilan telepon suara saja, dan sedangkan kekasihnya yang bernama Rere itu menelepon dirinya sebanyak 20 panggilan telepon suara.


Sultan lebih memilih untuk menelepon Dimas terlebih dahulu, dikarenakan sekarang ia tengah membutuhkan tumpangan darinya.


"Dim, ini gue udah sampai di stasiun Serpong, cepat jemput gue di depan parkiran motor," ucap Sultan yang langsung mematikan panggilan suaranya itu.


"Idihh, ini anak emang gila! padahal gue mau ngajakin dia main dulu, tapi dia malah matiin teleponnya gitu aja, awas aja lu Tan, gue bongkar motor tua lu ini biar engga bisa jalan sekalian," ucap Dimas mengancam Sultan, namun sayangnya Sultan tak mengetahui niat buruk temannya itu.


Dimas memanaskan mesin motornya terlebih dahulu, sementara teman-temannya yang lain baru mengeluarkan motornya dari dalam kosan.


Rencana mereka saat ini adalah pergi ke luar dari kosan untuk mencari angin segar di jalanan, namun mereka semua sengaja menunggu Sultan hadir terlebih dahulu di Tangerang, lantaran mereka semua tidak mau meninggalkan Sultan seorang diri di dalam ruangan kosan.


"Udah jam dua Dim, kok, si Sultan masih belum sampai juga, coba telepon dia dulu, udah itu tanyain kalau dia udah sampai mana, atau lebih baik kita tungguin Sultan di stasiun serpong aja kali ya," ujar Azmi kepada Dimas yang tengah asik menggerung-gerung motornya.


"Dia udah ada di stasiun Mi, emangnya Alam engga ngasih tahu elu bukan? cepetan ke luarin motor elu sekarang Mi, kita langsung berangkat aja, soalnya gue kesian sama si Sultan, dia udah nunggu lama di sana," ucap Dimas kepada Azmi, di mana Dimas pun menjalankan motornya terlebih dahulu.


Azmi lalu masuk ke dalam kosan, namun pada saat dia akan melangkahkan kakinya itu ke dalam kosan, tanpa dia sadari kalau dia baru saja menginjak kotoran ayam, dan yang lebih parahnya lagi dia tak menggunakan sandalnya, alhasil Azmi masuk ke dalam kosan dengan kaki yang terjingkit-jingkit.

__ADS_1


Semua temannya merasa heran, kenapa dia masuk ke dalam kosan dengan kaki yang terjingkit-jingkit seperti itu.


"Elu kenapa Mi? perasaan tadi pagi kaki lu baik-baik aja dah, tapi sekarang kenapa elu jadi terpincang-pincang seperti itu," tanya Rizki kepada Azmi, di mana Azmi salah menceritakan hal yang tengah dia alami sekarang, dan terlebih Rizki itu teman yang sama kompornya seperti Alamsyah.


"Ahh, sial! barusan gue engga sengaja nginjek kotoran ayam di situ Ki, udah itu gue lupa engga pakai sandal kesayangan gue lagi," ucap Azmi sembari menunjuk ke arah kotoran ayam yang barusan dia injak, dan ucapannya itu bisa dibilang terlalu polos, padahal dia sudah mengetahui sifat kompor seorang Rizki di sana.


Rizki berlari sambil tertawa lepas, dia membicarakan ucapan Azmi kepada semua temannya, dan alhasil mereka semua menjauh dari Azmi dengan tawa lepasnya masing-masing.


"Lam, Lam, Lam, itu si Azmi nginjek kotoran ayam, mana bau lagi, udah itu dia engga pakai sandal kesayangannya," ucap Rizki membuat Alamsyah tertawa lepas.


"Heii, heii, lihat si Azmi nginjek kotoran ayam, kata dia ini coklat Lam, tapi tahu-tahunya itu kotoran ayam, mana dia udah sempat nyobain rasanya lagi," tambah lagi dengan candaan Alam, mereka semua menertawakan Azmi dan menyebut Azmi adalah teman yang jorok.


Mereka semua meninggalkan Azmi, sementara Azmi tengah mencuci kakinya, dan sekarang dia tengah bingun akan menggunakan motor Sultan apa menggunakan motornya sendiri, akan tetapi bilamana dia menggunakan motornya sendiri yang dia takutkan bensinnya akan habis, sedangkan motor Sultan bensinnya masih Full.


Akhirnya Azmi lebih memilih untuk menggunakan motor Sultan saja, lagian Sultan pasti akan mengizinkan Azmi membawa motornya ke mana pun tempatnya, asalkan dia tidak merusak motor tua kesayangannya itu.


"Sial! mereka semua ninggalin gue lagi, udah tahu bensin motor gue habis, untung aja ada motor Sultan, jadi gue bisa nyusul mereka semua ke stasiun," ucap Azmi seorang diri, di mana dia pun langsung mengeluarkan motor Sultan dari dalam kosan sambil sesekali memanaskan motor Sultan juga.


Dimas sekarang sudah bersama dengan Sultan, sedangkan Alamsyah dan kawan-kawan masih ada di depan jalan yang letaknya tak cukup jauh dari sekitaran area kosan mereka.


Mereka memang sengaja berhenti di depan jalan sana untuk menunggu Azmi, mereka mengira Azmi tidak akan menggunakan motornya karena bensinnya habis.

__ADS_1


Mereka baru sadar bahwa di dalam kosan masih ada motor Sultan, maka dari itu Alam memutuskan untuk pergi duluan saja, sementara Rizki menunggu Azmi atas dasar kemauannya sendiri.


Tak lama kemudian Azmi ke luar, Azmi mengira Rizki sudah pergi bersama dengan Alamsyah, namun ternyata dia masih setia menunggunya di depan sana.


"Gue kira elu udah berangkat Ki, tahu-tahunya elu masih ada di sini, yaudah tunggu apalagi, kita berangkat sekarang," ucap Azmi meninggalkan Rizki di belakang sana.


"Ehh, dasar bolot! bukannya bilang terima kasih sama gue karena gue udah nungguin dia di sini, tahu-tahunya dia malah ninggalin gue," ucap Rizki yang langsung mengejar lajuan motornya sambil sesekali menepuk pundak Azmi lantaran dia merasa kesal dengan sikapnya.


"Gila lu Mi! kalau tahu gitu gue engga akan nungguin elu di sana tadi, dasar bocah sialan!" teriak Rizki membuat Azmi terkejut, dia mengira yang menepuk pundaknya itu bukan Rizki.


"Maaf Ki, gue kagak tahu, abisnya kalian ninggalin gue gitu aja hanya gara-gara kotoran ayam," ucap Azmi dengan tatapan terkejutnya.


Sekarang tinggal menunggu Azmi dan Rizki, mereka semua kini tengah berdiam diri di depan pintu masuk stasiun kereta listrik Serpong.


Tanpa disengaja, Alamsyah melihat pipi kanan Sultan yang memar, lantas dia pun menanyakan kenapa bisa pipi temannya itu memar.


"Kenapa pipi lu Tan? kok, bisa memar begitu, elu berantem sama orang lain bukan? bilang sama kita siapa yang udah menghajar lu," tanya Alamsyah kepada Sultan, namun Sultan hanya merespon ucapannya dengan senyuman manisnya saja.


Sultan sudah menceritakan semua masalahnya itu kepada Dimas, dan di sana Sultan membiarkan Dimas saja yang menceritakan masalahnya itu kepada Alamsyah.


"Ditonjok sama Rere Lam, sebenarnya luka itu adalah luka pukulan dari orang lain selain Rere, namun pacar dia malah menambah luka tersebut dengan pukulannya sendiri, katanya sih engga sengaja, tapi mana mungkin pukulannya bisa sampai melukai wajahnya itu," ucap Dimas menejelaskan semua sebab kenapa pipi Sultan bisa memar seperti itu kepada semua temannya di sana.

__ADS_1


__ADS_2