
Sementara itu di kediaman Aisyah, Sultan dan seluruh temannya tak langsung mampir terlebih dahulu, dikarenakan dia harus membahas rencana yang akan dia buat untuk menjebak para brandalan itu nanti.
"Syah, gue sama teman-teman gue mau pamit dulu ya, pokoknya malam ini elu jangan pergi ke mana-mana dulu, tunggu sampai situasinya udah membaik aja, dan setelah itu elu boleh tuh pergi keluyuran seorang diri."
"Kalau perlu sih gue yang nemenin elu setiap saat Syah, tapi sayangnya gue harus menjaga hati gue ini untuk seseorang yang sudah lama menunggu gue pulang, jadi gue engga bisa melindungi elu sesering mungkin, yang terpenting sekarang elu harus bisa berbicara dengan hati elu sendiri, jangan dibanyakin ego ya, perbanyaklah salat, berdoa, dan intinya mendekatkan dirilah kepada Allah."
Setelah melontarkan ucapan itu, Sultan pun lalu pergi dari tempat singgah Aisyah, namun pada saat Sultan akan pergi dari sana, tiba-tiba saja Aisyah menahannya, dan sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu hal, tapi alangkah menyebalkannya Sultan, di mana dia malah pergi begitu saja sambil menutup kedua telinganya.
Lantas Aisyah pun melempar satu buah batu kecil, dan batu tersebut tepat mengenai punggung Sultan, di sana Sultan pun sontak dibuat terkejut oleh batu yang menimpugnya, hingga pada akhirnya dia lebih memilih untuk menghampiri wanita cengeng itu di sana.
"Ada apa sih Syah? guekan udah bilang, lebih baik sekarang elu masuk ke dalam rumah aja, emangnya elu engga takut apa kalau para brandalan itu datang ke sini lagi, dan terlebih gue juga harus membahas masalah surat ancaman itu tadi bersama dengan teman-teman gue," ucapan Sultan tak membuat Aisyah takut, dan malahan Aisyan ingin ikut bersama Sultan.
"Gue ikut," ucap Aisyah sambil mengernyitkan dahinya.
Sultan tertawa tipis, dan Sultan mengira bahwa dia juga pernah mendengarkan ucapan tersebut, namun orangnya bukanlah Aisyah, melainkan orangnya adalah Rere.
"Engga akan gue biarin elu ikut Syah, bila ada sesuatu hal yang masih mengganjal dihati elu, mendingan sekarang elu ungkapin aja di sini, berhubung gue masih punya sedikit waktu, jadi gue masih bisa menjadi pendengar yang baik untuk elu."
Sebenarnya Aisyah memiliki dua pertanyaan untuk diungkapkan kepada Sultan di sana, namun dia berpikir bahwa mungkin Sultan hanya akan menjawab satu pertanyaan darinya saja, dikarenakan pertanyaan yang akan dia berikan adalah masalah temannya, dan juga rencana yang akan Sultan buat nantinya.
Berhubung Sultan masih mau mendengarkan Aisyah berbicara, dan jadi dia lebih memilih untuk menanyakan satu pertanyaan yang bertentangan dengan teman-temanya itu saja.
__ADS_1
"Langsung keintinya aja ya, Tan, sebenarnya apa yang elu bicarakan dengan teman-teman gue tadi."
"Engga banyak kok, Syah, gue cuma menghajar wajah teman elu itu aja, dan selepas itu gue pergi, tapi elu tenang aja ya, gue tahu mereka semua akan membantu elu untuk menyelesaikan semua masalah elu ini, mungkin malam sekarang ataupun malam besok teman-teman elu itu semuanya akan datang Syah."
"Dan pokoknya elu engga harus tahu rencana gue yang selanjutnya apa, nanti juga bila sudah waktunya elu juga akan tahu sendiri Syah, yaudah ya, gue mau pamit dulu, soalnya teman-teman gue udah pada pulang duluan tuh."
Ternyata sebelum Aisyah bertanya hal itu, Sultan sudah dapat menebak pertanyaannya sebelum dia yang memberi tahunya terlebih dahulu.
....
Akhirnya Sultan bisa pergi meninggalkan Aisyah, namun alangkah menyebalkannya, motor tua Sultan itu malah mati secara tiba-tiba.
"Yaelah Gur, Gur ... kenapa pake acara mogok segala sih! perasaan di sini elu yang paling banyak jajan dah, gue bingung sama elu Gur, sebenarnya mau elu apa sih hah! tadi aja waktu gue boncengin Aisyah, elu terlihat adem-adem seperti biasanya, awas aja lu, gue kilo juga lu nanti Gur!" oceh Sultan sambil mendorong motornya.
Tak lama setelah itu tiba-tiba Sultan melihat salah satu bayangan hitam yang muncul di belakangnya. Sinar lampu yang terpasang di jalanan itu membuat Sultan sadar bahwa ada seseorang yang sedang mengikutinya dari arah belakang.
Sultan sengaja menyetandarkan motor tuanya dan berhenti berjalan di jalanan yang cukup sepi seraya menghela napas panjang sembari bersiap siaga.
Wushh ....
Suara pukulan balok hampir saja menghantam kepalanya, dan untung saja Sultan sempat menghindar, jadi alhasil pukulan tersebut tak mendarat dikepalanya.
__ADS_1
"Hha, tidak semudah itu kawan, lagian elu bodoh! nyerang di belakang gue berdekatan dengan cahaya lampu untuk apa! yang ada pukulan elu itu akan gue lihat, mendingan sekarang elu buka dah masker lu itu, biar gue tahu elu itu orang suruhan atau teman-teman dari para brandalan bodoh yang semalam gue kalahkan," ucap Sultan sambil tertawa tipis.
Helm yang berada digenggaman tangan Sultan telah siap untuk dia lemparkan, dan dengan seketika dia melemparkan helm tersebut ke arah yang berlawanan, yakni ke arah belakangnya.
Musuh di depannya benar-benar meremehkan Sultan, hingga pada akhirnya helm yang dia lemparkan itu tepat mengenai wajah musuhnya yang lain.
Sultan sadar bahwa orang yang ada di hadapannya itu tidak sendirian, mereka tidak tahu caranya mengatur strategi yang baik dan benar, maka dari itu Sultan tahu bahwa di belakangnya masih ada musuh yang sewaktu-waktu dapat menghantamnya disaat Sultan lengah.
"Di Pramuka gue diajarkan caranya bertahan hidup dari serangan hewan buas, dan di Pramuka gue juga belajar teknik berburu, jangankan hanya memburu hewan buas untuk dimakan Bro, berburu sesama teman pun gue sanggup asalkan gue engga mati di tengah hutan yang lebat."
"Satu-persatu gue akan membongkar rahasia licik elu ini, dan sekarang lebih baik elu pergi saja, gue tahu kalau sekarang gue lagi dikeroyok oleh mangsa gue sendiri."
"Gue engga akan pernah takut, walaupun gue tahu resiko yang gue hadapi ini bukan sebuah candaan."
Sekiranya di belakang sana itu ada sepuluh orang bilamana dia menghitung jumlahnya dari bayangan yang tersorot oleh cahaya lampu jalanan.
Ahhh ....
Sultan melentangkan kedua tangannya dengan lepas sembari membunyikan suara yang persis semacam itu di sana. Dia tak bisa lari, dikarenakan jalanan telah diblok oleh mereka.
Musuh yang berada di hadapan Sultan itu mulai melawan, tapi perlawanan dari musuhnya begitu lemah dan pergerakannya juga begitu mudah Sultan tebak, jadi alhasil Sultan pun dapat merobohkan lawannya itu hingga sekarang dia memiliki balok digenggaman tangannya.
__ADS_1