
"Gue heran sama elu dah Tan, kenapa elu bisa setenang ini sih dalam merespon semua ancaman dari para brandalan gila itu, emangnya elu engga takut sama ancaman mereka apa Tan?" tanya Aisyah membuat Sultan cengengesan.
Huuhh ....
Suara hembusan napas Sultan memperlihatkan siapa Sultan yang sebenarnya, pandangannya pun masih terlihat datar seperti di hari-hari biasanya, dan sekarang dengan begitu tenangnya Sultan menatap langit-langit pagi sambil sesekali menggerak-gerakan tangan kanannya.
"Apa yang harus ditakutkan oleh seorang serigala Syah, asalkan elu tahu, satu serigala yang kelaparan akan terlihat lebih menyeramkan bila dibandingkan dengan sekumpulan serigala yang bisanya hanya melolong meminta bantuan kepada temannya."
"Satu serigala yang kelaparan akan terlihat jauh lebih pintar dari para musuhnya yang berkelompok itu, dan cara dia berdiam diri seperti itu bukan dikarenakan sebab dia takut, melainkan dia tengah memikirkan seribu cara agar dia bisa membuat mangsanya lengah, hingga pada akhirnya rencana tersebut dapat membuat sang mangsa terjatuh, terdiam, serta dibuat tercengang olehnya."
Jangankan musuhnya, Aisyah pun sekarang dibuat tercengang oleh sosok Sultan, ternyata selama ini dia sabar bukan karena dia takut, namun akan tetapi diamnya dia adalah cara, yang di mana cara tersebut dia simpan sebagai salah satu senjatanya untuk membuat semua musuhnya takluk.
Tak hanya sampai di situ saja, bawelnya Sultan takan pernah berhenti sebelum dia melihat tatapan takut Aisyah berubah menjadi tatapan penuh akan rasa kepercayaan.
"Gue mau mengetahui lebih lanjut lagi rencana apa yang tengah mereka buat itu untuk menaklukan gue di sini, dan apakah rencana tersebut akan terlihat seperti mereka benar-benar menganggap gue adalah mangsanya ataupun akan terlihat sebaliknya."
"Biarkan mereka bertingkah terlebih dahulu, selagi masih ada ruang untuk gue, dan mungkin ruang itu akan gue jadikan jebakan, hingga mana mereka semua masuk ke dalam sana."
Ucapan terakhir itu Sultan terdengar lebih mengancam bila dia membandingkannya dengan surat ancaman yang sebelumnya sempat Aisyah baca.
__ADS_1
Aisyah tak mau mengetahui rencana Sultan, dan dia juga tak ingin menanyakan ucapan terakhir dari Sultan itu adalah apa, dikarenakan dia sudah mengetahui pemikiran seorang Sultan akan mengarah ke mana, intinya Sultan takan pernah memberitahu rencananya itu kepada Aisyah.
Mungkin Sultan sadar bahwa rencana yang dia buat itu hanya akan membuat keselamatan Aisyah menjadi terancam, maka oleh sebab itu Sultan memilih untuk diam agar Aisyah pun ikut terdiam.
Sultan dan Aisyah berbicara dalam hatinya masing-masing sembari menatap ke arah yang sama juga, yakni langit-lagit pagi.
"Gue engga mau melihat elu terluka dan masuk ke dalam bahaya hanya gegara elu ada di sana untuk membantu rekan-rekan gue menyelesaikan perkelahiannya, ini adalah tanggung jawab gue, tentunya gue engga akan membawa-bawa elu lagi, dikarenakan masalah ini bukan tanggung jawab yang harus elu tuntaskan, sampai kapan pun gue akan tetap melindungi teman-teman gue hingga semua problem yang mereka perbuat terselesaikan," ucap Sultan dalam hati, di mana pandangannya terlihat bahwa dia sedang menakuti sebuah hal, dan hal itu mengarah ke arah teman wanitanya yang bernama Aisyah.
"Ini semua akan menjadi masalah yang harus gue hadapi juga Tan, selagi gue masih bisa membantu elu, gue akan tetap ada di sisi elu dan juga di sisi teman-teman elu semuanya, dikarenakan apa yang kalian lakukan itu berhubungan langsung dengan gue di sini," ucap Aisyah dalam hati, di mana pandangannya yang sekarang tak sama dengan pandangan seorang Sultan
Ucapan Sultan adalah suatu alasan mengapa sekarang dia tak terlihat takut sedikit pun, dan apa yang dia takutkan itu adalah rasa yang harus Aisyah lepaskan agar semua rasa takut itu hilang disapu oleh rasa keyakinan.
....
Sultan bertanya kepada Aisyah ada berapa banyak jumlah teman-teman wanitanya di dalam sana, bila jumlahnya sama dengan jumlah teman-teman Sultan, maka Sultan akan menghubungi mereka dan menyuruh mereka untuk datang ke tempat singgah Aisyah.
"Ngomong-ngomong ada berapa banyak jiwa yang tinggal di dalam sana Syah? berhubung situasinya masih berada dalam tahap kegentingan, maka dari itu gue ingin memberikan beberapa penawaran yang harus elu terima," ucap Sultan sambil memberikan jabatan tangannya yang entah itu untuk apa.
"Jumlah mereka ada delapan Tan, berikut juga dengan gue, emangnya kenapa? atau jangan-jangan elu mau ngajakin teman-teman gue pacaran ya, tolong lah Tan, jangan serakah! satu aja udah pusing ngurusnya, apalagi sembilan orang, emangnya elu sanggup Tan?" canda Aisyah tanpa sengaja dia sudah membuat Sultan tertawa.
__ADS_1
"Idihh ... kok, malah bercanda sih Syah, ini gue lagi serius bego! padahal apa susahnya coba tinggal panggil mereka aja dan bilangin sama mereka apakah mereka mau gue ajak untuk pergi berangkat ke tempat kerja bersama dengan teman-teman gue," ucap Sultan dengan sengaja menutup raut wajah Aisyah menggunakan tangan kanannya.
Hal tersebut sudah sama seperti toyoran, namun yang dia lakukan itu hanya sebatas membalas candaan dari Aisyah saja, dikarenakan dengan santainya dia menganggap tawaran Sultan itu adalah sebuah tawaran yang tak sungguh-sungguh Sultan berikan kepada Aisyah.
Mereka berdua lalu memanggil semua temannya, di mana yang satu memanggil temannya di dalam kontrakan, dan sementara yang satu lagi memanggil temannya lewat panggilan telepon suara.
Sultan menelepon Dimas agar dia mengajak semua rekannya untuk pergi ke tempat singgah Aisyah di pagi hari yang sungguh cerah ini, dan ternyata kercerahan itu sudah sama seperti sebuah harapan yang sudah lama mereka ingin rasakan.
Dimas sempat dibuat bingung oleh sosok Sultan, kenapa dengan seketika saja dia mengajak semua rekannya untuk pergi ke tempat singgah Aisyah, dan tentunya hal ini adalah suatu pertemuan yang mereka harapkan dari dulu.
"Gue yakin elu semua pasti bakalan tersenyum lebar dengan sendirinya, dan sebenarnya di dalam lubuk hati gue yang paling dalam bahwa gue sangat terpaksa melakukan hal yang sekarang ini, terutama gue meminta tolong kepada beberapa orang yang bisa dibilang sering menagih-nagih timbal balik dari gue."
Ucapan Sultan itu terlalu berbelit-belit, hingga pada akhirnya Dimas pun menyuruh Sultan untuk berbicara singkat saja agar rasa penasarannya itu terbayar lunas.
"Woii, tinggal ngomong langsung aja apa susahnya sih bego! jangan terlalu berbelit-belit lah Tan, soalnya pikiran gue lagi mumet ini ahh."
Dimas terlihat bingung, mengapa sepagi ini Sultan sudah pergi ke luar begitu saja tanpa dia mau memberitahu Dimas dan juga tanpa dia mau mengajak Dimas.
"Cepat datang ke kontrakan Aisyah, bukan hanya elu saja, ajakin juga teman-teman gue, jangan lupa bawa motor sendiri-sendiri, pokoknya jangan sampai ada yang nebeng."
__ADS_1
Tuttt ....
Suara panggilan yang ditutup oleh itu Sultan malah semakin membuat Dimas bingung, bahkan pada saat Dimas akan bertanya alasan Sultan menyuruh semua temannya untuk pergi ke tempat singgah Aisyah itu kenapa, dengan seketika Sultan menutup panggilan telepon suaranya itu tanpa dia memberikan satu patah kata lagi kepada Dimas.