Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 35 : Saling mencintai


__ADS_3

Masih di waktu dan di tempat yang sama. Mereka berdua masih duduk sembari tertawa-tawa di hari itu dengan lepas. Mereka berdua merasakan bahwa ada kebebasan ketika mana Sultan bersama dengan Rere duduk di dalam sekolahnya itu, dan mereka bedua merasa bahwa hanya ada mereka saja yang ada di dalam sana.


Senyuman manis itu mengingatkan Sultan akan suatu hal, dan hal itu adalah kebahagiaannya yang selama ini melekat pada diri Rere di sana seorang.


"Siapa kamu? dan siapa aku? kita berdua adalah dua hati yang saling mencintai. Panggil lah aku kekasihmu, maka dari itu aku akan menyebutmu sebagai anugrah terindah yang diberikan Tuhan untukku saat ini," ucap Sultan dalam hati sembari melirik Rere dengan penuh rasa cinta di dalam sekolah itu.


"Aku berbeda sepertimu pangeran, aku tak bisa bersikap lebih manis kepada dirimu kekasih, namun di sini aku selalu mencintaimu, wahai Sultan ... sang pria, yang selalu aku dambakan dari dulu," ucap Rere waktu itu yang sama-sama berbicara dalam hati kepada Sultan.


"Aihh, telinga gue kok, tiba-tiba panas ya, Re? apa kamu lagi ngomongin gue ya, di dalam hati elu?" ucap Sultan yang membuat Rere tersenyum.


"Kepedean amat sih elu Tan! buat apa coba aku ngomongin elu! dan sedangkan elu di sini ada di hadapan gue," ucap Rere kepada Sultan waktu itu sembari mencubit Sultan dengan manis.


"Elu engga bisa bohong sama gue Re, pipimu itu memerah, menandakan bahwa kamu lagi berbohong sama gue."


"Ihh, masa sih Tan! jangan bohong sama gue!" ucap Rere sembari melihat wajahnya itu lewat kaca yang sering ia bawa di saku bajunya itu.


"Merah kan? maka dari itu, elu engga bisa berbohong sama gue Re, seribu alasan yang elu buat itu engga akan mempan terhadap gue! karena gue selalu tahu, sikap pacar gue itu seperti apa di sini."


Tak lama setelah itu, speaker sekolah pun berbunyi. Seluruh panitia OSIS dan para pembimbing yang berada di dalam sekolah dikumpulkan dilapangan untuk menerima arahan yang selanjutnya akan diberikan oleh para guru di sana.


"Untuk kalian semua yang berada di dalam sekolah, kalian bisa pergi ke tempat, yang di mana adik-adik kelas kalian itu akan berkumpul semuanya di sana," ucap ibu Yeli waktu itu.


"Siap Bu," ucap seluruh panitia dan para pembimbing dengan serentak waktu itu.


Waktu pun masih tersisa beberapa jam lagi untuk mereka beristirahat sejenak di dalam sekolah ataupun di dalam kosan. Sultan bersama dengan Rere kembali duduk di sanggar Pramuka yang nampaknya masih kosong karena semua kawan Sultan kembali bersinggah di dalam kosan sana.

__ADS_1


Di dalam sana Sultan lebih memilih untuk menemani Rere karena ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang di mana mereka akan dipisahkan kembali, walaupun hanya sesaat saja.


Esok adalah hari minggu, dan tentunya esok adalah hari yang di mana mereka semua harus beristirahat dengan full di dalam rumahnya masing-masing.


"Besok mau pergi keluar engga Re?" ucap Sultan waktu itu kepada Rere.


"Engga ada main-main lagi Tan! kamu harus banyak istirahat di dalam rumah karena aku tahu, kamu pasti cape, selama ini udah selalu nemenin aku kemana-mana."


"Engga ada kata cape bagi aku untuk membahagiakanmu di sini Re, karena rasa letihku hanya akan aku rasakan ketika mana aku melihatmu jatuh sakit Re."


"Apaan sih Tan! engga jelas banget!" ucap Rere waktu itu, dibuat salah tingkah oleh Sultan di depan sanggar sana.


"Dasar bolot! kalau elu baper! ya, baper aja Re, engga usah belaga sok manis di depan gue kayak gini," ucap Sultan sembari mencubit kembali pipi Rere yang nampak memerah itu.


....


Sultan lalu masuk ke dalam kosan untuk mengambil motor tuanya itu sambil memberitahu kan teman-temannya itu bahwa seluruh panitia OSIS dan juga para guru sudah pergi semua dari sekolahnya itu di sana.


Setelah Sultan mengambil motornya di sana, ia pun lalu menjemput Rere kembali di dalam sekolah. Di sana Rere terlihat tengah menunggu Sultan menjemputnya kembali, namun Sultan itu adalah pria rese! dan tentunya ia kembali menjahili Rere di depan gerbang pintu masuk sekolah.


Rere pun di sana telah lama menunggu! dan akhirnya dia pun menelepon Sultan untuk memastikan bahwa dia tidak meninggalkannya di dalam sekolah sana sendirian.


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala.


"Kamu di mana sih bolot! kok, lama bener jemputnya," ucap Rere waktu itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, aku lupa Re, kalau kamu masih ada di sekolah. Maafin aku ya, Re, aku kira tadi kamu ada di belakang motor lagi duduk sambil meluk aku hehe, tunggu sebentar ya," ucap Sultan waktu itu kepada Rere sembari tak kuat menahan gelagak tawanya itu di depan gerbang pintu masuk sekolah.


Sultan pun lalu datang menghampiri Rere kembali. Namun, di sana Rere terlihat sangat kesal sekali kepada Sultan karena ia sudah berani meninggalkannya di dalam sekolah sendirian.


"Ihh, rese amat sih Tan, jadi orang! aku marah pokonya!" ucap Rere waktu itu memukul dan mencubit tangan Sultan.


"Lagian aku bercanda kok, Re, tadi aku ada di depan gerbang."


"Bohong elu mah Tan!".


"Serius Re, gue engga bobong sumpah. Lagian belakangan ini gue selalu bersikap manis terus sama elu, dan jadi apa salahnya gue bersikap rese kembali ya, boleh apa engga Re?".


"Tahu ah! males gue ngomong sama elu Tan," ucap Rere sembari berjalan pergi meninggalkan Sultan.


"Oyy, mau kemana Re? gue di belakang elu ini, ayo cepet naik, atau mau gue tinggalin lagi nanti," ucap Sultan yang membuat Rere kembali menghampirinya di depan sanggar Pramuka sana.


"Hmm, elu sih bolot Tan!" ucap Rere sembari menaiki motor tua Sultan itu.


"Aihh ... kok, jadi ke gue sih Re! engga jelas banget emang pacar gue yang satu ini," ucap Sultan yang seketika membuat Rere tersenyum di belakangnya.


Rere pun lalu memukul helm Sultan hingga menutupi seluruh pandangannya itu tanpa sebab. Sultan pun di sana hanya bisa tertawa di hadapannya karena bilamana ia melawan, pastinya ia akan membuatnya marah kembali.


"Aihh ... kok, gelap sih Re! gue engga bisa lihat apa-apa nih," ucap Sultan berpura-pura tidak sadar, bahwa helm yang sedang ia kenakan itu menutupi wajahnya.


"Hehe, benerin helmnya dulu lah bolot!" ucap Rere sambil membenarkan helm Sultan yang memiring itu karena ia pukul tadi.

__ADS_1


Mereka berdua pun tertawa lepas di dalam sekolahnya tersebut, dan setelah itu, mereka berdua pun lalu pergi meninggalkan sekolahnya itu untuk menemui rekan-rekannya kembali di sebuah lapangan, yang di mana tempat itu akan digunakan oleh seluruh siswa baru untuk mencari serta mendapatkan baret kebanggaannya tersebut.


SMK tentunya berbeda dengan SMA, yang di mana SMA hanya menggunakan dasi yang melekat dibahunya tersendiri, namun para anak SMK sudah mengetahuinya bahwa yang mereka ingin dapatkan itu adalah baret, yang di mana baret itu menjadi titik kebanggaan tersendiri bagi mereka semua yang sudah mendapatkannya.


__ADS_2