
Setelah mendengar ucapan Sultan, Dimas pun lalu masuk ke dalam ruangan dan bergegas untuk pergi mandi. Baru kali ini dia melihat Sultan mau mengajaknya pergi bertemu wanita yang menurut dia cantik, biasanya Sultan sering bermain ke luar ruangan seorang diri tanpa dia mau ditemani oleh teman-temannya.
Tentunya ini adalah kesempatan baik bagi Dimas di sana, dan mungkin apa yang dia harapkan sampai saat ini itu takan pernah terjadi untuk kedua kalinya.
Sekarang giliran Sultan yang menunggu Dimas mandi, dia berdiam diri di luar ruangan sambil membakar rokoknya, dan seperti biasa Dimas selalu saja mandi selama ini, sampai-sampai Sultan mengancam Dimas agar dia bisa lebih cepat membersihkan dirinya di dalam sana.
Berhubung sebentar lagi waktu azan salat magrib akan segera tiba, maka dari itu Sultan menyuruh Dimas agar lebih cepat ke luar dari dalam kamar mandi sebelum Sultan pergi meninggalkannya.
"Woii, buruan lah mandinya bego! kebiasan dah lu ya, apa-apa selalu saja lama, bisa cepat sedikit kagak Dut, gue tinggal aja ya, soalnya sebentar lagi magrib," ucap Sultan sambil melihat sekejap ke dalam ruangan, namun sepertinya dia sama sekali tak melihat Dimas.
Tak lama kemudian Dimas pun datang, ternyata dia sudah selesai membersihkan dirinya di dalam kamar mandi dari tadi, dan pada saat Sultan menoleh sekejap saja ke dalam ruangan, ternyata Dimas sempat bersembunyi di balik tembok kontrakan.
"Janganlah, gue juga pengen tahu alamat kontrakan teman elu itu, siapa tahu suatu saat dia membutuhkan pertolongan pertama dari gue," ucap Dimas sambil tertawa tipis di hadapan Sultan.
"Sebenarnya Aisyah lebih tahu dan lebih paham siapa orang yang tepat dalam segi menangani persoalan tersebut itu, jadi elu jangan iri ya, soalnya dia pasti bakalan milih gue seorang saja, " ucap Sultan yang tak mau kalah dari temannya, di mana dia pun menepuk-nepuk bahu Dimas.
Pada dasarnya Aisyah lebih mempercayai sosok Sultan, bukan hanya dia itu adalah pria yang begitu baik, tetapi dia juga tak pernah merasa pamrih dalam membantu seseorang seperti Aisyah tanpa dia menginkan timbal balik darinya, dan memang Aisyah hanya mengenal dekat sosok Sultan saja ketimbang dia mengenal dekat teman-teman Sultan yang lainnya.
__ADS_1
Maka dari itu kenapa Sultan begitu sangat yakin dan percaya diri ketika Dimas berbicara hal yang membuat sosok hatinya tertawa lepas, ya, mungkin karena Sultan tak begitu yakin bahwa Aisyah akan menerima bantuan dari temannya itu nanti karena sebab Sultan seoranglah yang akan membantu Aisyah lebih dulu.
Sultan mulai bergerak pergi meninggalkan kontrakan bersama dengan Dimas berdua, dan ternyata setelah Dimas pikir-pikir jarak dari kontrakannya itu tak cukup jauh, hanya melewati beberapa gang perumahan, mereka sudah sampai di kontrakan Aisyah.
"Ternyata kontrakan dia ada di sini Tan, kenapa elu baru bilang sama gue, kalau kontrakan dia sedekat ini jaraknya dengan kontrakan kita," ucap Dimas sambil melihat tempat persinggahan Aisyah yang hanya sementara itu di sana.
"Kayak orang penting aja lu Dim, pakai acara harus kasih tahu kontrakan Aisyah sama elu dulu, lagian buat apa coba gue kasih tahu elu, yang ada gue takutnya elu bakalan selalu datang ke sini setiap hari, dan itu malah membuat hati gue engga enak nantinya sama dia," ucap Sultan yang langsung pergi meninggalkan Dimas setelah dia berbicara seperti itu kepadanya.
....
Dimas diam di saung yang pernah Sultan duduki itu sebelumnya. Sultan pun mulai menjawab salam, dikarenakan pintu kontrakan Aisyah masih terbuka lebar di jam-jam sekarang.
Sementara di dalam ruangan Aisyah sempat terkejut ketika dia mendengar suara Sultan di depan sana, padahal dia baru saja akan melaksanakan ibadah salat magribnya, tapi dengan seketika Sultan pun menyebut-nyebut namanya sampai-sampai Aisyah melepaskan mukena yang sempat dia pakai itu kembali.
Semua temannya terkejut, mereka pun lalu memangilnya, dikarenakan mereka semua takut Aisyah tak mendengar panggilan salam dari Sultan, lantaran dia sedang berada di dalam ruangan kamar tidurnya.
"Syah, ada yang manggil namamu tuh, kayaknya itu suara dari akang gemes dah, samperin dulu sana, lagian inikan belum waktunya untuk melaksanakan ibadah salat magrib, suara azan di mesjid pun belum terdengar," ucap salah satu teman Aisyah.
__ADS_1
"Iya, iya, gue juga denger kalau itu suara Sultan, lagipula telinga gue engga budeg kali, pokoknya kalian jangan ada yang berisik ya, awas aja kalau sampai bibir kalian pada rempong! gue sumpal pakai kain lap nanti," ucap Aisyah sambil membuka pintu kamarnya.
"Hmm, kayaknya ini pertanda buat elu dah Syah, kalau elu harus segera mengambil keputusan tentang perasaan yang elu miliki itu kedia sebelum waktu berlalu," ucap salah satu teman Aisyah yang lain sambil melihat raut wajahnya yang agak sedikit memerah itu.
"Apa sih! lagian kita berdua sama-sama udah punya pacar sendiri, pacar Sultan cantik lagi, lebih cantik dari gue, dan yang jelas dia sayang sama pacarnya."
"Kalau kalian belum pada punya pacar, apa elu mau sama dia Syah? pastinya mau lah, diakan jago berkelahi."
"Jago bukan berarti dia engga pernah terkalahkan, lagian dia engga merasa jago kok, dia bilangnya hanya bisa sedikit saja dalam segi mempertahankan dirinya, apa pun alasannya gue engga akan memilih pacar berbeda wilayah."
Aisyah dengan cepatnya pergi meninggalkan mereka semua, lantaran dia takut banyak menerima pertanyaan yang tidak jelas dari mereka.
Aisyah membuka pintunya lebih lebar lagi untuk memastikan apakah itu benar Sultan. Dan setelah dia memastikannya ternyata memang benar, itu adalah Sultan.
Aisyah sempat berpikir, bukankah Sultan pergi pulang ke rumahnya, tapi ternyata dia pulang secepat ini, biasanya dia selalu tiba di Tangerang sampai larut malam, namun hari ini dia tiba secepat yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Sultan memang selalu bercerita tentang nasib perjalanannya itu seperti apa kepada Aisyah, maka dari itu dia selalu tahu semua masalah yang tengah Sultan hadapi seberat apa di jalanan pulang, dan maupun itu di perjalanan menuju kembali ke Tangerang.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja, Sultan pun sering menceritakan sifat serta sikap pacarnya itu kepada Aisyah juga, namun Sultan hanya menceritakan sisi baik Rere saja, dikarenakan sifat serta sikap tersebut lebih mengarah jelas kepada Rere, bahkan sampai sekarang Rere masih berada dalam posisi yang baik dimata Sultan.