Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 259 : Mengajaknya berkelahi


__ADS_3

Huhh ....


Suara hembusan napas begitu lembut terdengar, asap rokoknya ke luar beriringan ketika Sultan menghembuskan perlahan napasnya itu.


Tapp, tapp, tapp ....


Suara langkah kaki seseorang terdengar jelas ditelinganya bahwa ada seseorang itu tengah menghampiri dirinya di sana, lalu Sultan melihat ke arah suara tersebut itu berasal, dan benar, ternyata itu adalah Aisyah.


Sultan nampak kebingungan, kenapa Aisyah selalu datang secara tiba-tiba tanpa dia undang. Kalimat itu sudah sama seperti jalangkung saja, tepatnya sekarang Aisyah ada diposisi itu.


"Lagi ngapain lu di sini Tan? ke mana teman-teman elu pergi, engga biasanya elu nongkrong di tempat seperti ini seorang diri," tanya Aisyah penasaran.


"Mendingan sekarang elu jawab jujur pertanyaan dari gue ini deh Syah, elu sengaja ya, ngikutin gue pergi hingga sampai ke tempat ini? perasaan setiap gue berdiam diri di tempat yang gue anggap cocok untuk melampiaskan semua rasa lelah dihati ini, elu selalu tahu dah," tanya Sultan sambil mematikan rokoknya yang telah habis itu.


"Hadeuh ... kayak engga ada kerjaan yang dapat gue lakuin lagi aja, lagian buat apa coba gue ngikutin orang rese seperti elu, engga ada manfaatnya bagi gue, apalagi orang yang gue ikutin itu ternyata sudah memiliki pacar, lebih baik niatan engga jelas itu gue gunakan untuk tidur aja."


Aisyah menjauhkan pandangannya dari Sultan seraya tersenyum tipis dengan posisi wajah yang dikesampingkan, sehingga hal itu membuat Sultan tersenyum tipis.


Bukan hanya Sultan, tapi Aisyah pun sama tersenyum seperti Sultan, hanya saja senyuman Aisyah terlihat agak sedikit lebih lebar saja.


"Ya, terus elu mau apa Syah, lagian ini itu udah malam, bukannya tidur malah keluyuran seorang diri di tempat seperti ini," ucap Sultan masih saja terlihat bingung dengan hati Aisyah itu.

__ADS_1


Sultan mengira Aisyah sedang tidak baik-baik saja di sana, biasanya dia selalu pergi ke luar kontrakan bersama dengan para teman-teman wanitanya, namun entah kenapa belakangan ini Sultan sering melihat Aisyah pergi ke luar dari ruangan kontrakannya seorang diri.


"Sebenarnya gue mau beli mie instan, tapi warung yang sering gue datangi itu tiba-tiba tutup tanpa sebab, jadi gue memilih untuk berjalan sampai ke sini, siapa tahu di sana ada warung yang masih buka."


Ternyata Sultan salah kira, alasan Aisyah ada di sana itu, dikarenkan dia hanya ingin mencari warung yang masih buka agar Aisyah bisa memenuhi semua kebutuhan perutnya.


"Bukannya warung di depan jalanan kontrakan elu masih banyak yang buka ya, tapi sekarang elu malah datang ke tempat sepi seperti ini."


"Karena kaki gue malas berjalan-jalan jauh Tan, elu tahukan gue itu orangnya mageran? jadi udahlah jangan banyak tanya, mendingan sekarang elu temenin gue aja."


"Tapi Syah, di sana itu lagi ada ... ," ucapan Sultan terpotong begitu saja karena Aisyah menyuruhnya untuk diam dan menyuruhnya untuk tetap mengikutinya saja.


"Udah deh Tan, jangan bilang kalau elu takut!".


Sultan takut membuat Aisyah mengetahui hal yang sebenarnya, bahwa mereka bertarung demi menjaga dirinya, sehingga rasa takut Sultan tentang Aisyah yang akan menangani semua masalahnya ini benar-benar terjadi.


....


Sultan berjalan di belakang Aisyah, dia tak bisa berbuat apa-apalagi selain mengikuti kemauan Aisyah, dikarenakan ia takut membuat rasa lapar Aisyah semakin meronta-ronta sebagaimana sang singa yang belum makan berbulan-bulan.


Dengan seketika Aisyah terkejut pada saat dia mendengar ada suara perkelahian di tempat yang tengah dia lewati itu sekarang.

__ADS_1


Rasa penasarannya kini malah semakin membuat Aisyah jauh dalam melangkah, sehingga dia dibuat lebih terkejut lagi pada saat dia menyaksikan langsung bahwa ternyata suara tersebut berasal dari perkelahian teman-teman Sultan semuanya.


"Jadi ini alasan kamu Tan, kenapa seorang Sultan terlihat begitu cemas ketika gue menyuruhnya untuk menemani teman wanitanya pergi ke tempat ini," ucap Aisyah mulai sadar, ternyata Sultan memiliki alasan yang tidak pernah ingin Aisyah dengarkan karena sebab sosok Sultan itu terlalu menyebalkan.


"Makanya Syah, kalau gue lagi ngomong itu dengerin! lagian elu jalan lurus-lurus aja di depan sana tadi, sementara itu teman imut elu ini, elu tinggalin begitu saja di belakang sana, masa ia elu lupa sama gue Syah, tega beut lu dah!"


"Imut darimananya sih Tan! gue engga melihat sedikit pun raut wajah imut dari elu itu, lagipula ucapan elu tadi terlihat seperti ngarep dipanggil dengan sebutan yang elu ucapkan itu," ucapan Aisyah terdengar cukup lantang ditelinga Sultan, padahal dalam kondisi seperti ini dia seharusnya takut, tapi dia malah terlihat asik-asik saja seperti biasanya.


Sultan menatap Aisyah, ternyata memang benar, Aisyah terlihat begitu percaya diri, dia melihat mereka berkelahi seperti seseorang yang sedang menyimpan sebuah harapan agar dia bisa ikut berkelahi juga.


"Elu mau ikutan berkelahi seperti mereka juga ya, Syah? yaudah, sekarang elu boleh bergabung dengan mereka semua di sana, sama sekalian buktiin juga bahwa elu itu bukan wanita pendek yang manja," ucapan Sultan dengan seketika membuat Aisyah tercengang, apakah Sultan benar-benar membiarakannya berkelahi bersama semua teman-temannya di sana.


Aisyah memang mengharapkan Sultan berbicara seperti itu, tapi tidak dengan kata-kata pendek yang sempat Sultan lontarkan kepadanya tadi.


"Pendek aja gue udah seimut ini Tan, apalagi kalau gue tinggi, mungkin tingkat keimutan gue ini akan bertambah lebih dari apa yang tengah kamu lihat sekarang ini, tunggu saja, nanti gue akan berdiri lebih tinggi dari elu Tan."


Sepertinya Aisyah benar-benar serius dengan ucapannya, bahwasannya Aisyah selalu tersenyum seiring waktu pada saat Sultan sedang membercandainya, tapi anehnya raut wajah dia terlihat datar, sehingga Sultan memulai kembali candaannya.


"Padahal apa susahnya ngaku pendek, lagian ucapan gue itu benar-benar mengarah ke arah faktanya, dan terlebih penglihatan gue memang melihat kalau dia itu pendek," ucap Sultan berbicara dengan nada rendahnya agar Aisyah tak mendengar jelas suara Sultan.


Ternyata pendengaran Aisyah cukup baik, seberapa pelan suara yang Sultan gumamkan itu masih bisa dia dengarkan dengan jelas, sampai-sampai Aisyah mencubit lengan Sultan begitu keras dan berbeda seperti cubitan biasanya.

__ADS_1


"Heii, gue denger bego! udah deh, jangan panggil gue pendek lagi, sekarang rasain nih cubitan gue! dan jangan lupa bilang kepacar elu nanti, tolong sumpalin mulut pacarnya ini agar dia tidak asal ceplas-ceplos lagi ke semua orang," ucap Aisyah sambil mencubit keras lengan Sultan.


__ADS_2