Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 111 : Api unggun di malam hari


__ADS_3

Semakin malam langit pun semakin bertambah gelap, angin puncak pun telah memberi kabar, bahwa tubuh itu takan pernah bisa menahan pantangan alam lagi, dan pada akhirnya cahaya api unggun serta hangatnya api unggun itu pun mulai meredup dan menghilang sedikit demi sedikit, hingga mana mata pun takan pernah bisa digunakan untuk menatap indahnya senyuman manis yang selalu wanita itu berikan kepadanya.


Waktu itu Agung dan juga Danar, yang di mana mereka berdua pun sudah tidak kuat menahan dinginnya angin puncak, namun angin itu sama sekali belum membuat dirinya dan juga wanita manja itu takluk, padahal waktu itu ia hanya menggunakan baju kameja dan juga celana jeansnya saja, tapi kenapa dia masih bisa bertahan dengan dinginya angin puncak di malam hari itu, dan sedangkan kedua sahabatnya itu sudah mulai memasuki tendanya tersebut bersama dengan Robby yang sudah tertidur lebih dulu di dalam sana.


Cahaya api unggun semakin meredup, dan lantas dia pun segera bergegas pergi untuk mengumpulkan sisa kayu bekas yang sebelumnya Agung kumpulkan untuk berjaga-jaga apabila Sultan membutuhkannya lagi.


"Tidur gih sama bunda di dalam tenda, dan lagian sebentar lagi juga api unggunnya ini pasti bakalan mati, emangnya elu engga kedinginan apa di luar sini?" ucap Sultan yang masih merangkul bahu kakaknya itu sembari menyandarkan kepalanya itu di atas kepala kakaknya, dikarenakan malam itu kakaknya memang sedang menyandarkan kepalanya itu di atas bahu Sultan.


"Sebentar lagi ya, Tan, soalnya mata gue belum bisa dipejamkan, palingan satu jam yang akan datang, dan mungkin nanti gue baru bisa tertidur," ucapnya yang masih memeluk tubuh Sultan dan masih menggunakan kain blangket yang Sultan pakaikan untuk membuat tubuh kakaknya itu agar tetap hangat.


"Hmmm, yaudah kalau gitu gue mau ngambil kayu sisa dulu sebentar ya, tungguin di sini, jangan ke mana-mana sebelum gue datang kembali ke sini oke."


Sultan pun lalu berdiri, dan kemudian kakaknya itu pun membalas ucapan Sultan dengan hanya mengangkatkan ibu jarinya itu saja kepada Sultan.


Wanita manja itu terus memperhatikan Sultan di sana sembari menikmati segelas air bandrek hangat, yang waktu itu bundanya sempat membuatkan untuk anak perempuan pertamanya itu juga.


Kayu bakar sisa itu pun lalu di bakar kembali oleh Sultan, dan pada akhirnya cahaya api unggun itu pun mulai bersinar, serta mulai kembali menghangatkan tubuh kedua pemuda-pemudi itu, sampai-sampai kakaknya tertidur tanpa Sultan ketahui.


Dia tertidur di bahu Sultan, dan dia pun masih memeluk tubuh Sultan, hingga mana Sultan pun merangkul bahunya dengan manis sambil mengelus-elus bahunya dan bernyanyi.

__ADS_1


"Oyy, tidurnya di dalam tenda sana, itukan ada tenda yang nganggur satu lagi, mendingan elu tidur di sana aja, gue temenin kalau emang elu takut," ucap Sultan yang langsung membangunkan kakaknya yang sedang tertidur lelap itu di sana.


Lantas Sultan pun lalu membawanya masuk ke dalam tenda, dan ia juga membiarkan kakaknya itu tertidur dalam pangkuannya, yang di mana dia tertidur lepap di atas paha Sultan, dan tentunya Sultan pun mengelus-elus kembali rambut lembut yang kakaknya itu miliki.


Kain blangket khas Toraja itu, sungguh bisa menghangatkan tubuhnya, apalagi dia juga masih menggunakan jaket gunung milik Sultan, sampai mana ia tak sadar bahwa dirinya pun membutuhkan jaket, agar dirinya tak begitu bisa merasakan dinginnya angin puncak di malam hari yang indah itu.


....


Satu jam, dua jam, dan tiga jam waktu telah terlewati, dan hingga pada akhirnya waktu telah menunjukan pukul jam tiga pagi, yang di mana mata Sultan masih terbuka dengan lebarnya tanpa sedikit pun ia merasa ngantuk, dikarenakan malam itu dia bukan hanya ditemani oleh wanita manja itu saja di dalam sana, melainkan dia juga ditemani bersama dengan buku novel yang berjudul surat terakhir seorang pengelana, yaitu novel dari Bara.


Sultan memang sangat suka membaca, apalagi pokok ceritanya itu berhubungan tentang alam bebas, dan dia pun juga sama dengan Sultan, yang di mana wanita cantik itu pun sangat suka membaca novel, apalagi novel itu banyak dihadirkan dengan cerita yang menegangkan, namun bukan bertentangan dengan kisah cinta, dikarenakan wanita itu buta akan hal itu.


Dengan perlahan beliau pun ke luar dari dalam tendanya sembari meregangkan semua otot-ototnya terlebih dahulu, namun waktu itu beliau pun sempat dibuat tertawa ketika mana beliau melihat wajah hitam Robby, dan tentunya wajah hitam Robby itu bukanlah masker wajah, melainkan sisa kayu bekas hasil dari pembakaran api unggun semalam.


"Gung, elu bawa kayu ini masuk ke dalam tenda dah, dan tentunya elu tahu kan kayu ini digunakan untuk apa? dan juga untuk siapa?" ucap Danar kala itu, yang di mana waktu itu mereka berdua akan menjahili temannya yang tengah lelap tertidur di dalam tenda terlebih dahulu.


"Elu emang juaranya dah, dari dulu elu itu memang dijuluki sebagai tukang usil nomer satu, tapi kali ini gue sependapat dengan elu, kita jahilin dia di dalam sana, pokonya kita cemongin mukanya nanti malam," ucap Agung, yang di mana kala itu dia sangat susah menahan gelinya rasa ingin tertawa lepas.


Tanpa beripikir panjang, dia pun langsung menghampiri bundanya itu, dan kemudian Stevia juga ke luar dari dalam tendanya, hingga pada akhirnya dengan seketika pacarnya itu pun tersenyum serta tertawa terbahak-bahak di hadapannya tanpa henti.

__ADS_1


Robby pun merasa bingung, namun Stevia dengan cepatnya mengungkapkan semua kebingungannya itu dengan hanya memberikan kaca kecil kepadanya.


Agung telah terbangun dari tidurnya, yang di mana dia terbangun dari tidurnya lebih dulu dari Danar, dan waktu itu Agung pun segera membangunkan temannya itu dengan cara menyiramkan sedikit air di wajah Danar.


"Hujan Gung, bahaya nih! tenda kita kayaknya bocor, lebih baik kita tidur di saung aja yu, bangunin si bolot tukang tidur itu," ucap Danar yang terkejut, yang di mana dia mengira bahwa tendanya bocor karena turunnya air hujan.


Plakk ....


Tamparan keras diberikan oleh Agung untuk menyadarkan Danar, dan lalu dia pun menatap wajah Agung dengan terheran-heran sembari mengelus pipinya yang masih terasa sakit itu.


"Dia udah ke luar dari dalam tenda, kayaknya dia sebentar lagi mau ngejar kita dah di dalam sini, lebih baik kita siap siaga," ucap Agung yang membuat Danar tersadar dengan cepatnya sembari tertawa dengan sendirinya.


"Tunggu waktu yang pas buat kabur, mungkin kita akan menunggu dia berteriak terlebih dahulu, dan nanti baru kita akan pergi ke luar dari dalam tenda ini," ucap Danar sembari mengintip Robby dari dalam tenda.


"Woii, awas kalian ya! gue bunuh lu pada! jangan kabur lu dari dalam sana!" ucap Robby yang langsung berlari menghampiri Agung dan juga Danar.


"Satu, dua, tiga lari ... ," ucap kedua temannya itu seirama sembari berlari dan ke luar dari dalam tenda dengan di iringinya canda tawa di pagi hari itu.


Bunda, Stevia, dan bahkan Sultan pun sempat mendengar suara keributan di luar sana, namun ia sama sekali tidak bisa bergerak, dan apalagi dia tidak bisa membuat tidur lelap kakaknya itu menjadi terganggu.

__ADS_1


__ADS_2