
"Masa malem-malem gue harus datang ke rumah elu sih Re! tega beut dah lu mah. Ohh, jadi gue tahu sekarang, elu nyuruh gue jangan langsung pulang ke rumah karena lu mau nampung gue di sana bukan?" tanya Sultan dengan senyumannya.
"Mana mau gue nampung lu di sini Tan! maksud gue elu tidur di terminal aja," ucap Rere tak perduli.
Entah sampai kapan Rere akan bersikap tidak perduli seperti itu kepada Sultan, dan justru Sultan menyangkal serta berpikir bahwa dia takan lama bersikap seperti itu kepadanya, dikarenakan pertemuan nanti akan membuat Rere merasakan arti dari kebahagiaan itu hadir kembali kepadanya.
Sultan hanya tersenyum sembari menyandarkan punggungnya dengan damai di dalam gerbong kereta listrik tersebut.
Ia memang sengaja tidak tertidur seperti Azmi, yang di mana sebagian temannya ada yang tertidur dan ada juga yang sibuk dengan ponselnya sendiri.
Maka dari itu Sultan berjaga-jaga sampai ada suara peringatan pemberhentian menuju ke stasiun berikutnya. Kalau tidak salah mereka harus turun di stasiun Pasar Minggu, entah itu Pasar baru, yang jelas diantara kedua tempat itu ada salah satunya.
Rere terus bertanya kepada Sultan, apakah dia masih lama sampainya, Sultan pun menjawab sesuai dengan apa rute perjalanan yang tengah dia tempuh sekarang.
"Masih lama kagak Tan, elu sampai di Bogornya?" tanya Rere.
"Gue lihat dari rute perjalanan, mungkin sebentar lagi Re, emangnya kenapa Re? perasaan perkataanmu engga jauh beda dengan yang tadi," ucap Sultan sembari menatap rute perjalanan yang berada di dalam gerbong kereta itu.
Sultan bangkit dari duduknya setelah Rere bertanya seperti itu kepadanya. Ia lebih memilih untuk berdiri saja, dikarenakan suara Rere bisa membuatnya mengantuk, apalagi kursi di dalam gerbong kereta seperti tengah merayu Sultan untuk tertidur.
"Gue mau izin Tan, boleh kagak kalau gue nemenin elu di sana, soalnya entah kenapa malam ini rasanya gue sulit banget untuk tertidur dah," ucap Rere dengan manisnya.
"Terserah elu aja dah Re, gue engga mau melarangmu, tapi palingan nanti juga elu pasti bakalan tidur dengan sendirinya di sana," ucap Sultan membercandai Rere kembali.
"Elu mah ngomongnya gitu terus dah Tan! bilang aja kalau elu engga mau gue temenin."
"Mulai dah, lagian bepernya terlalu berlebihan itu Re, orang gue ngomong apa adanya kan? tapi kenapa elu malah marah sama gue."
__ADS_1
Rere merasa ucapan Sultan itu memang benar, entah kenapa saat ini dia sering kali dibuat baper olehnya, padahal ucapan yang selalu Sultan berikan kurang lebih adalah notif perbincangannya setiap hari.
Rere mulai memegang pipinya dan terlamun keheranan, apakah dia akan mengenal Sultan kembali dari nol, dikarenakan beberapa Minggu ini dia tak bisa menatap wajah Sultan secara langsung.
Biasanya mereka selalu bertemu setiap hari di dalam sekolah, tapi sekarang mereka dijauhkan oleh waktu yang hanya sementara ini.
Sultan memanggil nama Rere beberapa kali, namun Rere masih saja menatap cermin di dalam kamarnya sembari terlamun tidak jelas asal usulnya.
"Woii, bolot! kok, elu diam aja! apa elu udah tidur. Tuh kan Re, apa gue bilang ... elu pasti engga akan kuat menahan rasa ngantukmu itu di sana, lagian elu bukan tipe cewe yang suka tidur tengah malam juga kan," ucap Sultan sedang mencoba untuk memastikan, apakah Rere masih mendengarkan suaranya.
....
Lamunannya hanya membuat Rere terkejut, dan terlebih Sultan pun tak berbicara sampai di situ saja, ia sangat ingin Rere menemaninya berbincang hingga mana Sultan telah sampai di stasiun Bogor.
Sultan sengaja membuka earphonenya itu agar Rere bisa mendengarkan suara pemberitahuan yang sering muncul bila kereta akan menyinggahi stasiun berikutnya.
"Elu ngelindur ya, Be? kalau elu ngantuk lebih baik tidur aja, gue engga akan memaksamu untuk tetap terus menemani gue di sini," perintah Sultan yang menyuruh Rere untuk tertidur.
"Kagak Tan, gue kagak ngantuk kok, gue cuma lagi bingung aja sekarang, tapi anehnya gue entah membingungkan hal apa," tanya Rere seperti orang kebingungan.
"Aneh lu mah Re! padahal kalau lu baper tinggal bilang aja sama gue, apalagi kalau soal urusan rindu, elu harus bilang jujur itu mah."
Sultan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat tingkah laku Rere yang bisa dibilang agak sedikit aneh itu.
Suara pemberitahuan berbunyi. Sekarang Sultan dan teman-temannya sudah tiba di stasiun, yang sebelumnya telah mereka bicarakan akan berhenti di stasiun itu.
Berbeda dengan kereta tadi, yang di mana kereta untuk menuju ke stasiun Bogor itu sangat ramai sekali, bahkan Sultan bersama dengan teman-temannya pun tak dapat duduk di kursi mana pun.
__ADS_1
Perbincangan Sultan bersama dengan Rere pun menjadi terhenti karena padatnya keadaan di dalam sana, sehingga Sultan tak dapat mengeluarkan beberapa patah kata untuknya, dikarenakan dia merasa tidak enak kepada orang di sekelilingnya.
Rere telah menyadari dan memaklumi kedaan Sultan yang sekarang ini. Dia menunggu Sultan hingga prianya itu benar-benar telah tiba di stasiun Bogor.
Rere tak sadar bahwa lamunannya itu dapat membuat dirinya mengantuk, apalagi posisi Rere dalam merebahkan diri bisa dibilang lebih mudah mengundang rasa ngantuknya.
Tidak salah, menengkurap dengan posisi merebahkan diri dengan muka menghadap ke bawah itu sangat ampuh bagi dirinya bila ingin cepat tertidur, walaupun sebenarnya mata tak mau tertutup lebih awal.
Rere tertidur dengan sendirinya, hingga mana Sultan telah tiba di stasiun terakhir tujuannya, yaitu di stasiun Bogor.
Sultan pergi ke luar dari area stasiun, sebelumnya mereka sempat akan melaksanakan makan malam terlebih dahulu, walaupun sebelum berangkat mereka semua sudah melaksanakan makan malam itu.
"Lapar gue Bro, makan dulu yu," ucap Azmi sembari memegang perutnya.
"Gas lah Mi, kita makan dulu aja, kebetulan di sana ada warung nasi Padang," ucap Alamsyah yang langsung masuk ke dalam warung itu.
Sementara Sultan hanya duduk diam di luar sembari memakan mie ayam pesananya. Ia memesan dua porsi mie ayam, namun berada di dalam satu mangkok saja.
"Ini minumannya Kang," ucap penjual mie ayam dengan sopannya sembari meletakan air teh tawar hangat di dekat Sultan.
"Terima kasih Kang," ucap Sultan yang sama sopannya.
Sultan kembali menyantap mie ayam pesanannya, ia pun sesekali melihat permandangan terminal Bogor di malam hari yang masih ramai itu.
Rere masih belum bersuara, mungkin dia sudah tertidur dengan lelapnya di sana. Sultan membiarkan ponselnya tetap menyala, walaupun Rere tak bersuara.
Satu batang rokok telah Sultan bakar serta telah ia hisap dengan dihembuskannya perlahan asap rokok tersebut olehnya di sana.
__ADS_1