
"Aduh ... sorry nih ya, Dim, bukannya gue mau acuh tak acuh sama elu, tapi kayaknya mulai dari sekarang gue engga bisa nemenin elu ngobrol lagi di sini dah, soalnya pacar gue yang cantik ini tiba-tiba nelepon gue lagi, pokoknya elu harus janji ya, jangan sirik sama gue, haha," ucap Sultan begitu lepasnya meledek Dimas.
Pada saat Sultan tertawa tipis, ia tak langsung menatap raut wajah Dimas, dan alasannya masih tetap sama, yakni dia tak ingin memperlihatkan ledekannya sebagaimana temannya itu meledeknya di sana dengan begitu lepasnya.
Alhasil ledekan Dimas malah membuat dirinya sendiri malah semakin terjerumus saja, hal ini bisa diibaratkan dengan senjata makan tuan.
Dengan begitu manisnya Sultan menyapa Rere malam itu hingga dia pun tak sadar bahwa nada suara samar-samarnya telah tiada, namun hal tersebut adalah sebagian rasa sakit yang tengah Sultan tahan agar Rere tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Sebagaimana sikap perhatian Rere dia pasti akan selalu bertanya-tanya soal kesehatannya yang sekarang di sana seperti apa.
Itu adalah hal yang takan pernah Rere lupakan, bahkan sampai kapan pun Rere akan selalu mengingatkan dan akan selalu menanyakan hal tersebut kepada Sultan.
"Haii, selamat malam Be, maaf ya, karena pacarmu ini baru bisa menjawab panggilan telepon suara darimu ini, tapi gue janji, lain kali gue akan menjawab panggilan apa pun secepat yang kamu inginkan, janji," ucapan Sultan terdengar begitu lembut sekali ditelinga Rere, bahkan di sana Dimas pun dibuat kagum olehnya bahwa ternyata temannya itu dapat menahan semua rasa sakitnya yang sekarang ini demi melihat Rere tetap tersenyum lebar untuk buminya dan juga untuknya di sana.
Seperti yang sedang Dimas pikirkan saat ini, di mana Rere pasti tengah tersenyum-senyum sendiri di sana, bahkan seorang pria seperti Dimas pun dapat merasakannya sendiri bahwa ucapan Sultan memang terdengar begitu manis ditelinganya.
Rere masih terdiam di sana dikarenakan malam ini dia hanya ingin mendengar kebawelan seorang Sultan saja, lagipula dia sangat merindukan hal yang jarang Sultan lakukan itu, contohnya seperti sekarang ini.
"Ohh, iya gue tahu alasan Rere gue nelepon gue ini dikarenakan sebab pacar gue ini akan pergi tidurkan? yaudah deh kalau begitu tidur yang nyenyak ya, Be, pokoknya kamu jangan lupa cuci kaki dulu, udah itu gosok gigi, terus minum air minimal satu gelas air mineral ya, habis itu cuci juga mukanya, kalau perlu pake oli tuh Be, biar musuh yang selalu menganggu tidurmu pergi menjauhi dirimu, kamu tahukan siapa dia?".
__ADS_1
"Dan ya, tebakan pacar gue benar, dia adalah nyamuk, sebenarnya dia bukan musuhmu saja Be, melainkan dia juga adalah musuh gue."
Mendengar Sultan bawel seperti itu Rere malah semakin tertawa lepas, bahkan rasa ngantuknya yang tengah dia rasakan sekarang tiba-tiba saja menghilang karena sikap seorang Sultan.
"Tadinya gue memang mau tidur sih Be, tapi kayaknya nanti aja deh, soalnya bawelmu menghantui perasaan gue yang sekarang ini," ucap Rere sama manisnya, di mana pada saat dia melontarkan ucapan tersebut dengan seketika warna rona dari pipinya tiba-tiba memerah.
"Hhee, yaudah gue engga maksa kok Be, kalau emang kamu belum mau tidur secepat ini, lebih baik sekarang kamu kasih tahu gue aja deh, bagaimana pelatihan kerja lapangannya di sana, lancarkan Be?" tanya Sultan masih tetap duduk di dalam zona ternyamannya sekarang, di mana zona tersebut terletak tepat berada di dalam senyuman Rere yang dia lihat dari sosok awan malam yang berlukiskan indahnya panorama raut wajah Rere di atas sana.
....
Dan ini adalah saatnya bagi Sultan terdiam, di mana Rere bertanya kepadanya tentang kesehatannya di sana sekarang sesehat apa.
Nada suara telepon yang sengaja Sultan keraskan itu dengan seketika membuat Dimas terkejut, dia berpikir ini adalah waktunya bagi Sultan membalikan katanya agar Rere tak terlalu mengkhawatirkan kondisinya.
Namun, Dimas malah semakin dibuat terkejut lagi ketika dia mendengar Sultan benar-benar berani menceritkan semua masalahnya kepada Rere.
Dimas berpikir Sultan keceplosan, tapi ternyata Sultan sengaja melakukannya dikarenakan sebab Sultan tahu bahwa Rere akan menyembunyikan semua masalah ini dari ibunya di sana.
"Mampus dah! ini adalah waktu yang kurang tepat baginya untuk tersenyum lebih lebar lagi, dan sepertinya Rere juga akan memarahinya dikarenakan hal tersebut merupakan sebuah hal yang tak ingin Rere lihat," ucap Dimas dalam hati, di mana dia pun lalu menaruh air kopinya karena dia ingin mendengar seberapa seram suara Rere ketika dia sedang memarahi Sultan.
__ADS_1
Dimas menyaut untuk mengingatkan Sultan, dikarenakan dia takut bilamana nanti Sultan melupakan omongan yang sebelumnya dia ucapkan agar Sultan menyembunyikan semua hal yang telah terjadi kepadanya saat ini.
"Woii, Tan, jangan lupa apa yang gue omongin tadi ya," sahutan Dimas hanya dibalas dengan senyuman dari Sultan itu saja.
Dimas tak mengerti, sebenarnya apa yang tengah Sultan pikirkan itu, dan sekarang Dimas hanya bisa melihat hal apa yang akan Sultan ucapkan kepada Rere di sana.
"Hhee, ternyata pacar gue emang perhatian ya, bahkan dia tahu bahwa sekarang pacarnya lagi menahan rasa sakitnya seorang diri di sini."
"Gue engga bisa mengelak lagi, apalagi pacar gue ini adalah tipe wanita yang engga mau dibohongi oleh pacarnya sendiri."
"Sebenarnya gue ingin menutupi masalah ini dari kamu Re, tapi gue engga bisa melakukannya dikarenakan sebab gue lebih takut mendengar ucapan putus, daripada gue melihat elu mendiamkan gue selama mungkin Re."
"Sebenarnya tadi sore sehabis pulang dari tempat singgah teman gue, dan di sana gue sempat dipukuli habis-habisan oleh brandalan jalanan, sekiranya ada sepuluh orangan, udah itu mereka semua mukulin gue menggunakan kayu balok yang cukup besar lagi, alhasil gue kalah Re, maafin pacarmu ini ya, Re, karena gue engga bisa menjaga diri gue sendiri."
Rere pun menundukan kepalanya dan lalu terdiam, namun itu tak lama, setelah Rere menundukan kepalanya itu dia pun lalu mengepalkan tangannya sembari sedikit demi sedikit membangkitkan tundukannya.
"Hhee, jadi kamu kalah Tan? padahal pacar gue engga selemah yang mereka kira loh, pokoknya bagaimanapun caranya elu harus membalas perlakuan mereka semua Tan," ucap Rere dengan rendahnya berbicara kepada Sultan sambil mengepalkan tangannya.
"Hmm, makasih Be, pokoknya lain kali gue engga akan kalah lagi dari para brandalan-brandalan jalanan gila itu, pokoknya gue janji sejanji-janjinya sama pacar gue yang cengeng ini, bilamana waktunya telah tiba, satu-persatu diantara para brandalan itu akan habis, jika perlu gue juga ingin membawa petarung yang paling gue sayangi di sana, yakni kamu Re."
__ADS_1