
Sultan pun merasakan kesedihan yang sama dengan sosok adik kecil yang memiliki raut wajah polos itu di sana. Air matanya menetes ketika dia melihat adik kecil itu menangis sehisteris itu di hadapannya langsung.
Untung saja dia tak ikut pergi bersama dengan Dimas untuk menelusuri titik yang terakhir itu, jadi sekarang dia bisa menemani sekaligus menenangi sejenak perasaan adik kecil yang sungguh sangat malang itu di sana.
"Sutt, kenapa nangis? sini duduk," sahut Sultan membuat adik kecil itu terkejut.
"Uang adek diambil sama orang-orang jahat yang ada di warung itu," ucap adik kecil sambil menangis tanpa henti seraya mengusap-usap air matanya menggunakan kedua tangannya.
"Emangnya adek bawa uang berapa? kayaknya banyak ya."
"Itu bukan uang adek, tapi itu punya ibu."
"Tadi adek sempat minta uang jajan sama ibu, tapi kata ibu ada syaratnya, adek harus beli beras dulu di warung itu agar adek bisa dapet uang jajan dari ibu."
"Tapi, sekarang semua uangnya diambil sama mereka, dan sekarang adek engga bisa pulang kerena adek takut ibu marah-marah."
Sultan tersenyum dengan begitu lebarnya ketika dia mendengar bahwa adik kecil itu ternyata benar-benar berbicara jujur kepada dirinya.
Sebenarnya dulu Sultan juga sama seperti dia, di mana bila dia minta uang jajan kepada ibunya, dan ibunya pasti akan selalu meminta dia untuk membelikan beras ataupun bahan-bahan masakan yang lainnya.
Namun, berbeda halnya dengan ayahnya itu, di mana bila dia mau meminta uang jajan kepada beliau tentunya syaratnya Sultan harus memijat-mijat bahu beliau terlebih dahulu.
Kenangan Sultan di masa kecilnya memang merupakan sebuah kesamaan yang sama dengan adik kecil yang sekarang tengah menangis di hadapannya itu langsung.
Sultan masih menunggu dia menjawab berapa jumlah uang yang sempat dia bawa agar Sultan bisa menggantinya dengan uang miliknya itu. Namun, sang adik masih saja menangis histeris di hadapannya dikarenakan mungkin dia memang sedang menakuti kemarahan ibunya.
__ADS_1
"Pokoknya adek tinggal bilang aja sama kakak, coba sebutin jumlah uang yang ibu adek berikan sama adek tadi ada berapa? adek engga usah takut sama kakak dikarenakan kakak adalah orang baik," tanya Sultan sambil mengelus-elus rambutnya yang begitu halus itu.
"Lima puluh ribu Kak," ucap adik kecil itu begitu rendah.
Sultan mengeluarkan dompetnya dan lalu setelah itu dia pun memberikan jumlah uang yang sama seperti yang adik itu sebutkan kepadanya.
Adik itu tersenyum, dan sekarang dia bisa pulang kembali ke rumahnya tanpa harus dia menakuti kemarahan ibunya. Sementara Sultan hanya bisa menyuruh adik itu pergi ke tempat yang lebih aman saja, namun dia bilang bahwa warung tersebut merupakan warung yang sering dia datangi.
"Yaudah, mendingan sekarang adek pulang aja dulu, atau adek bisa pergi cari warung yang lain, dan tentunya cari warung yang di sana engga ada orang-orang jahat seperti mereka oke."
"Emangnya kenapa kak?" tanya adik itu sangat polos sekali.
"Emm ... oke, jadi begini ya, pokoknya untuk sementara waktu ini adek engga boleh tuh berpergian seorang diri tanpa ditemani langsung oleh ibu adek yang ada di rumah."
"Intinya adek engga boleh pergi ke tempat itu dulu ya, soalnya orang-orang jahat itu pasti bakalan ngambil uang adek lagi," ucap Sultan sambil mengelus-elus kembali rambut adik kecil itu untuk yang kedua kalinya di sana.
"Tapi, beras ibu gimana?" tanya adik itu sambil memberikan tatapan penuh dengan rasa kekecewaannya.
Sultan merasa semakin kasihan saja ketika melihat adik itu tak bisa memberikan apa yang ibunya inginkan untuk sekarang ini.
Lantas Sultan pun menyuruh adik itu untuk duduk di sampingnya terlebih dahulu sampai Dimas datang menghampirinya kembali.
"Adek engga usah khawatir, pokoknya nanti kakak bakalan bantuin adek beliin beras buat ibu adek di rumah, untuk sementara ini adek tolong sabar dulu ya, sebentar aja, soalnya kakak lagi nungguin teman kakak dulu," ucap Sultan masih berbicara menggunakan nada rendah hatinya.
Adik kecil itu hanya bisa mengangguk di hadapan Sultan, sementara di sana Sultan baru sadar pada saat dia akan melepon Dimas, bahwa ternyata handphonennya mati.
__ADS_1
Untung saja rekaman video itu sempat tersimpan di dalam galeri handphone miliknya, dan jadi dia bisa memperlihatkan betapa buruknya sikap para brandalan itu terhadap orang di sekitarannya.
Tak lama kemudian Dimas pun datang. Dimas pun sempat dibuat bingung oleh Sultan, sebenarnya apa yang dia inginkan dari anak kecil itu sekarang, apakah dia akan menggunakan anak itu sebagai salah satu tempat pelariannya nanti bilamana dia tertangkap oleh para brandalan-brandalan itu.
"Woii, bego! ini anak siapa? udah deh Tan, elu jangan terlalu keseringan mencari-cari masalah yang baru lagi, soalnya gue masih ingin hidup bebas," ucap Dimas asal.
"Engga ada rasa belas kasihannya elu Dim! masa iya gue menggunakan anak yang tak berdosa ini sebagai salah satu tempat bagi gue untuk melarikan diri."
"Lagian dia baru aja dipalakin sama brandalan-brandalan yang ada di hadapan kita itu."
"Tadinya dia mau beli beras buat ibunya yang ada di rumah, tapi gara-gara brandalan itu, jadinya uang dia diambil semuanya oleh mereka," ucapan Sultan membuat Dimas semakin merasa jengkel saja kepada para brandalan itu.
Andai saja Dimas melupakan misinya yang sekarang ini, mungkin dari tadi dia sudah menghajar wajah-wajah para brandalan itu di sana.
Untung saja Sultan sempat menenangkan hati Dimas, dan alhasil dia tak perlu menakutkan perkelahian yang tak direncanakan ini akan benar-benar terjadi saat ini juga.
"Tenang aja Dim, kita akan membalaskan dendam anak ini setelah waktunya tiba, lagian gue juga udah sempat merekam semua kejadiannya, dan semoga saja rekaman ini dapat menambah semangat teman-teman kita menjadi semakin ganas saja," ucap Sultan sambil menepuk pelan bahu Dimas.
"Semoga saja ya, Tan, sebenarnya gue juga udah engga sabar menunggu waktunya tiba, bila perlu kita berikan pelajaran yang begitu berat kepada brandalan-brandalan gila itu sampai mereka benar-benar tobat sungguhan."
"Dan ngomong-ngomong sekarang kita harus ngapain anak ini Tan?" tanya Dimas membuat Sultan salah dalam memahami pertanyaan dari temannya itu.
"Bukan gitu konsepnya bego! yang harus elu tanyakan itu bagaimana cara kita mengantarkan anak ini kembali pulang ke rumahnya."
"Mendingan sekarang kita bantuin anak ini dulu mencari beras buat ibunya."
__ADS_1
"Bukannya elu bilang sama gue ya, Tan, bukannya uang dia diambil sama brandalan itu."
"Gue udah mengganti uangnya Dim, jadi sekadang kita tinggal bantuin dia dulu aja, dan udah itu kita anterin dia pulang hingga sampai ke rumahnya."