
Di jalan menuju perjalanan pulang, Sultan dan Rere sempat berhenti di sebuah SPBU untuk membeli beberapa liter bahan bakar berupa bensin.
Kini situasi sudah mulai terkendali, dan mereka semua telah melepaskan Sultan sepenuhnya untuk berjalan di barisan paling belakang, namun Elsa dan Putri beserta teman wanitanya yang lain masih saja mengikuti Sultan.
Sampai mana mereka ikut beristirahat di sana bersama dengan Sultan dan juga Rere. Ia membiarkan mereka melepaskan semua rasa lelah dan rasa letihnya tanpa ia mau mengusiknya sedikit pun.
"Biarin mereka jalan lebih dulu Re, kita jalan di barisan paling belakang aja ya, sambil nunggu musuh yang lain lagi," ucap Sultan membuat Rere tak sengaja menonjok mukanya dengan sangat keras, dan untung saja tontokan tersebut tidak disadari oleh semua teman Rere.
"Sekali lagi kamu bilang gitu, tamat riwayat hidupmu Tan! lagian gue cuma nyuruh elu berantem sama orang yang memang mereka sudah mengganggu ketenangan kamu dan juga gue di sini Tan," ucap Rere menjelaskan semua alasan kenapa dia memperbolehkan Sultan untuk berkelahi dengan orang lain, namun orang yang dia maksud itu adalah orang yang benar-benar telah melakukan kesalahan kepada mereka berdua saja.
Sultan pun terkejut, bahkan ia pun tak sempat mengelak karena pukulan tersebut menghantam pipi kanannya secara tiba-tiba.
Kini pipi kanannya terasa sakit, dan sebenarnya siapa yang telah mengajarkan dia cara melatih teknik pukulan seperti itu.
Sultan menggerak-gerakan gigi gerahamnya, dikarenakan pukulan Rere sampai terasa sakit hingga ke gigi gerahamnya.
Rasanya Sultan ingin sekali mengecek kondisi pipi kanannya, namun helm yang tengah dia gunakan itu menghalangi seisi pipi kanan dan kirinya.
Posisi Sultan sekarang memang tengah mengendarai motornya, dan kalau ia memberhentikan lagi laju kendaraannya maka sampai kapanpun ia akan membuang-buang waktunya untuk pulang.
"Pukulan Rere keras banget dah! pipi gue jadi sakit kayak begini, sebenarnya dia itu siapa sih, atau jangan-jangan Rere memang pernah mengikuti perguruan silat? teknik pukulan yang dia berikan memang mengarah ke situ," ucap Sultan dalam hati sembari menatap raut wajah Rere di balik kaca spion motornya.
__ADS_1
Rere terdiam melihat kekasihnya juga terdiam, lantas dia pun bertanya kepada Sultan apakah dia marah kepadanya, dan jawaban yang Sultan berikan itu sungguh membuat hati Rere merasa damai kembali.
"Engga kayak biasanya kamu diem seperti ini Tan, apa jangan-jangan kamu marah ya, sama gue karena gue udah nonjok pipi kamu itu?" tanya Rere begitu lembut, di mana suara manja tersebut membuat hati Sultan luluh.
"Elu itu aneh Re! lagian buat apa gue marah sama lu, malahan gue senang melihatmu memukul wajah gue ini seperti tadi, dan hal itu bisa kamu gunakan sebagai alat perlindungan diri kamu sendiri," ujar Sultan, di mana ia memang tulus memberikan ucapan tersebut kepada Rere, dan bahkan ia pun tak mau mempermasalahkan hal yang memang sudah terjadi itu kepadanya.
"Gue minta maaf ya, Tan, gue engga sengaja sumpah, entah kenapa tangan gue ini tiba-tiba bergerak dengan sendirinya tanpa perintah."
"Pukulan kamu keras Re, dan sebenarnya pipi gue lagi sakit, tapi tenang aja, soalnya rasa sakit ini masih bisa gue tahan kok."
Rere merasa tak enak hati kepada Sultan, namun di sana ia tengah berusaha untuk menghibur Rere kembali supaya wanitannya itu tak bersedih seperti awal Sultan dibuat terbaring lemas di tepian pantai tadi.
....
Berhubung di jalan Sultan belum sempat melaksanakan ibadah salat asarnya, lantas ia pun segera bergegas pergi menuju mesjid yang letaknya tak cukup jauh dari rumah Rere.
Sementara Rere menunggu Sultan di depan sana bersama dengan ibu dan adik wanita bungsunya juga. Ibu Rere memintanya untuk menggendong adiknya itu sebentar, dikarenakan beliau mau menyiapkan hidangan untuk Sultan santap.
Tak lama kemudian Sultan pun kembali menghampiri Rere setelah ia selesai melaksanakan ibadah salat wajibnya di dalam mesjid.
"Ehh, ada adik bungsu A'a, yang cantik ini ternyata, sini Be, biar gue aja yang menggendongnya," ucap Sultan sembari mengambil adik bungsunya dari pangkuan Rere.
__ADS_1
"Kata mamah masuk dulu sebentar Tan, kayaknya dia udah nyiapin makanan untuk kita berdua di sini, pokonya kamu harus makan dulu sebelum pulang ke rumahmu di sana," ucap Rere sambil memberikan adik bungsunya kepada Sultan.
Mereka bertiga mulai masuk ke dalam rumah, dan seperti biasa Sultan selalu mengucapkan salam kepada siapa pun orang yang tengah berada di dalam rumah.
Ibu Rere ke luar, namun entah kenapa beliau menatap Sultan setajam itu di sana, dan ternyata beliau menyadarkan Sultan bahwa salah satu pipinya terlihat memar, tapi memar itu hanya memar biasa saja.
"Itu muka kamu kenapa Tan? kok, memar kayak gitu, apa jangan-jangan kamu abis berantem lagi ya, di sana?" tanya beliau membuat Sultan tersadar bahwa pipi yang sempat Rere pukul itu ternyata menyebabkan luka memar.
Sultan dan Rere tertawa, walaupun umur beliau sudah tidak muda lagi, namun akan tetapi penglihatan beliau mengalahkan penglihatan buruk Sultan.
"Kayaknya luka memar ini efek dari pukulan keras Rere dah Mah, sebelumnya Sultan memang sempat membuat anak mamah ini kesal, maka dari itu kenapa dia memukul wajah Sultan sampai memar seperti ini, dikarenakan sifat menyebalkan Sultan sendiri," ucap Sultan membuat beliau bingung, sejak kapan anak wanitanya bisa memukul pria sekeras itu.
"Abisnya anak mamah ini nyebelin sih! masa dia mau melampiaskan kemarahannya kepada orang lain, padahal mereka engga salah apa-apa coba," ucap Rere membuat ibunya semakin bingung, dan di sana beliau hanya bisa mengangguk saja, lagipula beliau tak mau ikut campur dengan urusan Sultan.
"Mamah bingung ah, yaudah kalian berdua makan dulu sana, itu mamah udah siapin makanan kesukaan kalian berdua," suruh beliau dengan lembutnya menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu.
Sultan sempat menyuruh Rere untuk mengambilkan beberapa buah es batu, dan dia pun mau menuruti apa ucapan Sultan itu.
Rere berpikir kalau es batu itu akan dia masukan ke dalam gelas yang berisikan air mineral, namun ternyata itu bukan, Sultan malah meletakan es batu tersebut dipipi kanannya.
"Gue kira es batu itu untuk air minummu Tan, ternyata gue salah," ucap Rere dengan tawa lepasnya.
__ADS_1
"Malah ketawa lagi! ini sakit loh Re, aku engga tahu kalau kamu ternyata punya pukulan sekeras itu," ucap Sultan yang tak henti-henti memuji pukulan keras wanitanya itu.
Rere tak mau melihat Sultan menyembuhkan lukanya sendiri, hingga pada akhirnya Rere pun membantu memegang serta meletakan es batu tersebut dipipi kanan Sultan.