Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 241 : Kedewasaan


__ADS_3

Pada saat itu Rere pergi ke ruangan dapur, dia berniat ingin membuatkan minuman hangat untuk adiknya yang tengah asik bermain game, namun tak lama setelah dia pergi meninggalkan adiknya sebentar, ternyata adiknya sudah tertidur pulas di kursi sofa ruang tamu.


Pantas saja kenapa adiknya tak menjawab panggilan darinya di sana, dan ya, dikarenakan dia sudah tertidur pulas sambil memeluk guling yang sempat Rere ambil dari dalam kamarnya.


"Adek ... tugasnya udah selesaikan? sekarang simpan dulu bukunya sana di dalam kamarmu, udah itu sebelum tidur adek minum dulu susu hangat buatan teteh ini," sahut Rere begitu pelan memanggil adiknya, lantaran dia tidak mau sampai membangunkan kedua orang tuanya yang sedang tertidur pulas di dalam kamarnya.


"Sudah gue duga, ternyata dia udah tidur, kalau gue tinggalin dia di sini sendirian, rasanya kasihan juga, tapi bilamana gue bangunin takutnya dia akan marah, yaudahlah apa boleh buat, lebih baik gue temenin dia aja sampai dia sadar dengan sendirinya," sahut Rere sambil berjalan dengan perlahan-lahan menghampiri adiknya yang tengah tertidur di ruang tamu.


Rere membereskan semua buku tugas adiknya itu, dan dia pun lalu mengambil sebuah selimut untuk adiknya gunakan, lagipula entah kenapa malam ini terasa lebih dingin dari hari sebelumnya, kalau dia membiarkan adiknya kedinginan, yang dia takutkan adiknya akan jatuh sakit.


Di sana Rere masih belum sadar bahwa ternyata Sultan sama sekali belum mematikan panggilan suaranya itu, dan untung saja Sultan sempat berseru tipis, dikarenakan dia tak mendengar suara dari Rere sedikit pun.


"Oyy, elu udah tidur bukan Be? perasaan sepi amat dah, udah sama seperti dikuburan aja sepinya, yaudah deh selamat malam Be," sahut Sultan berbicara dengan nada suara rendahnya juga.


"Sultan! ihh ... gue kirain siapa, sampai kaget gue seriusan! lagian bukannya besok elu harus berangkat pagi-pagi ya, yaudah sana tidur, perasaan elu suka banget dah nemenin gue bergadang sampai selarut malam ini."


Rere tak langsung mengambil handphonenya yang dia simpan di atas meja ruang tamu itu, dia hanya menyaut tipis sambil melihat handphonenya yang masih menyala itu saja.


"Gue engga akan pernah mematikan panggilan telepon suara ini sebelum gue mendengar ucapan assalamu'alaikum dari elu terlebih dahulu," ucap Sultan dengan lembutnya sambil sesekali tersenyum tipis di luar ruangan rumah.

__ADS_1


Malam itu Sultan tengah duduk di luar ruangan rumahnya, ia memang sengaja ingin merasakan kembali angin malam yang liar itu karena sebab dia memang sering berteman dengan sosok angin malam.


Makanya kenapa Sultan jarang sekali terkena dampak dari tidak baiknya angin malam, bisa dibilang itu adalah gejala ringan seperti hal nya masuk angin.


Ada juga yang lebih bahaya dari sekedar hanya masuk angin saja, yakni angin duduk, namun sampai sekarang ia tak pernah mengalami gejala yang semacam itu, dikarenakan sosok Sultan sudah bersahabat dengan yang namanya angin pagi, angin sore, maupun itu angin malam.


Bahkan Sultan mengenal sosok angin tersebut lebih dulu bila dibandingkan dengan dia mengenal sosok bidadari seperti Rere lebih dulu.


"Jangan bilang kalau sekarang kamu lagi diam di depan teras rumahmu! aku heran sama kamu Tan, apa sih yang enak dengan merasakan angin malam?" tanya Rere, sepertinya malam ini dia akan memarahi Sultan.


....


Sebenarnya Sultan hanya ingin membuat Rere tertidur saja, makanya ia berbicara panjang lebar demi Rere, ia tahu bahwa dia pasti sangat kelelahan, membantu adiknya belajar, itu memang sebuah tanggung jawab Rere sebagai orang yang paling dituakan oleh adik-adiknya.


"Para penulis banyak dibilang sebagai anak senja, tapi sebenarnya apa yang mereka tulis kebanyakan sering berpacu ke arah malam, seperti hal nya, cahaya rembulan, cahaya bintang, indahnya cahaya aurora, sunyinya malam, gelapnya langit malam, angin malam, rindu yang terpendam di balik gelapnya ruang hati, dan masih banyak lagi."


"Kamu pasti engga mengherankan hal itu kan Be? soalnya tulisan yang selama ini aku buat untukmu kebanyakan berpacu ke arah malam."


Ucapan terakhir Sultan membuat Rere sadar, ternyata ini alasan dia sering menyendiri di waktu malam hari, dan oleh sebab itu, tulisan Sultan memang paling banyak membahas soal tipe-tipe malam, serta teman terdekat malam.

__ADS_1


"Aku baru sadar, ternyata hanya dengan kita menciptakan beberapa tulisan singkat saja, si pencipta itu bisa menguasai dirinya sendiri, misalnya dalam segi berpikir dewasa, tapi anehnya kenapa aku lebih dewasa darimu Tan," ucapan Rere sungguh menggoreskan luka dihatinya, namun sepandai-pandainya Sultan dalam membuat suatu tulisan, ia akan terjatuh oleh ucapan Rere.


Sultan tertawa, ia mengira bahwa ucapan Rere akan membuat luka dihatinya, dan memang luka itu ada, tapi mudah juga untuk ditiadakan dengan sifat Sultan yang sekarang.


"Bersedih karena rindu, cemburu karena takut, apakah sifat tersebut dapat mencerminkan bahwa kita berdua sudah bisa dibilang telah menjadi orang dewasa? sepertinya engga Be, kita berdua memiliki tingkat kedewasaan yang buruk, dikarenakan kita berdua masih memiliki sifat itu."


"Ngalah sedikit bisa engga sih Tan!" ucap Rere singkat.


Ucapan Rere membuat Sultan sadar bahwa Rere bukan seseorang yang tepat untuk dipanggil sebagai wanita dewasa, dikarenakan dia belum bisa menerimakan pendapat dari orang lain sepenuhnya.


"Berpikirlah sejauh seperti kamu bisa melihat masa depanmu seperti apa nantinya, itu adalah cerminan sebuah arti dari sifat kedewasaan, bilamana masa depanmu nanti suram, buatlah kesuraman itu menjadi sebuah kedamaian hidupmu, bilamana masa depamu cerah, buatlah kecerahan itu menjadi lebih cerah lagi."


Ternyata dia benar, bahwa kedewasaan tak semuanya berarah kepada satu tujuan saja, banyak tujuan yang harus mereka miliki dan harus mereka ketahui juga.


Bilamana waktu dapat diputar balikan, Sultan akan memilih untuk tidak berkenalan dengan sosok Rere secapat ini, akan tetapi dia ingin memilih bertemu, serta mengenal dekat sosok bidadari seperti Rere di masa kesuksesannya nanti untuk dia jadikan seorang istri, bukan menjadikan dia sebagai pacarnya.


Sudah lama ia menunggu waktu ini, tapi ternyata setelah dia membuat Rere tertidur di rumahnya, dan sekarang Sultan malah sulit untuk tertidur.


Sultan masuk ke dalam rumah, ia pun menutup pintu ruangan kamarnya dan lalu mematikan lampu kamar tersebut karena ia ingin menyalakan lampu tidur yang memiliki warna dasar biru tua, tentunya lampu itu menyala lebih redup dari lampu kamarnya yang utama.

__ADS_1


Agar Sultan bisa tertidur lebih cepat, ia pun memutar beberapa lagu senja dengan nada suara yang sengaja ia pelankan agar orang rumah tak dapat mendengarkannya juga.


__ADS_2