
Malam itu setelah Sultan mengantarkan Rere pulang, yang di mana ibunya memang sudah menduganya dari awal bahwa Sultan takan pernah membiarkan Rere pulang sendirian, apalagi dia pulang selarut malam seperti kemarin.
Maka dari itu beliau menunggunya sampai mana dia benar-benar pulang ke rumahnya, meskipun malam itu adalah waktu beliau untuk tertidur pulas, namun demi menunggu anaknya itu tiba, beliau rela bergadang semalaman.
Sultan memang selalu membawa kunci cadangan rumah bilamana ia sedang pergi ke luar untuk mencari angin segar, dan terlebih ia adalah tipe pria yang sering keluyuran tengah malam, jadi ia selalu masuk ke dalam rumah dengan cara mengendap-ngendap, dikarenakan sebagaimana seorang anak ia hanya takut bila nanti langkah kakinya itu akan membangunkan kedua orang tuanya yang tengah tertidur pulas di dalam sana.
Semua lampu ruangan di dalam rumah telah dimatikan, tapi tidak dengan lampu yang berada di luar ruangan, seperti hal nya lampu di depan teras rumah.
Namun, pada saat itu ketika Sultan akan menutup kembali pintu rumahnya, dengan seketika ibunya mengejutkan dia dengan cara menyalakan lampu yang berada di dalam ruang tamu.
"Astagfirullah, kok, tiba-tiba lampunya menyala sendiri ya! aneh beut dah sumpah, apa jangan-jangan," ucap Sultan begitu terkejut, dan dengan seketika ia pun lalu melihat suatu bayangan hitam, lantas Sultan mulai membalikan pandangannya ke arah bayangan tersebut itu.
Sultan terkejut untuk kedua kalinya, entah apa yang ada di dalam pikiran beliau sekarang ini, apa beliau benar-benar sengaja mengkenakan kain mukena berwarna putihnya itu hanya untuk membuat Sultan merasa terkejut saja.
"Astagfirullah, sampai kaget Sultan Mah! kirain Sultan mamah udah tidur. Mamah abis salat tahajud bukan? perasaan rapi amat dah," tanya Sultan dengan reaksi terkejutnya.
"Pulang engga bilang dulu! tahu-tahunya udah main nongol begitu aja, udah itu masuk ke dalam rumah seperti orang yang mau maling lagi, untungnya ada pacarmu itu yang ngasih tahu mamah kalau kamu mau ikut pulang juga sama dia ke Sukabumi," ucap beliau membuat Sultan mengecup tangannya di dalam sana.
Sultan membalas ucapan beliau hanya dengan memberikan senyuman manisnya itu saja, dan mungkin beliau juga pasti telah mengetahui niatnya tersebut itu seperti apa, kenapa, dan untuk apa, serta untuk siapa.
__ADS_1
Beliau telah menyiapkan Sultan semuanya, dari makanan, air hangat untuk dia mandi, hingga sampai vitamin pun beliau siapkan hanya untuk dia, anaknya sendiri.
Dan kalaupun anak wanitanya ada di sana, mungkin beliau juga akan memberikan perhatian yang sama seperti kepada anak prianya.
Sultan menolak makan dan menolak untuk mandi malam ini, ia hanya ingin melaksanakan ibadah salat isyanya yang sempat ia tinggalkan sebelumnya.
Setelah Sultan melaksanakan salat isyanya itu, ia pun lalu pergi ke luar dari dalam rumah, dikarenakan ia sadar bahwa motor tuanya masih ada di depan teras rumahnya.
Malam itu tepatnya pada pukul 12 malam, di mana Sultan hanya mengabari Rere lewat pesan Whatsapp saja, ia sudah tahu kalau pacarnya itu pasti sudah tertidur pulas di sana.
Sultan hanya memberikan beberapa patah kata singkatnya itu saja kepada Rere, namun Sultan sangat yakin bahwa wanitanya akan senang melihat serta membaca beberapa bait kata itu, dikarenakan esok pagi Sultan akan menemuinya kembali di sana.
....
Niat Sultan yang sebenarnya itu adalah mengajak dia pergi untuk mengikuti lomba jalan santai yang diselenggarakan tepat di Kotanya sekarang, tapi berhubung Rere masih agak sedikit lelah, jadi ia menunda niatnya itu terlebih dahulu sampai pacarnya benar-benar pulih.
Sementara dikediaman Rere, di mana ibunya sempat bingung, apakah mereka berdua sama sekali tidak dapat merasakan sedikit arti dari kata lelah, padahal perjalanannya yang kemarin itu belum lama berlalu.
"Kamu mau ke mana sih Re? pagi-pagi begini udah rapi aja, apa jangan-jangan kamu mau pergi main lagi bersama dengan pacarmu itu? mamah bingung sama kalian berdua! emangnya kalian engga merasa lelah sedikit pun apa?" tanya beliau sambil duduk di samping Rere.
__ADS_1
"Engga Mah, kita berdua cuma mau main di rumah aja, lagian sekarang Sultan lagi ada urusan sama gurunya di sana, jadi dia mau sekalian mampir ke sini, dan itu pun hanya sebentar aja kok, engga akan lama Mah," ucap Rere sembari menatap raut wajah ibunya, dan lalu setelah itu dia pun mencubit pipi kanan beliau dengan begitu lembutnya.
Pada saat Pak Mukhsin tahu bahwa seluruh teman Sultan pulang ke Sukabumi, beliau langsung menyuruh mereka untuk berkumpul di rumahnya, dikarenakan beliau penasaran dengan apa yang telah mereka kerjakan di luar sekolah.
Dan untung saja Sultan sempat menyuruh semua teman-temannya untuk mengisi catatan jurnal kehadirannya sampai benar-benar tak ada satu pun hari yang terlewatkan.
Absensi mereka cukup baik selama mereka melaksanakan tugasnya di Tangerang, jadi Sultan merasa apa yang akan guru pembimbingnya itu lihat semoga beliau merasa puas dengan hasil pekerjaan mereka semua di sana.
Sekarang tak ada satu pun siswanya yang telat datang ke rumahnya, beliau sangat kagum bahwa prilaku buruk itu dapat mereka lawan.
"Oke, bagus, kalian mengisi semua jurnal dengan tepat, dan absensi selama kalian ditugaskan di sana pun tak ada yang bolong sama sekali, semuanya bekerja dengan disiplin, bapak sangat senang melihatnya, terima kasih," ujar beliau dengan seketika membuat semua hati siswanya tersentuh.
Baru kali ini mereka melihat beliau sesenang dan sebahagia itu di sana, semoga suatu hari nanti mereka semua masih dapat melihat sikapnya itu kembali.
Tugas mereka semua sudah selesai, dan mereka diperbolehkan pulang, namun mereka memilih untuk tetap berdiam diri di dalam rumahnya terlebih dahulu.
"Mohon izin untuk berbicara Pak, nama saya Sultan Baehakki, sekaligus perwakilan dari mereka semua, di mana ini adalah rasa hormat kita untuk bapak, dikarenakan bapak telah mau membimbing kita, di mana pun itu tempatnya bapak selalu ada untuk kita semua, mohon terima rasa hormat kami ini," ucap Sultan mulai mengajak semua temannya untuk berdiri tegak sambil memberikan hormat kepada beliau.
Pak Mukhsin bangkit dari duduknya, beliau membalas hormat mereka dan lalu memeluk tubuh mereka satu-persatu.
__ADS_1
Senyuman beliau tak dapat terhapus dalam ingatan mereka semua begitu saja, rencana Sultan membuahkan hasil yang sangat baik bagi mereka.
Setelah mereka ke luar dari dalam rumah beliau, mereka semua saling merangkul dan ingin tetap mempertahannkan sikap ini, bahkan mereka semua ingin mengembangkan sikap yang sudah lama menghilang ini menjadi lebih baik lagi untuk ke depannya.