
Rere baru menyadari pria yang tadi dia semprot menggunakan air cabe itu adalah Sultan. Rere sangat terkejut melihat semua ini, dia pun lalu meletakan makanannya di atas jembatan irigasi.
Sultan masih menutup matanya rapat-rapat karena efek semprotan dari air cabe itu masih terasa panas dimatanya.
Rere mencoba mengelus-elus matanya, namun Sultan melarang Rere untuk melakukan itu. Ia hanya takut nanti Rere pun akan merasakan perih yang sama dengannya.
Rere itu orangnya pelupa, Sultan takut setelah Rere mengelus-elus mata Sultan yang ia takutkan tanpa sengaja Rere pun malah akan mengelus matanya sendiri juga.
"Maafin gue Tan, makanya coba kalau lu ada di sekitaran sini itu bilang! gue kan engga tahu kalau yang nyapa gue tadi itu adalah elu," ucap Rere sembari menahan rasa ingin menangisnya itu di sana.
"Tolong ambilin tisu sama air di dalam tas slempang gue ini Re," suruh Sultan dengan nada suara yang terdengar agak sedikit patah-patah.
Untung saja Sultan sempat menghindar, jadi semprotan air cabe itu tadi hanya mengenai sedikit mata yang sebelah kanannya saja.
Sultan menyuruh Rere untuk membasahi beberapa lembaran tisu menggunakan air mineral yang sempat dia beli dari warung Mas Yogi.
Rere segera menuruti apa perintah dari Sultan tanpa membantah perkataannya. Rere pun sempat meneteskan air matanya sampai Sultan tertawa tipis melihat dia begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Kok, kamu malah nangis sih Re, mendingan kamu langsung pulang aja sana," ucap Sultan dengan lembutnya menyuruh Rere untuk pulang saja.
Rere masih terdiam, dan untung saja di atas jembatan irigasi tersebut tidak ada satu kendaraan pun yang melintas.
"Aku engga bisa ninggalin kamu dalam kondisi seperti ini Tan," ucap Rere penuh perhatian.
Sultan mengajak Rere untuk meninggalkan jembatan irigasi tersebut sebelum ada orang yang melihat mereka berdua di atas sana.
"Gue engga apa-apa Re, nyatanya mata gue udah sanggup melihat jatuhan air matamu ini dengan jelas," ucap Sultan mulai bisa membuka matanya yang sempat terkena semprotan air cabe dari Rere itu.
__ADS_1
"Kamu beneran engga apa-apakan Tan?" tanya Rere masih belum bisa mempercayai ucapan dari Sultan.
"Gue engga apa-apa Re, yaudah mendingan elu pulang sana, biar gue anterin sampai depan gang rumahmu."
Sultan mulai mengantarkan Rere untuk pulang, walaupun sebelumnya Rere menolak ucapan dari Sultan, namun ia tetap saja ngeyel ingin mengantarkan Rere hingga ke depan gang rumahnya.
Ia tidak bisa melihat wanitanya berkeliaran di jalanan seorang diri, apalagi ini sudah malam, sepatutnya tadi Rere menyuruh dirinya saja untuk membelikan makanan yang ibunya itu inginkan di sana.
"Lagian kamu bukannya nyuruh gue aja Re, ini kan udah malam, engga baik cewe secantik kamu jalan-jalan tengah malam begini," ucap Sultan sembari merangkul bahu Rere.
"Aku bukan cewe manja Tan! lagian kamu juga pasti capekan seharian ini ngajakin gue keliling Kota Sukabumi," ucap Rere dengan disandarkan kepalanya di atas bahu Sultan.
"Kalau emang kamu bukan cewe manja, engga semestinya kamu membawa alat yang dapat membahayakan keselamatan orang lain Re," ucap Sultan sembari menunjuk dan menatap semprotan air cabe milik Rere itu.
"Inikan buat jaga-jaga Tan, lagian bukannya ini ide dari elu juga ya?".
....
Sultan tersenyum sembari menatap langit-lagit malam yang dipenuhi dengan cahaya dari bintang dan cahaya dari sang rembulan.
Sultan menyuruh Rere masuk ke dalam rumah, namun Rere menyuruh Sultan untuk diam di depan sana sebentar saja, dikarenakan dia hanya ingin memberikan makanan pesanan dari ibunya itu saja terlebih dahulu.
Sultan mengangguk, ia menunggu Rere sesaat sampai dia datang menghampirinya di depan sana. Ternyata Rere hanya ingin memberikan sebuah hadiah yang sempat dia beli untuk Sultan.
"Apaan ini Re? gue kok, engga tahu kapan elu beli ini untuk gue," tanya Sultan dengan ditatapnya hadiah pemberian dari Rere itu.
"Ada deh, tapi kamu jangan buka hadiah ini sekarang ya, pokonya kamu baru boleh membukanya setelah sampai di kosan atau di rumah kamu aja," ucap Rere yang sempat memegang tangan Sultan pada saat Sultan akan membuka hadiah dari Rere itu.
__ADS_1
"Dih, aneh banget dah elu Re, yaudah kalau begitu Re, gue pamit dulu ya," ucap Sultan, yang di mana ia pun lalu memasukan hadiah tersebut ke dalam tas slempangnya.
"Hati-hati ya, dan ingat! jangan pulang larut malam," ucap Rere sembari mengecup pipi Sultan dan lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Sesampainya Sultan di dalam kosan, ia pun menatap sembari membolak-balikan kotak yang entah apa isi di dalamnya itu.
Iman datang menghampiri Sultan, dia sempat melihat temannya itu tengah tersenyum-senyum sendiri, lantas dia pun menanyakan hal yang membuat Sultan sebahagia itu apa dan karena siapa.
"Woii, kenapa lu Tan, perasaan dari tadi gue lihat-lihat kayaknya elu lagi bahagia banget dah," ucap Iman penasaran.
"Ini tadi si Rere ngasih gue hadiah, gue juga engga tahu dalamnya apaan," ucap Sultan masih menggenggam kota mungil tersebut.
"Buka lah Tan, biar elu tahu dalamnya apaan."
Sultan mulai membuka tutup kotak tersebut, dan di dalamnya berisikan sebuah jam yang memang itu adalah salah satu jam tangan kesukaannya.
"Ini si Rere tahu dari mana kalau gue mau beli jam tangan ini, ada-ada aja lu Re," ucap Sultan dalam hati.
Iman sempat ingin merebut jam tangan itu, namun dengan cepatnya Sultan memasukan jam tersebut ke dalam kotaknya kembali.
"Mau apa lu hah? kagak bisa Men," ledek Sultan kepada Iman, yang di mana dia tak dapat mengambil benda dari tangan Sultan itu.
"Buat gue ajalah Tan, jam tangannya lagian itu lu udah pake jam tangan sendiri, engga baik Tan, punya jam tangan banyak-banyak tapi engga elu pakai semuanya," ucap Iman berharap Sultan akan memberikan satu jam tangan untuk dirinya.
Akhirnya Sultan pun melepaskan jam tangan lamanya, dan dengan santainya ia memberikan jam tangan lamanya itu kepada Iman.
Iman tertawa, tapi dia berharap Sultan akan memberikan jam tangan dari Rere, namun Sultan takan pernah semudah itu memberikannya kepada Iman, dikarenakan ini adalah hadiah pemberian dari wanitanya, mana mungkin ia mau memberikannya begitu saja kepada Iman.
__ADS_1
"Yang dari si Rere lebih bagus Tan, maksud dari bagus itu barangnya masih baru," ucap Iman dengan diliriknya jam tangan yang berada di dalam kotak tersebut itu.
"Gue engga akan pernah memberikan jam tangan ini Men, walaupun elu sahabat gue," ucap Sultan meledek Iman dengan cara melemparkan berulang kali kotak tersebut sampai tangan Iman merasa gatal ingin menangkapnya.