
"Gue penasaran dengan raut wajah para brandalan itu seperti apa, sebenarnya mereka menginginkan apa dari elu pada sampai hingga Sultan, sosok yang gue kenal sebagai siswa yang paling ceria di sini mereka hajar juga."
"Sebelumnya waktu itu Sultan pernah bilang sama gue, bahwa pada dasarnya dia cinta akan kedamaian, tapi kenapa bisa dia dihajar habis-habisan oleh orang lain yang diduga para brandalan jalanan itu."
Bang Boa terlihat begitu membingungkan hal yang sekarang tengah menimpa Sultan, padahal Sultan merupakan sosok pria yang bisa dibilang cukup asik, namun sayang sekali para brandalan itu tak mau dan tak ingin melihat seberapa jauh seorang Sultan bisa merangkul mereka semua.
"Biasalah Bang, ada salah satu dari para brandalan itu yang cemburu sama si Sultan, dikarenakan gebetan yang tengah dia dekati itu sangat akrab dengan si Sultan ini," ucap Azmi membuat Bang Boa tak habis pikir, mengapa bisa hanya karena satu wanita, mereka semua tega memukuli anak asuhannya di sana.
Rekan-rekan Sultan sekaligus bersama dengan Bang Boa saling mengernyitkan dahinya lantaran mereka pun tak habis pikir, sebenarnya apa yanh mereka harapkan dari sosok wanita seperti Aisyah.
Bukannya waktu itu Aisyah pernah bilang kepada mereka bahwa dia sama sekali tidak menyukai salah satu orang diantara para brandalan jalanan yang menyintainya itu.
Namun, mereka sungguh sangat keras kepala sekali, sampai mereka rela membiarkan harga dirinya jatuh oleh dirinya sendiri.
Kringg, kringg, kringg ....
Bell Perusahaan telah berbunyi, itu menandakan bahwa mereka semua sudah harus memulai aktivitasnya kembali di dalam ruangan Perusahaan.
Dengan serentak mereka pun masuk dan memulai kembali pekerjaannya di dalam sana. Seperti biasa mereka menjalankan pekerjaannya dengan sebaik mungkin, sehingga waktu bekerja pun tak terasa lama dan juga begitu cepat berlalu.
Tak lama kemudian setelah usai melaksanakan semua pekerjaannya di dalam sana, rekan-rekan Sultan pun kini berkumpul bersama di samping pintu gerbang yang berada di sekitaran area Perusahaan.
__ADS_1
Di sana mereka semua duduk terdiam menunggu kehadiran sosok Aisyah dan juga menunggu sosok dari teman-teman wanitanya itu juga.
Ternyata yang menyebabkan Aisyah dan teman wanitanya itu lama hadirnya disebabkan oleh teman prianya yang masih saja terlihat takut kepada semua rekan Sultan.
"Engga biasanya lama Syah, kalian ke mana dulu? kita udah nungguin kalian dari tadi, kurang lebih ada sepuluh menitan, serius," ucap Sultan sambil bangkit dari duduk terdiamnya.
"Teman-teman gue katanya mau bantuin kalian untuk melawan para brandalan-brandalan jalanan itu, sama sekalian mereka juga mau membalaskan dendam mereka yang dulu-dulu pernah terjadi itu," ucapan Aisyah membuat rekan-rekan Sultan tersenyum.
Akhirnya, sudah sekian lama mereka menunggu, ternyata teman-teman Aisyah mau membantu mereka juga. Sebenarnya Sultan dan rekan-rekannya tak mau memaksa teman-teman Aisyah untuk membantu mereka dikarenakan di hari yang takan lama lagi akan segera datang, teman-teman Aisyah akan melihat seberapa menyeramkannya kekuatan mereka bilamana mereka semua bersatu.
"Sebenarnya gue dan rekan-rekan gue engga pernah memaksa kalian agar kalian bisa membantu kita semua di sini, namun akan tetapi sebenarnya kita semua hanya ingin melihat seberapa perduli kalian terhadap teman-teman wanita kalian di sini."
"Tapi, syukurlah ... bila memang kalian ingin membantu kita, maka kita engga akan sungkan untuk menerima kalian semua ditongkrongan kita."
....
Setelah itu, Sultan pun pergi meninggalkan mereka berserta dengan Aisyah. Sore ini teman-teman Aisyah siap menunggu semua rekan-rekan Sultan di halaman yang berada di depan tempat persinggahan Aisyah.
Seperti yang telah Sultan rencanakan sebelumnya, di mana dia bersama dengan Dimas akan pergi untuk menelusuri jalanan yang sering para brandalan-brandalan itu lewati.
Tentunya di sana Sultan dan Dimas sudah menutup semua baju kerjanya dengan menggunakan jaket kulit yang telah mereka buat dari temannya yang bernama, Reffi.
__ADS_1
"Kata teman Aisyah para brandalan itu sering lewat di sekitaran jalan sini, tentunya di sini kita memiliki tiga titik tempat yang selalu mereka lewati, dan tempat ini adalah salah satunya Dim," ucap Sultan berbicara di belakang tubuh Dimas.
Waktu itu Sultan memang tengah dibonceng oleh Dimas, dia tak mau memperlihatkan motornya dikarenkan sebab para brandalan itu pasti dapat mengetahuinya.
Dimas pun tak memakai motornya juga dikarenakan alasan yang sama. Lantas sekarang Dimas hanya menggunakan salah satu motor milik karyawan yang memang dia begitu respect kepada rekan-rekan Sultan.
Bang Boa, motor tersebut merupakan motor miliknya. Dia memang sengaja meminjamkan motornya dikarenakan sebab dia ingin sekali membantu semua rekan kerjanya di sana.
Berhubung dia tidak diperbolehkan membantu mereka untuk melawan para brandalan jalanan itu, jadi dia hanya bisa membantu meminjamkan motornya saja sebagai benda untuk menyempurnakan penyamaran mereka kali ini.
Tanpa sengaja pada saat mereka berdua tengah berdiam diri di tempat penelusuran yang pertama, mereka pun sempat melihat 2 diantara 5 orang yang diduga kedua orang tersebut memang merupakan komplotan dari para brandalan-brandalan jalanan itu.
"Lihat Dim, ternyata tempat yang pertama memang merupakan tempat yang sering mereka kunjungi, dan coba elu perhatiin dah Dim, kedua wajah itu sepertinya engga begitu asing dipenglihatan gue, dan pastinya elu juga mengetahui kedua orang itu siapa," ucap Sultan sambil menuduhkan orang-orang tersebut hanya dengan anggukannya saja.
"Waduh ... sasaran empuk nih kayaknya, yaudahlah, berhubung mereka yang membuat gegara terlebih dahulu dengan kita, jadi bagaimana kalau sekarang kita hajar mereka terlebih dahulu? berhubung jumlah mereka hanya sebagian dari kekuatan si Wildan."
"Lagipula nih ya, Tan, bukannya elu juga udah mengetahuinya sendiri kekuatan mereka seperti apa, jadi sekarang biarin aja para cecunguk itu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, betapa berbahayanya tongkrongan kita bagi mereka semua di sini," ujar Dimas sambil sesekali meregangkan lehernya hingga mana tulang dari lehernya itu mengeluarkan bunyi.
"Halahh ... engga usahlah Dim, sebenarnya apa yang elu ucapkan tadi itu hanya akan membuang-buang waktu singat kita aja! mendingan sekarang kita menelusuri tempat yang selanjutnya terlebih dahulu, biarin mereka semua duduk santai dan tertawa lepas di atas penyesalannya yang kebetulan takan lama lagi akan segera terjadi kepada mereka semua."
"Lagipula disituasi yang sekarang ini kita engga akan pernah mengetahuinya, apakah di sana memang hanya ada mereka saja ataupun ada teman-temannya yang lagi bersembunyi di balik tubuh mereka."
__ADS_1
Sultan pun lalu menyuruh Dimas untuk melajukan kembali motornya agar dia bisa memberitahu Dimas tempat yang akan dia telusuri sekarang ini ada di mana saja.