Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 116 : Tertawa dengan lantangnya


__ADS_3

Brukk ....


Suara ranjang kasur Akbar, dengan seketika ambruk begitu saja, dikarenakan itu memang ulah Akbar sendiri, siapa suruh dia membangunkan Sultan dengan cara bodohnya itu, yang di mana dia meloncat-loncat sambil berteriak menyuruhnya bangun, dan alhasil ranjang satu-satunya itu pun hancur dalam kedipan mata.


Sultan mengira bahwa tadi itu gempa bumi, namun tentunya itu bukanlah gempa, melainkan guncangan itu disebabkan oleh loncatan Akbar bodoh! dan pada akhirnya Sultan terbangun dari tidurnya itu.


Akbar pun lalu terjatuh dan terbaring lemas di bawah teras kamarnya itu sembari tertawa-tawa bersama dengan Sultan juga, hingga mana Kang Azis, kakak kelasnya itu pun terkejut oleh suara keras yang ditimbulkan dari jatuhnya ranjang kasur Akbar itu.


Kang Azis pun lalu datang dengan hanya menggunakan sarung, serta baju polos berwarna putih, seperti layaknya seseorang baru bangun dari tidurnya, ataupun bisa dibilang seseorang yang sedang melakukan ronda.


"Gila lu bolot! gue kaget nih! gue kira tadi itu gempa, ternyata itu elu Bai, astagfirullah ... sampai sakit badan gue semua bolot!" ucap Sultan sembari tertawa-tawa dengan lepasnya bersama Akbar di dalam kamarnya itu.


"Aduhh, tulang ekor gue juga sakit Tan, gue kira ini engga bakalan terjadi, tapi nyatanya ini terjadi juga, nyesel dah gue Tan, haduh ... ," ucap Akbar sambil tertawa-tawa dengan lepasnya bersama dengan Sultan, namun tentunya dia pun tertawa sambil memegang punggung bagian bawahnya itu juga.


"Woii, suara apa tadi? gue kaget nih bodoh! lagi enak-enaknya makan mie rebus juga, jadinya kan mie gue tumpah semua," ucap Kang Azis yang memang dia pun sangat terkejut, sampai-sampai mie rebusnya terjatuh tanpa dia memakannya dahulu.


Kang Azis tidak marah sedikit pun kepada mereka berdua, yang ada dia pun malah ikut tertawa bersama dengan mereka di sana, dan terlebih yang paling lepas tertawa itu adalah dia seorang, sementara Sultan dengan Akbar hanya tertawa geli sedikit saja.

__ADS_1


Sultan pun lalu pergi ke luar dari kamar Akbar setelah dia membantunya membenarkan ranjang kasurnya yang rusak itu di dalam sana, dan sesudah dia membantu teman bodohnya itu, Sultan pun lalu pergi membasuh wajahnya sebelum dia menikmati rokok pertamanya itu di depan teras kamar Akbar di sana.


Asap rokok mulai dihisap dan dihembuskan perlahan dengan ditemaninya Akbar, dikarenakan sebagian temannya sudah ada yang pergi berangkat PKL terlebih dahulu, dan jadi sementara ini Akbar lah yang akan selalu menemaninya di sana, namun 2 hari lagi, Sultan pun akan segera berangkat pergi juga.


"Gue cuma punya waktu dua hari lagi Bai, apa mungkin gue bisa meluangkan waktu singkat gue ini kepadanya, dan terlebih guru pembimbing gue selalu menyuruh gue untuk beristirahat sebelum gue pergi berangkat ke Tanggerang," ucap Sultan sambil menghembuskan asap rokoknya dengan di tatapnya sang langit biru di atas awan putih itu.


"Seorang penulis takan pernah mudah kehilangan inspirasinya itu dalam hal menulis, elu kan paling paham dan paling mengerti kalau soal urusan beginian Tan? tapi, kenapa elu harus ngomong sama gue, dan lagian elu bukannya pernah ceramahin gue dah, agar supaya kita tidak terlalu memikirkan rindu itu, tetapi doakanlah rindu itu dengan setulus mungkin, biar nanti pertemuan itu akan datang dan hadir kembali secepat mungkin," ucap Akbar yang sama-sama menatap langit biru itu juga bersama dengan Sultan, kawan terbaiknya.


....


Suara azan telah berkumandang, Sultan dan Akbar pun seperti biasa melaksanakan salat berjamaah berdua di dalam kamar kosannya itu, Akbar pun lalu menyuruh Sultan untuk berdiri di depan menjadi imamnya, dan sementara itu, Akbar yang akan berdiri di belakangnya sebagai makmum.


Tak lama kemudian, Sultan pun lalu menjemput Rere di tempat dia sedang melaksanakan tugasnya itu, suara raungan motor Sultan telah dinyalakan, dan tanpa berlama-lama lagi dia pun langsung pergi menghampiri pacar cantiknya itu di sana.


Dan ternyata Rere sudah menunggu Sultan di depan parkiran, hingga pada akhirnya Sultan pun tak perlu untuk menunggu waktu lebih lama lagi karena memang sekarang Rere sudah ada di hadapannya.


"Haii, udah berapa lama kamu nunggu gue di sini? padahal kan, elu bisa nunggu gue di dalam aja, kalau misalnya nanti elu sakit karena kepanasan gimana coba? emangnya elu sanggup membuat gue sedih? jangan ya, soalnya sebentar lagi gue kan mau berangkat PKL, dan gue harap elu bisa menjaga kesehatan elu ini di sini dengan sebaik mungkin pokonya."

__ADS_1


Ucapan Sultan membuat Rere menundukan kepalanya itu, dan tentunya Sultan hanya ingin membuat dia kuat, yang di mana kepergiannya itu jangan pernah dia anggap sebagai perpisahan terakhirnya, akan tetapi wanitanya itu harus bisa menganggap kepergiannya itu sebagai ujian kesabaran yang harus hatinya terima dengan sebaik mungkin.


"Bisa engga sih Tan, kita ngebahas hal yang lain, cari pokok pembicaraan yang bisa membuat gue tertawa, jangan kayak gini Tan! gue kagak mau," ucap Rere yang tiba-tiba langsung menduduki jok motornya itu.


Dia tidak sadar, dengan siapa dia sedang berbicara, seolah-olah Sultan hanyalah pria yang membosankan, namun itu salah! tentunya dia adalah pria rese yang amat menyebalkan.


"Tadi gue kan tidur di kamar kosannya Akbar, dan gue nyuruh dia buat bangunin gue jam tiga, dikarenakan gue takut membuat elu lama menunggu karena keterlambatan gue dalam bangun lebih awal."


"Tapi elu tahu ga? apa yang gue alami barusan? tapi elu jangan ngeledekin gue ya, Be, janji?".


"Hmm," Rere hanya bergumam tipis saja, dan sebenarnya dia pun ingin bercerita panjang lebar selagi pacarnya itu masih ada di sini.


"Si Akbar bodoh itu ngebanguni gue sambil loncat-loncat di atas kasur kamarnya, sampai-sampai ranjangnya ambruk, dan di sana gue sempat kaget, gue kira itu gempa bumi, tapi ternyata gue malah dibuat tertawa oleh kelakuannya itu," dalam hitungan detik Rere tertawa dan mulai berani memukul helm Sultan dengan sekeras mungkin.


"Dihh, apaan sih Be, kagak jelas elu mah ah! orang lagi ngambek juga! tapi bisa-bisanya elu malah merusaknya dengan secepat ini, awas aja lu Tan!" ucap Rere sembari mencubit tubuh Sultan dan ditambah lagi dengan pukulan keras di helmnya itu.


Sultan pun tersenyum dan tertawa dengan lepasnya, yang di mana sakitnya cubitan wanitanya itu tidak dia rasakan, sehingga dia lebih memilih untuk tersenyum dan tertawa dengan lantangnya kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2