Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 366 : Mengukir kisah di masa lalu


__ADS_3

Sultan dan Rere berhenti di sebuah tempat wisata alam, dan nama tempat wisata alam itu adalah, Selabintana. Tempat itu merupakan tempat yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan dari dalam kota, bukan hanya dari dalam kota saja, melainkan para wisatawan dari luar kota pun ada, dan mungkin warga asing dari luar negri pun juga meskinya ada.


Kesamaan tempat wisata alam Selabintana dan juga tempat wisata alam Pondok Halimun itu, bisa dibilang tak jauh berbeda, dikarenakan kita masih akan tetap disuguhkan oleh panorama alam hijau yang masih asli permandangannya.


Namun, yang membedakan kedua tempat itu adalah Selabintana tidak memiliki panorama perkebunan teh, dan bisa dibilang kedua tempat wisata alam itu juga bertetanggaan, hanya saja jalur yang membedakan kedua tempat wisata itu berada.


Sebelum Sultan memasuki tempat tersebut itu di dalam sana, ia pun harus membayar tiket masuk seharga 10 ribu rupiah, dan tentunya tarif itu telah termasuk juga dengan biaya parkir di tempat wisata tersebut itu.


"Kamu masuk duluan aja Be, gue mau parkir motor dulu, itu pun kalau kamu berani masuk ke dalam duluan sendirian," ucap Sultan, yang di mana dia hanya ingin meledek anak manja itu di sana.


"Emangnya gue anak kecil apa Tan! yaudah, gue duluan masuk ke dalam," ucap Rere sembari melangkah pergi meninggalkan Sultan sendirian.


"Dihh, marah dia, woii ... awas nyasar! ehh, maksud gue awas diculik sama orang lain," ucap Sultan sembari mengejar Rere yang tengah marah kepadanya.


Sultan pun berlari mengejar Rere, dan setelah dia menggenggam tangan wanitanya itu di sana, yang di mana Sultan pun lalu mencolek pipi Rere hingga membuat wanitanya itu tersenyum.


"Aihh, gitu aja marah elu mah Be! entar kalau cantiknya nambah gimana coba, emangnya elu mau tanggung jawab gitu?" ucap Sultan kembali sembari merangkul bahu wanitanya itu dengan manis.

__ADS_1


"Apaan sih Be! dan itu elu bilang kayak begitu kenapa? lagian gue harus tanggung jawab buat apa?" ucap Rere sembari menatap wajah Sultan.


"Tanggung jawab karena kamu udah bikin gue senyum tak berketepian, hingga mana senyuman ini tak ingin jauh pergi menatapmu kembali."


Ucapannya itu, dengan seketika membuat dirinya terus menatapi wajah Rere, dan hal itu yang membuat wanitanya malu, namun sifat menyebalkan Sultan takan pernah berhenti sampai di situ saja.


Rere pun membuang wajahnya dari pandangan Sultan, namun alangkah menyebalkannya Sultan, yang di mana tadi Sultan tengah berdiri di samping kiri Rere, dan dia pun lalu berdiri di samping kanan tubuh Rere, dikarenakan Rere membuang wajahnya ke arah kanan, dan jadi maka dari itu Sultan pun langsung berdiri dan memandangi Rere dari samping kanannya.


Apa daya Rere yang sekarang dia hanya bisa menundukkan wajahnya itu saja, namun akan tetapi Sultan pun lalu memberhentikan langkah kakinya itu agar supaya Rere bisa memandangi wajahnya kembali.


Dan kalaupun hal itu tak dapat berpengaruh kepada wanitanya itu, yang di mana Sultan pun akan bersikap lebih menyebalkan kepada Rere, dan tentunya Sultan pun akan semakin membuat wanitanya itu tertawa dengan lepasnya kepada dirinya.


....


Rere pun kembali menatap Sultan, namun kali ini Rere benar-benar dibuat takluk oleh prianya itu, dan tentu saja di sana, siapa lagi yang bisa bersikap manis seperti itu kepadanya selain Sultan.


Dengan perlahan Rere mengelus-elus rambut prianya itu, dan alangkah terkejutnya Sultan ketika mana Rere mengelus rambutnya hingga mana Sultan pun menepuk tangan Rere, yang di mana ia mengira bahwa tadi itu adalah serangga seperti ulat bulu yang terjatuh ke atas rambutnya, namun tentunya itu bukan, dan yang ternyata itu hanyalah tangan lembut dari Rere, sang kekasih hati yang sangat dia cintai.

__ADS_1


"Ehh, gila lu Be! kaget gue! gue kira tadi itu ulet, ternyata cuma tangan lembut lu," ucap Sultan sembari menepikan tangan Rere, dikarenakan dia hanya terkejut saja, bukan melainkan merasa risih.


"Ihh, bolot! gue juga kaget ini, kalau ketendang kepalamu, ilang tuh nanti," ucap Rere yang terlihat terkejut juga karena Sultan dengan seketika menepikan tangannya.


Sultan pun di buat terkejut yang kedua kalinya, yang di mana setelah Sultan menepikan tangan wanitanya itu, dan lalu kaki dari Rere pun dengan seketika bergerak sendirinya, dan malahan kakinya itu hampir saja menendang wajah Sultan, namun tentunya Sultan sempat menghindar dan terduduk dengan memasang wajah yang agak sedikit panik.


"Aihh, hampir aja kaki lu kena muka gue Be, jelek ah elu mah bercandanya, jangan kayak gitu lah bolot! kaget gue, untung aja gue sempat menghindar, coba kalau gue telat sedikit, pastinya muka gue udah habis," ucap Sultan sembari duduk terheran-heran.


"Ihh, maafin gue Be, gue engga sengaja sumpah, lagian kenapa juga elu harus nepuk tangan gue? jadinya kan gue kaget sendiri Be," ucap Rere yang langsung mengulurkan tangannya itu untuk membantu Sultan berdiri kembali.


Sultan pun lalu berdiri kembali dengan memasang wajah yang agak sedikit terkejut, dan hal itu yang membuat wanitanya tertawa, dikarenakan Sultan masih menatap tajam Rere dengan tatapan yang agak sedikit memelototi dirinya.


Tak mau banyak membuang waktu, dan lantas Rere pun berjalan meninggalkan Sultan sendirian, dia bukannya tidak mau memperdulikannya, melainkan bilamana dirinya mengikuti kediaman Sultan yang seperti itu, maka waktu singkatnya itu pastinya akan mudah berlalu.


"Udah berapa lama elu dekat sama gue Re? hingga mana elu sudah semakin kuat seperti ini, tendangan elu itu tadi, sungguh memberikan reaksi bagi gue Re, ternyata tendanganmu itu jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan tendangan yang gue miliki ini, angin tendangannya pun masih terasa sampai sekarang," ucap Sultan dalam hati sembari terdiam takluk, bagaimana bila tendangan itu mengenai tepat diwajahnya tadi, dan yang jelas Sultan pun kembali menatapi Rere sembari terlamun terheran-heran.


"Oyy, kenapa diam di situ aja? ayo sini Be, entar keburu sore loh, emangnya elu engga rindu sama gue?" ucapnya dengan nada manis, yang di mana Sultan pun lalu mengejar Rere dengan melangkahkan kakinya perlahan.

__ADS_1


Kembali mengukir kisah bersama dengan sang kekasih, semua itu adalah harapan yang selalu mereka dambakan di setiap kali waktu berjalan, dalam ratap senang, maupun ratap tangis, kesunyian, kesendirian akan menunggu waktu itu datang, dan hal itu hanya berjalan sesaat saja, hingga mana waktu akan terus mengulang, namun bukan mengulang kisah ini ke belakang, melainkan akan mengulang kisah ini ke depan, yang di mana satu pertemuan masih akan tetap terasa dengan hari ini, hari kemarin, dan hari nanti.


__ADS_2