Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 319 : Kelemahan Sultan


__ADS_3

Azmi dikepung oleh 3 orang sekaligus, tapi di sana Sultan yakin dia takan kalah begitu saja oleh mereka. Azmi masih melakukan perlawanan, sementara Sultan duduk manis sambil melempar-lempar rendah batu yang dia genggam ditangan kanannya.


Batu itu memang sengaja Sultan kumpulkan walaupun batu tersebut ukurannya memang tidak cukup besar dan hanya berukuran sedang saja, namun akan tetapi batu tersebut dapat dia gunakan untuk membantu Azmi bilamana nanti posisi Azmi sudah mulai terdesak.


Malam itu Sultan tidak bisa membantu Azmi lebih banyak lagi dikarenakan kondisinya yang sekarang terlihat begitu lemah sekali, dan terlebih kondisi Sultan memang belum benar-benar pulih seutuhnya.


Huuhh, huuhh, huuhh ....


Suara napas Sultan kini sudah mulai tak beraturan lagi, dan sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah duduk terdiam sembari menundukan kepalanya seraya mengernyitkan dahinya karena kelelahan.


Entah kenapa malam ini dia merasa sangat lemah sekali, bahkan rekan-rekannya sudah mulai khawatir, namun di sana Azmi terlihat begitu bersemangat sekali sampai dia tak dapat menyadari kelemahan dari seorang Sultan.


"Itu si Sultan kenapa diam aja Bre, apa mungkin rasa sakit yang dia rasakan kembali ... ," ucap Rizki tiba-tiba saja dipotong oleh perkataan dari Alamsyah, dikarenakan dia tidak mau sampai melihat semua rekannya menganggap seorang Sultan adalah orang yang lemah.


"Sutt! jangan asal bicara dulu Ki, gue tahu kalau Sultan bukan orang yang mudah untuk dikalahkan oleh mereka semua, pokoknya kalian jangan berpikiran yang buruk-buruk tentang kondisi dia," ucap Alamsyah mulai memperhatikan gerak-gerik Sultan di sana.


Tak lama setelah itu Sultan pun lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Di sana dia mengabari dan menyuruh semua rekannya beserta dengan teman-teman Aisyah untuk tetap menjalankan misinya saja.


Sementara itu para wanita-wanita cantik yang sekarang sedang duduk di depan teras kontrakan, mereka semua terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi Sultan yang sekarang ini.


Namun, mereka semua sadar selama Sultan masih bisa bersikap tenang, rekan-rekannya beserta dengan teman-temannya masih bisa menuruti ketenangan Sultan itu, dan terlebih Sultan berkata bahwa dia hanya sedang kelelahan saja, bukan melainkan kalah dalam pertarungan.

__ADS_1


"Hati-hati Tan," ucap seluruh orang-orang yang ada di grup Whatsapp.


Setelah Sultan membaca kalimat itu, dia pun lalu tersenyum dengan begitu lebarnya, dia mulai bangkit walaupun yang dibangkitkannya hanya tundukannya itu saja.


Sultan merasa kasihan kepada Azmi, disaat situasinya sedang genting seperti ini, Sultan malah asik berdiam diri dengan batu yang dia kumpulkan tadi.


Untung saja para musuhnya tak melihat Sultan dikarenakan para brandalan itu hanya terfokus mengalahkan Azmi saja, dan sementara Azmi pun hanya fokus melawan lawannya saja, bahkan sejauh ini dia sama sekali tak menatap Sultan ya, karena mungkin Azmi sadar Sultan pasti bisa mengalahkan mereka semua.


Memang benar seorang Sultan bisa dan mampu mengalahkan semua brandalan-brandalan gila itu, namun yang menjadi masalahnya sekarang kesehatan Sultan belum benar-benar pulih seutuhnya, dan jadi dia hanya bisa duduk terdiam setelah dia mengalahkan brandalan-brandalan gila itu, berbeda halnya dulu, di mana ketika kondisinya stabil dia masih sanggup berdiri setelah melawan musuhnya, tapi sekarang dia terlihat begitu lemah sekali.


Tak lama kemudian pada saat Azmi menjatuhkan satu musuhnya, akhirnya dia baru bisa melihat Sultan yang sudah duduk terdiam di sana.


....


Namun, para brandalan-brandalan gila itu tentunya tidaklah bodoh-bodoh amat, hanya saja para brandalan gila itu akan dipanggil bodoh kembali oleh Sultan setelah mereka semua mengetahui rencana Sultan yang sesungguhnya seperti apa.


Para brandalan gila itu mulai berlari menghampiri Sultan dan berniat ingin menghajar wajah Sultan. Sekarang situasinya mulai berbalik, di mana sebelumnya Sultan memang mengharapkan kedua brandalan gila itu pergi menghampirinya, dikarenakan Sultan merasa tidak ada cara yang lain lagi selain cara pancingan ini.


"Hmm ... bagus, terus saja seperti itu, ayo sini Bang, lebih dekat lagi, bukannya apa-apa, hanya saja lemparan batu gue akan terasa jauh lebih sakit bilamana wajah kalian beserta dengan kebodohan kalian itu berhadapan langsung dengan niat gue yang sekarang ini," ucap Sultan sambil tersenyum jahat di hadapan semua musuhnya yang sedang menghampirinya di sana.


Sebenarnya Sultan hanya takut lemparannya meleset jauh dari sasarannya, terlebih mata Sultan tidak bisa dibilang baik-baik saja.

__ADS_1


Makanya dia lebih memilih musuh mendekat sedekat mungkin di hadapannya agar supaya lemparannya tak meleset sehingga lesetan itu dapat mengakibatkan bumerang bagi dirinya sendiri.


Musuh mulai mendekat, dan di sana Sultan mulai melemparkan batu yang sedang dia genggam itu hingga mana batu tersebut tepat mendarat diwajah musuhnya.


"Makan nih salam cinta terakhir dari batu jalanan hitam," ucap Sultan, di mana setelah batu tersebut mendarat tepat diwajah musuhnya, dengan seketika Sultan pun tertawa terbahak-bahak seorang diri.


"Aduhh ... ," suara kesakitan dari musuh memang merupakan suara yang sedang dia tunggu-tunggu dari sejak dia bertemu dengan para brandalan gila itu.


"Widihhh ... tuhkan Bre, apa kata gue barusan, Sultan engga akan pernah menyerah begitu saja kepada para brandalan bodoh seperti mereka," teriakan yang begitu lepas sudah dibunyikan oleh Alamsyah, hingga mana teriakan itu hampir saja diketahui oleh musuhnya.


"Gila lu Lam! jangan teriaklah, nanti ketahuan," ucap Dimas sambil menyumpal mulut Alamsyah menggunakan kedua tangannya.


Ya, untung saja Dimas sempat menyumpal mulut Alam, coba saja dia telat merespon tindakannya, maka yang ada para brandalan gila itu sudah mengetahui rencana mereka semua di sana.


"Hihi, sorry Dim, gue terlalu bersemangat ini, soalnya gue sangat senang melihat Sultan akhirnya dapat mengalahkan rasa ketidak berdayaannya di sana," ucap Alam, di mana dia terlihat begitu senang melihat rekannya dapat bangkit dari rasa ketidak berdayaannya itu.


Setelah Sultan selesai mengurus sisa para brandalan itu, dia pun kembali bangkit dari duduk terdiamnya. Sultan berjalan sambil terpincang-pincang, lantas Azmi pun membantu merangkul bahu Sultan.


"Elu engga apa-apakan Tan? sini, biar gue bantu" ucap Azmi sambil merangkul bahu Sultan.


"Santai Mi, gue cuma kelelahan aja, lagian para brandalan gila itu udah pergi juga," ucap Sultan sambil melingkarkan tangan kanannya dibahu Azmi.

__ADS_1


"Maaf Tan, gue lalai menjaga elu, abisnya para brandalan gila itu engga mau mengalah, segini juga kita menyamar, apalagi kita pure tetap menjadi pria biasa, sepertinya para brandalan gila itu akan semakin kejam saja kepada elu dan gue Tan."


"Andai saja kondisi gue sehat seperti biasanya Mi, mungkin sekarang gue engga akan terlihat lemah seperti sekarang ini," ucap Sultan dengan tawa tipisnya.


__ADS_2