
Sultan telah tiba di dalam rumah Alamsyah, dan ternyata ada sebagian dari teman Sultan yang belum datang di sana, jadi mereka memutuskan untuk menunggu semua teman-temannya yang lain datang terlebih dahulu.
"Tadi elu ketemuan sama Rere dulu kagak Tan?" tanya Dimas sembari memijat-mijat pelan bahu Sultan.
"Pertanyaan yang sungguh membosankan untuk didengarkan oleh gue," ucap Sultan yang hanya menikmati pijatan dari Dimas saja tanpa mau menjawab pertanyaan darinya.
"Jangan begitulah Tan, gue mau curhat nih sama lu, lagian gue tadi sempat lihat lu di Lapang Merdeka," ucap Dimas mulai membuat Sultan menatap raut wajahnya, namun itu hanya seketika saja.
"Jangan ngarang lu Dim! tadi pagi gue cuma diam di dalam rumah aja."
"Elu engga bisa bohong sama gue Tan, soalnya pacar gue sendiri yang bilang kalau dia lihat elu di sana."
Sultan tersenyum tipis sambil menyandarkan punggunya di kursi sofa yang berada di rumah Alam. Ia menghisap dalam-dalam rokoknya dan lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
Dimas melihat pandangan Sultan begitu datar, matanya hanya menatap ke satu arah saja, yaitu menatap langit biru yang menjulang tinggi di atas sana di dalam rumah Alam.
Pintu rumah yang terbuka itu membuat Sultan dapat menatap indahnya langit biru di siang hari ini. Sepertinya awan di atas sana tengah melukiskan ingatan indah saat ia bermain berdua bersama dengan Rere.
"Hmm, gimana hubungan elu sama pacar lu Dim?" tanya Sultan yang tak langsung menatap wajah Dimas.
"Gue bangga sama lu Tan, demi menjaga perasaan pacar elu itu, elu sampai segitunya ikut-ikutan terjatuh dimuka umum, pacar gue salut melihat sikap perhatian elu itu Tan, andai saja lu tahu semua orang di sana memberikan tepuk tangannya untuk lu."
Ucapan Dimas membuat Sultan tersenyum dan tertawa tipis, namun ucapan Dimas itu tak dapat membuat Sultan menatap wajahnya kembali.
Mereka berdua saling terdiam, sampai pada akhirnya Sultan mulai memberikan beberapa patah kata untuk Dimas dengarkan.
"Kadang kala gua sering merasa enggan untuk melakukan hal yang semacam itu di depan umum Dim, namun hati gue selalu berkata, senyumannya mulai menghilang, apa pun caranya lakukan, agar senyumannya itu tidak menghilang begitu saja," ucap Sultan menghisap kembali rokoknya yang tinggal setengah itu.
__ADS_1
Dimas tersenyum sembari menghisap rokok yang sudah hampir habis itu di dalam sana. Dimas mematikan rokoknya dan mulai membuka mulutnya juga.
"Kayaknya elu sayang banget sama dia ya, Tan, sampai-sampai semua wanita elu abaikan demi menjaga perasaanya di sini," ucap Dimas ingin memastikan apakah jawabannya akan membuat dirinya tercengang.
"Mereka yang sering datang kepada gue, gue selalu meresponnya dengan hangat Dim, niat mereka untuk datang bukan semata-mata ingin mengambil hati gue dari Rere, gue engga bisa membanggakan apa pun, apalagi raut wajah gue," Sultan menjeda ucapannya agar Dimas memahami terlebih dahulu makna dari semua ucapannya itu.
"Semua orang, bahkan Rere pun melihat gue bukan dikarenakan raut wajah gue tampan, gue engga pernah mengharapkan mereka ataupun Rere berkata, wahh, dia tampan nih, pokonya gue harus bisa mengambil hatinya."
"Mereka dan juga Rere hanya melihat gue dari sikap gue ini Dim, tampan buat apa? cantik buat apa? sementara nanti raut wajah dan seluruh badan kita akan habis dimakan oleh waktu, yakni kematian."
....
Perbincangan mereka berdua tak hanya sampai di situ saja, Sultan masih memiliki beberapa patah kata untuk diucapkan kembali kepada Dimas.
Sultan mematikan rokoknya yang sudah habis itu, dan di sanalah ia mulai memainkan kata-katanya untuk Dimas dengarkan.
"Suatu saat nanti gue akan membuktikan ucapan gue ini Dim," ucap Sultan membuat Dimas bertanya-tanya apakah dari ucapannya itu.
"Mimpi apa Tan?" tanya Dimas penasaran.
Sultan mengambil satu batang rokok untuk dia bakar dan dia hisap. Sultan kembali menatap langit sambil menghembuskan hisapan rokoknya.
"Menjadi seorang penulis novel amatiran Dim, suatu saat nanti tulisan gue akan menyebar luas sampai mana novel gue terbit dan dibaca oleh jutaan orang di dunia ini," ucap Sultan terlihat percaya diri.
"Gue engga bisa bantu apa-apa Tan, selain membantu mendoakan kesuksesan lu, gue percaya bahwa lu pasti sanggup menggapai mimpi lu itu."
"Thanks Bro," ucap terima kasih Sultan kepada Dimas, di mana Sultan pun lalu merangkul bahu temannya itu sekuat yang dia bisa lakukan.
__ADS_1
Dimas tertawa bersama dengan Sultan, keakraban mereka menjadi sorotan, bahkan semua teman-teman Sultan pun ikut serta dalam memeluk tubuh Dimas sampai Dimas merasa pengap.
"Gila lu pada! gue pengap nih bolot!" ucap Dimas dengan nada suara ngos-ngosannya.
"Ada apa Tan?" tanya Azmi dan juga Alamsyah.
"Dimas berhasil nurunin berat badannya Mi, Lam," canda Sultan membuat Alamsyah mengelus-elus perut Dimas yang gemuk itu.
Mereka semua tertawa lepas di dalam sana, sampai-sampai temannya yang belum datang tak bisa ikut serta merasakan kebahagiaan sebahagia itu, walaupun pada dasarnya ucapan Sultan tersebut tidaklah penting untuk didengarkan.
Tak lama kemudian seluruh teman-teman yang sebelumnya belum datang pun akhirnya telah tiba di dalam rumah Alam. Alamsyah membiarkan mereka untuk beristirahat sejenak, dikarenakan perjalanan mereka lumayan cukup jauh dan pastinya akan memakan banyak waktu.
"Ki, ke mana aja lu? lama bener dah datang ke sininya, udah itu kenapa wajah lu benguk kayak begitu?" tanya Alamsyah membuat semua teman-temannya meledek Rizki.
Rizki adalah teman satu kelas dengan Sultan, hubungan dia bersama dengan Alam bisa dibilang cukup dekat karena mereka berdua duduk di kursi kelas yang sama, bisa dibilang bersampingan.
"Ahh, ini si Alam kayak yang engga tahu dia aja, udah tahu dia itu lagi sedih, lagi galau mikirin pacarnya di sini takut diambil sama orang lain," canda Sultan membuat Rizki bergumam.
"Kampret lu Tan! bukannya elu pun sama ya, sama-sama lagi mikirin pacar lu yang cantik itu juga di sini," ucap Rizki tak mau kalah.
"Baru sadar elu ya, Ki, kalau Rere secantik itu," ledek Sultan yang sama tak mau kalah juga.
"Kalau dia selingkuh gimana Tan? emangnya lu mau apa diselingkuhin sama dia."
"Rere memang cantik Ki, tapi sayangnya dia cuma sama Sultan aja seorang, elu engga sadar sih Ki, kalau dia udah membuat semua orang tercengang karena sikap dia tadi di Lapang Merdeka," ucap Dimas membuat Sultan menutup mulutnya.
Sultan menutup mulut Dimas supaya dia tak terlalu melebih-lebihkan pujiannya, pada dasarnya Sultan memang sosok pria yang tak terlalu suka melihat semua orang memuji sikap miliknya itu.
__ADS_1