Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 48 : Kehangatan rasa


__ADS_3

Perbincangan di pagi hari itu, sungguh sangat menemani hari-hari mereka berdua di dalam rumah sana. Mereka kini kembali bercerita, tentang apa rasa yang sedang mereka berdua rasakan di dalam rumah sana. Apakah itu adalah rasa rindu, dan apakah rasa rindu itu telah hilang! bukan, karena sekarang, mereka berdua sedang saling pandang di dalam rumah itu sembari tersenyum lebar dengan sangat manis di dalam sana.


Kaki ... yang seolah-olah bergerak dengan sendirinya, dikarenakan mereka berdua sudah merasa sangat bosan! bilamana terus-menerus duduk di kursi sofa itu lebih lama lagi.


Lantas, mereka berdua pun mulai meninggalkan rumah itu, ketika mana mereka telah selesai berpamitan kepada ibunya yang cantik itu di sana. Motor tua kembali dinyalakan oleh Sultan, untuk membawa Rere pergi sebentar, sebelum mereka pergi masuk ke dalam sekolahnya nanti.


"Kebiasaan kan kamu mah Tan!" ucap Rere sambil memeluk Sultan di belakang.


"Masuk ke sekolah pagi-pagi begini males Re! mendingan kita jalan-jalan dulu sebentar sama si Jagur."


"Jagur siapa Tan?".


"Motor tua gue ini Re, masa sih elu engga tahu!".


"Ya, kan kamu engga pernah bilang sama gue Tan, jadi mana gue tahu itu adalah nama motormu," ucap Rere yang masih memeluk Sultan sembari tertawa juga kepada Sultan.


"Apa yang elu mau tahu lagi dari gue Re?" ucap Sultan sambil melirik Rere sekejap lewat kaca spion motornya itu.


"Apakah gue cinta pertama elu Tan?".


"Cinta pertama aku itu banyak Re, dan tentunya kamu hanya cinta kesekiannya gue, di sini gue lebih baik jujur aja ya, Re, dari pada nantinya elu malah marah sama gue."


"Siapa coba? tapi ini bukan soal ibumu ataupun keluargamu ya, karena di sini aku tahu, elu pasti bakalan bilang cinta pertamamu itu adalah mereka, jadi gue di sini ingin tahu, siapa cinta kedua elu?".

__ADS_1


"Yang pastinya cinta kedua gue bukan elu ya, dan juga bukan mantan yang pernah gue ceritain dulu itu sama elu."


"Lantas siapa dong Tan?".


"Mau elu, ataupun siapa cinta kedua gue itu, gue engga perduli Re, dan gue engga mau ngungkit masalah itu lagi karena sekarang gue udah milikin elu di sini."


Ucapan Sultan itu, sungguh membuat Rere berhenti berbicara, bukan karena dia marah, ataupun kesal, melainkan dia hanya ingin memastikan bahwa ucapan Sultan itu memang ia keluarkan langsung, tanpa sedikit pun Sultan berpikir lebih dulu sebelum ia melontarkan ucapannya itu kepada Rere.


Rere suka melihat Sultan berbicara lantang, tanpa sedikit pun Sultan membuat alasan terlebih dulu, sebelum ia berikan hanya untuk membuatnya senang saja. Dan ternyata Sultan di sana berbicara lantang kepada Rere, sungguh ia ucapkan langsung dalam hatinya, tanpa sedikit pun ia memikirkan alasan apa yang akan membuat Rere kecewa nantinya.


"Aku engga akan pernah bisa berbohong kalau soal urusan hati Re, dan terlebih Sultan ini tak mau melihat kekasihnya ini bersedih, akan sosok hati yang lembutnya itu terluka nantinya," ucap Sultan kembali melirik Rere lewat kaca spion motor tuanya tersebut.


"Hati gue maksudnya bukan Tan?".


Tak terlepas dari itu, kedua dari mereka pun lalu tersenyum malu, kedua pipi mereka pun seketika memerah, menandakan keduanya itu tengah gugup, akan takut perbincangannya itu melebar kemana-mana, sehingga kata rindu itu pun akan semakin sulit untuk dipejamkan kembali nantinya.


....


Perbincangan pun seketika terhenti, setelah mana Sultan mengantarkan Rere masuk ke dalam sekolahnya itu. Sejujurnya Sultan masih ingin berlama-lama dengan Rere di sana, seperti hal nya hari lalu, yang di mana satu minggu itu mereka berdua bisa dengan bebasnya bertemu kembali.


Namun, untuk hari ini Sultan sungguh sangat kecewa! dan ia berharap Tuhan bisa membalikan pikiran dan hati para guru, untuk membebaskan seluruh siswa di dalam sana.


Sebelum itu, Sultan sempat mengantarkan Rere masuk hingga dia terduduk di dalam kelasnya itu di sana, dan yang di mana itu adalah hari pertama Sultan menemani Rere masuk hingga ke dalam kelasnya, dan yang di mana juga biasanya Sultan hanya mengantar kekasihnya itu hanya sampai gerbang sekolah saja, dan selepas itu, dia lalu pergi masuk ke dalam kosan untuk menyimpan motor tuanya itu di sana.

__ADS_1


Entah kenapa hari itu Sultan merasakan ada sedikit benih cinta yang masuk ke dalam hatinya lagi, sehingga dirinya benar-benar tak ingin jauh dari Rere, dan apakah itu adalah pertanda, bahwa dirinya memang tak bisa pergi jauh meninggalkannya di kota kecil ini sendirian.


Namun, Sultan di sana telah mempercayai Rere, bahwa ia bisa menjaga baik dirinya dan juga hatinya, namun akan tetapi, disisi lain Sultan pasti akan lebih merasakan berat! berat akan tidak bisa menghilangkan sikap cemburuannya itu terhadap Rere.


Sultan pun lalu kembali memarkirkan motornya itu dengan rapi di sana karena di dalam sana, bukan hanya ada satu motor saja, melainkan ada banyak motor siswa lain juga yang sudah terparkir di dalam kosan itu. Dan maka dari itu, kenapa Sultan selalu datang lebih pagi? benar, karena ia takut tidak kebagian lahan parkir di sana.


"Kemana ini ya, para siluman-siluman penghuni kosan! kok, engga biasanya kosan sepi kayak gini, apakah mereka masih molor kali ya, di rumahnya ... coba ah, gue mau bangunin Akbar di dalam kamarnya dulu," ucap Sultan waktu itu sembari membuka pintu kamar kosan Akbar.


Sultan pun di sana melihat Akbar masih tertidur di dalam kamarnya itu, dan lantas ia pun lalu melihat ke kamar kosan yang lain, apakah mereka juga sama-sama masih tertidur juga di sana.


"Mereka lupa kali ya, setelah satu minggu libur sekolah karena ada acara Pembaretan di sana, mereka jadi malas-malasan bagun pagi kayak gini," ucap Sultan yang nampak terheran-heran sembari menggaruk-garuk kepalanya itu di sana.


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala, dan waktu itu Rere menelepon Sultan di dalam kelasnya itu di sana, dan Rere pun di sana tertawa kepada Sultan, lantas Sultan pun mulai terheran-heran, ketika mana ia mendengar Rere tertawa lepas seperti itu kepadanya.


"Kenapa elu Re? kok, ketawa-ketawa kayak gitu?".


"Elu tadi waktu di rumah sempat natap dulu kalender engga sih Tan? aku seriusan nanya?".


"Engga Re, emang kenapa gitu?".


"Gue lihat dari kalender kelas tadi Tan, bahwa hari ini adalah tanggal merah, maka dari itu temen-temen gue pada susah dihubungi, dan kontak Whatsappnya pun juga pada ceklis satu semuanya Tan," ucap Rere, yang seketika membuat Sultan pun ikut tertawa di sana.


Karena rindu, semua bisa membuat mereka lupa, bahwa yang biasanya seluruh siswa takan pernah bisa melupakan tanggal merah, namun berbeda dengan Sultan dan Rere, yang di mana mereka begitu semangat untuk bertemu, hanya semangat bertemu saja, bukan melainkan bersemangat dalam hal belajar.

__ADS_1


__ADS_2