Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 356 : Iya dia


__ADS_3

"Kamu menang, wahai rembulan malam, dan kamu kalah, wahai mentari pagi. Sinarmu lebih bisa memanjakan mataku, namun hangatnya dirimu takan pernah bisa mengalahkan hangatnya sinar mentari pagi, tetapi mengapa? karena kalian sama sepertiku, yang di mana aku hanya bisa memberikan kehangatan cinta kepadanya, dan dia di sana lebih bisa membuat diriku ini lebih jauh terpanah oleh suatu keadaan cinta," ucap Sultan dalam hati sembari menatap langit-langit malam di kota kecilnya yang indah itu di sana.


Malam itu, Sultan terlihat tengah menunggu kekasihnya tersebut di sebuah terminal besar, yang di mana terminal itu berada di dalam kota Sukabumi.


Tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, hingga pada akhirnya, Rere pun telah tiba di terminal itu, dan lantas Rere pun lalu menghampiri Sultan sembari memasang wajah yang agak sedikit kelelahan itu di sana.


"Haii, Tan, udah lama kamu di sini?" ucap Rere.


"Santai aja Re, mau selama apapun itu, gue pasti bakalan selalu menunggu elu dengan sabar, dan terlebih malam ini adalah waktu gue untuk melindungi elu," ucap Sultan sembari mencolek hidung Rere.


Dan sebelum itu, Dini melihat Sultan dengan tajam, lantas Sultan pun dibuat bingung olehnya! kenapa Dini menatapnya seperti itu di sana.


"Kenapa elu Din?" ucap Sultan.


"Elu tadi ada di sana kan Tan? soalnya tadi itu gue melihat elu lagi jalan sendirian di sana," ucap Dini yang masih menatap Sultan dengan tajam.


"Mana ada Din, dari tadi gue ada di Sukabumi, dan buat apa gue ke sana coba? lagian ya, Din, kotaku ini lebih indah untuk gue singgahi sekarang."


Rere pun lalu tersenyum, ketika mana Sultan berkata sepeti itu kepada Dini, dan lantas Rere pun masih berpikir, yang seolah-olah perkataan Dini itu bisa dipercaya karena Dini begitu ngotot! ingin menanyakan hal ini kepada Sultan langsung di sana.


"Elu udah ada yang jemput kan Din? gue duluan pulang ya, soalnya gue takut Rere dimarahin sama ibunya."


"Iya Tan, kalian pulang duluan aja."


Sultan pun lalu menyalakan kembali motor tuanya tersebut, dan lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat tersebut itu, dikarenakan tempat itu adalah markas, yang di mana anak-anak geng motor sering menyinggahinya di sana.


Sultan pun lalu berinisiatip untuk pergi masuk ke dalam rumah Rere terlebih dahulu, dikarenakan Sultan hanya ingin memastikan bahwa Rere benar-benar tidak dimarahi oleh ibunya itu di sana.


"Aku masuk ke dalam rumah kamu dulu ya, bukan apa-apa, aku hanya ingin mastiin aja kalau kamu engga dimarahin sama mamah."

__ADS_1


"Justru aku takut Tan! bagaimana coba kalau nanti kamu yang akan dimarahi sama mamahku ini."


"Takut gue cuma disuruh mamahmu buat ninggali elu di sini selama-lamanya Re, kalau hanya sekedar mamahmu memarahiku saja, aku lebih tahan banting Re, karena aku sering dimarahi oleh siapapun itu, dan terlebih dimarahin sama guru Re, itu sering banget, tapi untungnya pacarmu ini kuat Re."


Dengan seketika itu, Rere pun lalu menggenggam tangan Sultan sembari mengajaknya masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu di sana. Dan malam itu, Rere sungguh tidak ingin mengajaknya masuk, namun akan tetapi Rere tak bisa mengontrol suatu keadaan rasa nyaman tersebut itu di sana, dan seolah-olah hati Rere seperti ada yang menggerakannya sendiri.


....


Salam pun kembali diberikan oleh Rere dan Sultan kepada orang rumah yang berada di dalam sana. Dan lantas ibu Rere pun dengan seketika membuka pintu itu, namun apakah reaksi yang ibu Rere itu berikan kepada Sultan? dan ya, ibu Rere hanya bisa memberikan kata-kata terimakasih saja karena ia sudah mau mengantar jemput Rere setiap hari, tanpa mengenal kata waktu.


"Maafin mamah ya, Tan," ucap ibu Rere.


"Hah, maksudnya apa ni Mah? Sultan engga ngerti sama perkataan mamah yang tiba-tiba meminta maaf kepada Sultan seperti itu."


"Mamah meminta maaf kepada Sultan karena mamah merasa engga enak aja Tan, kamu itu udah terlalu baik sama mamah, sehingga malam-malam begini kamu mau menjemput Rere."


"Rasa lelah Sultan sudah pergi menjauh dengan waktu yang cukup lama Mah, dan jadi mamah engga usah khawatir, sekalinya mamah meminta tolong sama Sultan, pokonya harus yang berat-berat ya, Mah."


Sebelum mereka berbincang di sana, ibu Rere pun lantas memberikan Sultan minuman hangat terlebih dahulu, dan beliau pun di sana duduk bersama dengan Rere, dengan menemani Sultan yang tengah asik tersenyum-senyum bahagia itu sendiri.


"Tan, jadi mamah mau minta tolong ni sama Sultan lagi, boleh atau engga Tan?" ucap mamah Rere.


"Wah, boleh tu Mah, dan lagian Sultan seneng banget kalau mamah sering minta tolong kayak gini," ucap Sultan yang terlihat begitu bahagia.


"Pacarmu ini memang beda dari yang lain Re, cepet nikah ya, mamah udah mulai sayang sama kalian berdua di sini, dan terlebih mamah pengen cepet-cepet gendong cucu pertama mamah," ucap ibu Rere sembari tertawa bersama diruangan tamu sana.


"Amin," ucap Sultan bersama dengan Rere seirama.


"Mamah mau minta tolong, Sultan bisa engga nganterin Rere kembali ke stasiun? soalnya mamah sama keluarga juga mau ke sana, atas dasar permintaan nenek Rere."

__ADS_1


"Mamah mau ke Cianjur juga? boleh kok, Mah, entar pagi-pagi Sultan datang ke sini."


"Makasih ya, Tan, kali ini mamah butuh kamu karena anak laki-laki mamah yang paling besar, engga akan bisa bantu mamah karena dia lagi kerja di Jepang."


"Iya Mah, Sultan bakalan bantu mamah kok, mamah engga usah khawatir karena Sultan selalu siap untuk membantu keluarga mamah di sini."


Perbincangan yang cukup panjang, dan lantas Sultan pun lalu meminta izin kepada orang rumah untuk pergi pulang menuju rumahnya kembali.


Sultan pun di sana kembali mengecup tangan ibu Rere dengan manis, dan lalu Sultan pun segera mengenakan sepatunya tersebut, namun sebelum itu, ketika mana ia akan mengenakan sepatunya tersebut di sana, Rere sudah lebih dulu meninggalkan Sultan, dan sehingga Sultan pun lalu mengejar Rere sembari menggandeng kedua sepatunya itu di sana.


Ibu Rere serta warga yang berada di sana pun, seketika tertawa melihat tingkah laku Sultan yang lucu seperti itu, dan lantas Rere pun sama-sama tertawa kepadanya di depan gang rumahnya tersebut itu.


"Tungguin lah Re! gue malu ini bolot! elu mah malah ketawa lagi, dan udah itu warga elu yang ada di sana, semuanya pada ngeliatin gue!" ucap Sultan.


"Ya, engga harus gitu juga lah Tan! dan itu kenapa coba malah gandengan sama sepatu elu sendiri? bukannya di pake, malah dibawa-bawa gitu," ucap Rere yang terus-menerus tertawa tanpa henti kepadanya.


Setelah itu, ia pun lalu kembali mengenakan sepatunya langsung disamping Rere, dan ketika mana Sultan mau pergi dari rumahnya itu di sana, Rere pun dengan seketika mengecup pipi Sultan, walaupun Rere terlalu tergesa-gesa, namun itu sungguh membuat Sultan terdiam tanpa kata.


Dan lantas Sultan pun lalu memegang pipi, yang di mana pipinya itu tadi dikecup oleh Rere, dan dengan manisnya Sultan meminta kembali Rere untuk mengecupnya, ketika saat Sultan memang sudah siap untuk dikecup kembali oleh Rere di sana.


"Satu lagi belum kamu kecup Re," ucap Sultan, yang masih memegang pipinya itu di sana sembari terlamun seperti orang bingung.


Plakk ... ! seketika itu Rere menampar Sultan.


"Itu satu lagi ya, Tan," ucap Rere sembari tersenyum manis di hadapan Sultan itu di sana.


"Iya ... engga apa-apa Re," ucap Sultan, yang langsung memegang kedua pipinya itu di sana.


Sultan pun masih terkejut di sana, dan itu adalah kecupan manis yang Rere berikan kepadanya dengan seketika cepatnya. Dipikiran Sultan hanya ada itu saja pada saat itu, dan hati pun semakin sulit untuk meninggalkannya di sana.

__ADS_1


Ia pun pergi dari rumah Rere sembari tersenyum-senyum sendiri karena pada dasarnya, kecupan pertama Rere itu lebih menyentuh hati, bila dibandingkan dengan ucapan kata sayang, yang selalu diberikan kepada dua hati itu masing-masing di sana.


__ADS_2