Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 420 : Semangatmu semangatku juga


__ADS_3

Pagi itu entah pukul berapa, Sultan bersama dengan semua temannya pergi ke depan jalanan untuk mencari makanan yang bisa mengenyangkan perut mereka, namun tentunya itu dengan harga yang lumayan murah, tapi dengan porsi yang memang bisa memanjakan perutnya.


Kebetulan ada penjual ketoprak yang melintas di hadapan mereka semua, dan lantas mereka pun memberhentikan laju grobak penjual ketoprak itu, dikarenakan mereka ingin membeli dagangannya tersebut.


"Abah, tunggu ... ," teriak Alamsyah.


Dengan seketika, penjual ketoprak itu memberhentikan laju roda grobaknya. Beliau pun lalu mendorong grobaknya untuk menghampiri mereka semua di belakang sana.


"Untung saja abah lewat di sekitaran sini, saya mau pesan sepuluh ketopraknya ya, Bah, semuanya dibuat sama aja Bah, jangan terlalu pedas oke," ucap Sultan dengan sopannya menyapa pria tangguh tersebut sembari sesekali mengajaknya berbincang.


Sultan merasa iri dengan semangat yang beliau miliki, walaupun umurnya sudahlah tidak muda lagi, namun semangatnya masih tetap menemani jiwa mudanya.


Ia berdiri di samping beliau sambil melihatnya membuatkan ketoprak untuk seluruh temannya di sana. Nampaknya ketoprak itu memiliki resep tersendiri, maka tak heran ketika ia menciumnya, wangi dari makanan sederhana itu sudah tercium sangat nikmat sekali.


"Abah udah berapa lama jualan ketoprak?" tanya Sultan kepada beliau masih menggunakan nada rendahnya itu.


"Kurang lebih puluhan Tahun abah menjual ketoprak ini bersama dengan almarhum ayah abah dulu," jawab abah penjual ketoprak dengan sangat lembut kepada Sultan.


"Saya iri melihat abah masih bisa berjalan dengan gagahnya seperti ini."


"Apa pun alasannya umur abah sudahlah tidak muda lagi Den, beda hal nya dengan umur aden yang masih muda seperti ini."


Sultan memegang bahu beliau dan tertawa bersama dengannya. Ia merupakan pria yang memang selalu akrab dengan siapa pun itu, asalkan seseorang itu merasa nyaman ketika ia benar-benar mendekatinya.


10 pesanan ketoprak telah beliau buatkan dengan sangat cepat. Sultan pun lalu menyuruh semua temannya untuk mengambil sendiri ketoprak pesanannya tersebut.

__ADS_1


Ia tidak mau merepotkan beliau, bukan karena beliau sudah tua, namun akan tetapi Sultan hanya ingin melihat seberapa mandirinya sifat mereka, dan seberapa baiknya sifat mereka semuanya.


Sultan menyantap lahap makanan sederhana itu di dekat penjualnya langsung. Sultan lebih memilih untuk berbincang bersama dengannya saja, dan terlebih beliau nampak sangat nyaman ketika dirinya berbincang bersama dengan Sultan.


Siapa tahu Sultan bisa mendapatkan pelajaran lebih darinya untuk ia mencontohnya, betapa harusnya dia memiliki sifat pekerja keras seperti beliau.


"Abah pake resep buatan sendiri atau beli? rasanya berbeda dengan saya menyantap ketoprak buatan orang lain selain abah, ini enak Bah," Sultan berucap sembari menilai bahwa ketoprak buatan beliau sungguh enak pada saat ia menyantapnya.


"Terima kasih Den, abah senang kalau ada seseorang yang menyukai ketoprak buatan abah ini," beliau tersenyum kepada Sultan.


Beliau berpikir, ternyata masih ada pemuda yang ingin berbicang bersama dengannya. Beliau merasa bahwa Sultan memang pria yang mudah akrab dengan siapa pun itu orangnya, dan terlebih dengan orang seperti beliau.


Sultan dan teman-temannya telah menyantap habis ketoprak itu hingga tak bersisa. Ia pun lalu menanyakan harga ketoprak tersebut kepada beliau. Dan setelah ia mengetahui harga dari ketoprak itu hanya 10 ribu saja, ia pun membayar lebih uang kepadanya sebagai tanda terima kasih.


Beliau pun sempat menyuruh Sultan untuk menunggunya karena uang yang dia berikan lebih 10 ribu, namun Sultan segera pergi sambil berpamitan dari kejauhan jalan, bahwa Sultan menyuruh beliau untuk menyimpannya saja.


Sementara itu di dalam ruangan kosan, yang di mana mereka semua tengah menunggu kehadiran Pak Mukhsin, dikarenakan beliau akan menjemput mereka semua untuk pergi ke tempat mereka semua akan melaksanakan tugas prakerinnya tersebut esok hari.


Beberapa rokok telah mereka bakar dan mereka hisap dalam-dalam. Jauh dari keluarga bukan suatu halangan yang mereka khawatirkan, dan bahkan mereka sudah mengharapkan hal ini akan terjadi dari waktu yang sangat-sangat lama.


Dan tentunya mereka semua sudah mempersipakannya semenjak mereka masih menginjakan kakinya itu di kelas 10 SMK.


"Tan, Pak Muh udah ngabarin lu belum?" tanya Azmi yang sudah bosan menunggu dan ingin segera berangkat mengunjungi tempat itu.


"Belum Mi, tunggu aja sebentar lagi," jawab Sultan dengan singkatnya dan tak mau banyak memberikan jawaban kepadanya.

__ADS_1


Dimas terbaring di lantai kosan sambil menikmati angin dari kipas angin, sementara alam dan kawanya yang lain lebih memilih untuk bermain game online.


Azmi dan Sultan duduk di luar ruangan yang masih menikmati rokok di pagi hari yang mulai akan berganti waktu itu.


Kurang lebih pukul 10 tepat, Pak Muksin menelepon Sultan dan menyuruhnya untuk menemuinya di depan jalanan.


Sultan pun segera memanggil semua temannya supaya mereka bisa mengikutinya untuk menemui beliau di depan jalan sana.


Waktu itu adalah waktu yang kurang tepat bagi Sultan, yang di mana ketika ia akan menghampiri gurunya tersebut, Rere malah meneleponya.


Sultan mengabaikannya sejenak, hingga sampai waktunya memang benar-benar sudah agak sedikit terkondisikan. Dan lagian ia bepikir, kenapa Rere selalu datang pada saat waktu tak memperbolehkannya untuk berbincang bersama dengannya.


"Ini si bego! kenapa dia baru nelepon gue, padahal tadi pagi ada yang waktu yang lebih panjang, tapi kenapa dia suka nelepon gue disaat seperti ini ya?" ucapnya dalam hati sambil memasukan kembali handphonenya ke dalam saku celananya.


Rere berseru kesal, dia mulai mencurigai Sultan kembali, tapi dia tak mau banyak bertanya, dan dia memang harus bisa menjaga sifat cemburuannya itu untuk kebaikan Sultan juga.


"Kebiasaan kamu mah dah Sultan! emangnya engga ada waktu sebentar aja buat gue gitu hmm? tahan Re, jangan marah, mungkin dia ada pertemuan bersama dengan Pak Mukhsin," ucap Rere dalam hati, namun sekarang dia tengah membingungkan tingkah prilaku Sultan, yang sekarang sering menghilang tanpa memberikan sebuah kabar terlebih dahulu kepadanya.


Sultan bersama dengan seluruh temannya mulai memasuki mobil yang tengah Pak Mukhsin kendarai, beliau mengendarai mobilnya sambil bercerita sejarah singkat tentang Perusahaan tersebut.


Mereka semua hanya bisa mendengarkannya tanpa membantahnya. Dan beliau bilang bahwa ini adalah hari pertama bagi Pak Mukhsin membuat suatu perjanjian bersama dengan HRD di Perusahaan beliau tersebut.


Maka dari itu, Pak Mukhsin memerintahkan semua anak-anak asuhannya untuk menjaga nama baik sekolahannya agar supaya adik-adik kelasnya yang lain bisa melaksakan PKL di sana juga nantinya.


Tujuan mereka yang sebenarnya bukan untuk melaksanakan prakerinya di Perusahaan itu, melainkan mereka semua akan melaksanakan prakerinnya di Banten, yakni di Perusahaan Semen Merah Putih, bukan melainkan di Pt. Prima Komponen Indonesia.

__ADS_1


Mungkin itu sudah takdir yang telah Tuhan berikan, agar supaya mereka bisa mencetakan sejarahnya kembali lagi di sekolahnya, bahwa SMKN 4 Kota Sukabumi pernah menginjakan dan menimba ilmu di sana.


__ADS_2