Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 262 : Sosok hati kecil


__ADS_3

Setelah perkelahian itu selesai, hingga pada akhirnya semua teman-teman Sultan bisa beristirahat di dalam kontrakan, tapi tidak dengan Sultan, di mana dia disuruh oleh Aisyah untuk tetap diam di depan teras kontrakannya terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kontrakannya sendiri.


Entah kenapa Aisyah menyuruhnya untuk diam di sana, padahal apa yang dia inginkan itu sudah terpenuhi, tapi hingga sampai sekarang Aisyah malah menyuruh Sultan untuk tetap diam tanpa sebab.


Pada saat Sultan mau bertanya alasan dia menyuruhnya untuk tetap diam, namun akan tetapi Aisyah dengan santainya mengabaikan pertanyaan dari Sultan.


Sultan menunggu di depan sana sambil memperhatikan ponselnya, namun sangat disayangkan sekali malam itu dia tak dapat mendengar satu pun kabar dari Rere, padahal waktu salat isya telah lama berlalu, tapi anehnya sampai saat ini Rere juga masih belum membalas pesan Whatsaap darinya.


"Ding-dong, lama beut dah sumpah! dari tadi gue tungguin, tapi tetap saja elu belum muncul-muncul juga, emangnya elu pergi ke mana dulu sih Be, masa iya elu wafat! perasaan waktu itu gue lihat elu sehat-sehat aja," ucap Sultan asal jeplak, di mana ia pun lalu memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celana jeans hitamnya.


Ternyata Aisyah juga mendengarkan ocehan Sultan itu, dikarenakan Aisyah memang sudah ke luar dari dalam ruangan kontrakannya.


Lantas Aisyah pun lalu duduk di samping Sultan, dan sebenarnya dia ingin menceritakan masalah hubungannya yang agak sedikit hancur itu, makanya kenapa dia menyuruh seorang Sultan menemaninya terlebih dahulu karena sebab dia ingin bercerita panjang lebar agar hatinya bisa lebih tenang saja.


Namun, tak lama setelah dia mendengar ocehan dari temannya itu di depan sana, tiba-tiba Aisyah terdiam pada saat Sultan menceritakan masalah yang tengah dia hadapi itu sekarang seperti apa kepadanya.


"Kenapa sih Tan? perasaan itu mulut dari tadi ngoceh mulu, emangnya kamu engga bisa apa diam sebentar saja gitu? berisik tahu ga! sampai terdengar ke dalam ruangan suaramu itu," canda Aisyah sembari menyuguhkan cemilan yang dia buat sendiri.


"Dihh, dihh, suka-suka gue lah! mulut-mulut gue ini, lagian elu itu kebiasaan dah Syah, sering nongol gitu aja tanpa permisi, perasaan kalau dilihat dari segi fisiknya elu itu cuma manusia biasa."

__ADS_1


Candaan Sultan membuat Aisyah merasa jengkel, namun rasa jengkel tersebut tidak lebih adalah sebuah candaan saja, bukan melainkan rasa jengkel yang sungguhan.


"Ihh ... elu kira gue hantu gitu! kenapa sih elu itu nyebelin? udah deh jangan buat gue bertambah bingung, lagian buat apa coba wanita secantik dia mau berpacaran dengan cowok semenyebalkan ini."


"Itu yang belum kamu ketahui Syah, lagipula sikap yang elu anggap menyebalkan itu ternyata bisa membuat semua orang tersenyum juga loh, engga percaya? biar gue jelasin sedetail mungkin sama lu sekarang, dengerin baik-baik ya."


Sultan sengaja menjeda ucapannya persekian detik, dikarenakan dia hanya ingin melepaskan semua udara yang sempat masuk lewat lubang hidungnya itu terlebih dahulu agar apa yang dia ceritakan nanti dapat tersampaikan dengan jelas.


"Ciee ... nungguin ya?" canda Sultan membuat Aisyah semakin enggan menemaninya lagi di depan sana.


"Tahu ah, ngomong aja tuh sama tembok, lebih bagus lagi elu pulang aja sana! dasar cowok engga jelas!".


....


"Gue mau curhat sama elu nih Bok, perasaan elu jadi tembok gimana sih? elu pernah merasa cape engga? gue punya satu tawaran, elu mau engga tukeran nasib dengan gue sekarang?" tanya Sultan kepada tembok.


Bukk ....


Suara benda misterius tiba-tiba terjatuh dan mendarat di atas kepala Sultan, entah apa benda itu, namun rasanya sudah sama seperti lemparan batu.

__ADS_1


"Ihh ... malah beneran ngobrol sama tembok lagi, guekan cuma bercanda Tan, tapi kenapa elu malah asik-asikan berbicang berdua dengan tembok, rasain tuh batu."


Ucapan Aisyah sampai terdengar ditelinga Sultan, dan ternyata apa yang Sultan pikirkan itu memang benar, benda yang menimpa kepalanya tadi adalah batu lemparan dari Aisyah.


"Mungkin apa yang orang bicarakan tentang gue itu semuanya memang benar Syah, gue adalah pria sederhana, tapi entah kenapa dia selalu menganggap gue lebih dari sekedar arti sederhana, dia adalah salah satu wanita yang dapat mengubah gelap menjadi terang, makanya gue sayang sama dia, begitu pun dia Syah."


Penjelasan Sultan membuat Aisyah kembali menghampirinya di depan sana. Sebenarnya Sultan sudah tahu bahwa Aisyah takan pernah pergi meninggalkannya begitu saja, bahkan dia juga mengetahui Aisyah yang sedang berdiri di balik pintu kontrakannya itu juga.


"Ternyata elu masih mau balik lagi Syah, sudah gue duga bahwa elu engga akan pernah bisa meninggalkan sosok seperti gue begitu saja disaat hati elu sedang rapuh-rapuhnya kayak begini, coba ceritain sejelas mungkin apa alasan dan masalah yang sudah membuat raut wajah elu terlihat murung seperti ini?".


Pertanyaan Sultan membuat Aisyah tercengang dan bingung! kenapa Sultan dapat menebak isi hatinya yang tengah hancur itu, padahal dia belum pernah menceritakan semua masalahnya kepada Sultan, bahkan kepada teman wanitanya pun tidak pernah, tapi kenapa Sultan dapat dengan mudahnya menebak isi hati hancur Aisyah.


"Tunggu sebentar deh! kok, kamu tahu sih masalah yang tengah gue hadapi sekarang ini Tan, bukannya gue belum pernah cerita sama elu ya, tentang masalah ini, tapi kenapa bisa elu mengetahuinya tanpa gue yang ngasih tahu elu lebih dulu," ucap Aisyah terlihat bingung.


Kebingungannya tak hanya sampai di situ saja, Sultan dapat menebak semua kegelisahan dihati Aisyah itu, bahkan seorang Sultan dapat menebak masalah yang tengah Aisyah hadapi itu seperti apa dan siapa yang sedang dia gelisahkan sekarang ini.


"Oke, biar gue jelasin, jadi begini ya, Syah, asalkan elu tahu semuanya bahwa ternyata menebak isi hati seseorang itu jauh lebih mudah bila dibandingkan dengan mengobati hati yang terluka."


"Jangankan hanya menebak kegelisahanmu itu saja Syah, bahkan sampai orang yang sedang elu gelisahkan sekarang ini pun gue mengetahuinya juga, apalagi kegelisahan elu yang sekarang ini disebabkan oleh apa, dan sebenarnya itu adalah sebagian kecil pemahaman yang dapat gue ambil dari raut wajah elu itu sekarang."

__ADS_1


"Hati kecil memang mudah terluka begitu saja Syah, walaupun banyak cara dalam memperbaikinya, namun tetap saja rasa enggan untuk memperbaikinya itu sering kali terlintas dipikiran kita, sebenarnya hal tersebut bukan berasal dari hati kecil Syah, melainkan itu datang dari sosok ego kita sendiri, tolong ingat ucapan gue ini, jangan pernah salah dalam memahami sang hati kecil ya, apalagi sampai kamu menuduh dia yang telah membuat ego semakin bertumbuh di dalam diri kita ini, ingat Syah, dia adalah sosok pemilik semua sikap serta sikap baikmu ini."


__ADS_2