
Malam hanya datang sebagai pelengkap rindu, dan selepas itu, siang pun datang menyambutnya bersama dengan hangatnya sinar mentari di bumi ini. Pelukan, perhatian, penantian semuanya menunggu dengan dihadirkannya rasa sabar, rasa sayang, dan rasa yang takan pernah mungkin bisa kita hilangkan, meskipun semua cobaan itu telah datang menghampirinya di sana.
Senyuman manis di pagi hari itu, sungguh sangat mewarnai hati gundah yang terbelenggu, menunggu akan hadirnya rasa rindu, dan yang di mana rasa itu selalu ada, menemani kedua hati yang saling mencintai itu, di kota kecil yang indah ini.
Salam dan sapa kembali diberikan oleh Sultan kepada Rere sebagai tanda, bahwa mereka berdua kini telah melupakan masalah dan hari kemarin, yang di mana hari itu adalah hari penyesalan Rere karena ia telah berusaha menampar Sultan dengan sekeras mungkin! yang sehingga tapak lima jari Rere pun masih terukir dengan sangat manis dipipi Sultan itu.
"Haii, selamat pagi Re, kamu sehat kan?" ucap Sultan sembari mengecup tangan Rere dengan sangat manis, dan sehingga Rere pun merasa terkejut karena ia takut bahwa ibunya itu melihat tingkah laku Sultan yang seperti itu di sana.
"Ihh, kalau ada orang lain yang lihat gimana coba Tan? jangan aneh-aneh kamu ya! aku malu bolot!" ucap Rere sembari menarik tangannya itu dengan cepat.
"Harusnya gue yang bilang gitu ke elu Re! bukan malah elu yang nanya kayak gitu ke gue."
"Lah, elu malu kenapa Tan? emang elu ada ngelakuin hal apa?".
"Nih lihat! pipi gue masih merah Re, dan udah itu tandanya masih sama kayak kemarin lagi, yaitu cap lima jari elu."
Dan dengan seketika, Rere pun tertawa, ia pun lalu mengelus-elus pipi Sultan yang memerah itu di sana dengan lembut, sembari meminta maaf kepada Sultan dengan tulus. Dan lantas Sultan pun tak begitu mempermasalahkan hal itu karena Sultan tak ingin melihat Rere merasa bersalah, dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap Sultan di hari kemarin itu.
"Maaf," ucap Rere sembari menundukan kepalanya itu.
"Kamu minta maaf untuk apa Re? aku engga tahu kapan kamu ngelakuin kesalahan sama gue? udah lah Re, engga usah bahas hal yang engga jelas ini! gue males ngebahasnya, soalnya gue engga mau membuat elu sedih lagi," ucap Sultan yang seketika membuat pandangan Rere tertuju kepadanya.
"Jangan bersedih, jangan menangis, dan tak perlu untuk meminta maaf karena rasa salahmu, adalah sebagian rasa bersalahku terhadapmu, jadi ... tetap tersenyum, wahai bidadari malam dan siangku," ucap Sultan dalam hati sembari menatap Rere dengan tatapan kharunya itu.
"Woii, ayo? kok, malah diam kayak patung gitu," ucap Sultan.
"Kita langsung masuk ke sekolah ya, Tan, aku mau ngasih kamu sesuatu dulu soalnya," ucap Rere sembari tersenyum ke arah Sultan.
__ADS_1
"Mau apa Re? elu mau macem-macemin gue ya?".
"Apa susahnya sih nurut Tan! udah lah, jangan banyak nanya! gue tampar lagi mau hah?".
"Galak amat sih elu Re! yaudah iya, kita langsung masuk ke sekolah ya. Udah dong ... jangan cemberut gitu, entar manismu malam makin membuatku terkena asam urat."
"Darah tinggi Tan. Ehh, maksud aku diabetes."
"Nah kan salah ucap, dasar bolot! bilang aja engga tahu."
Setelah mereka berdua tertawa di sana, mereka pun lalu masuk kembali ke dalam sekolahnya itu, dan sebelum itu mereka memastikan terlebih dahulu, bahwa sekolah memang sudah berjalan normal seperti biasa lagi, dan engga akan ada hari libur lagi yang akan membuat mereka kembali hadir di sana pada tanggal merah sedang menyapanya.
....
Waktu itu, mereka duduk berdua di ruangan kelas, yang di mana kelas tersebut adalah kelas Sultan. Rere sengaja menemaninya di sana karena Rere sudah berinisiatip ingin memberikan makanan untuk Sultan makan di dalam kelas sana.
"Nih Tan, hadiah permintaan maaf dari aku untuk kamu, kamu pasti belum makan kan? aku harap kamu mau menerima dan memakan masakan aku ini, maaf ya, karena aku hanya sempat masakin kamu nasi goreng ini aja, dan selebihnya kapan-kapan aku bakalan buatin masakan kesukaan kamu, janji," ucap Rere sembari mengeluarkan masakannya itu dari dalam tasnya tersebut.
Rere pun lalu tersenyum kearah Sultan, ketika mana Sultan memuji bahwa masakan yang ia buat itu enak. Lantas Rere pun merasa ingin menyuapinya, dan akhirnya dia pun menyuapi Sultan makan hingga makanannya itu Sultan habiskan sampai tidak ada yang tersisa sedikit pun.
"Sini Tan, biar aku yang suapin kamu makannya."
"Ini enak loh Re, kamu juga harus cobain. Sini ... biar aku suapin Re, pokonya kamu juga harus makan, soalnya aku engga enak kalau harus makan sendirian kayak gini," ucap Sultan sembari menyuapi Rere.
"Kamu senang engga sih Tan, kalau aku masakin kamu setiap hari kayak gini? kalau kamu senang, aku bisa setiap hari masakin kamu lagi kok."
"Seneng banget malahan Re, kalau kamu engga keberatan, boleh kok, Re, aku engga akan menolaknya karena aku suka sama masakan kamu ini."
__ADS_1
"Bentar deh Tan, kenapa kamu makan selahap ini? biasanya kan kamu jarang banget makan pagi."
"Apapun masakannya, asalkan itu masakan kamu, aku bakalan selalu menghargainya Re, dan terlebih masakan kamu lebih enak bilamana dibandingkan dengan masakan aku."
"Masakan kamu juga enak kok, Tan, dan kapan-kapan boleh kan aku minta resepnya, biar nanti rasanya sama persis dengan masakan yang pernah kamu suguhin sama aku."
"Soal rasa ya? hmm, kayaknya pasti bakalan sama aja sih Re, namun itu tergantung dengan siapa yang memasaknya, apakah mereka memasak dibarengi dengan cinta, ataupun itu engga dibarengi dengan cinta."
"Menurut aku, masakan akan terasa lebih enak bilamana yang memasaknya itu adalah kamu karena kamu memasak masakan ini sama seperti ibuku Re, memasak dengan melampiaskan rasa cinta dan rasa kasih sayang, yang di mana cita rasa kelezatan itu akan bisa kita nilai dari ketulusan hatimu sendiri Re."
Ucapan Sultan itu sungguh membuat Rere tersenyum lebar, dan ucapannya itu selalu bisa membawakan suasana hati Rere menjadi damai kembali karena Sultan selalu bisa membuat wanitanya itu selalu tersenyum bahagia, dalam waktu yang cukup lama.
"Tan, aku mau tanya? kenapa kamu bisa ketemu cewe cantik di jalan sepi sana?" ucap Rere sembari menatap Sultan yang tengah makan itu di sana.
"Kamu bakalan marah engga Re, kalau aku ceritain dia sekarang? kalau cerita ini bisa membuatmu marah? aku engga akan cerita deh Re."
"Engga kok, Tan, aku engga akan marah."
Perbincangan mereka pun lalu terpotong karena adanya teman Sultan yang masuk ke dalam kelasnya itu di sana, dan lantas Sultan pun menunda pembahasannya itu untuk dia balas lagi dilain waktu, ataupun dilain jam, bilamana waktu itu memang sudah tepat untuk Sultan menceritakannya kepada Rere.
"Ciee, maaf ya, kalau gue gangguin elu Tan," ucap kawan Sultan itu di sana.
"Santai aja Bro, lu masuk juga engga apa-apa kok," ucap Sultan terlihat santai saja.
Setelah itu, Sultan pun lalu mengantarkan Rere pergi masuk ke dalam kelasnya itu yang berada di sana, dan tepatnya kelas Rere itu tak cukup jauh dari kelas Sultan, hanya menuruni beberapa anak tangga, dan tepatnya kelas Rere ada di sebelah kiri tangga tersebut.
"Re, aku bakalan cerita nanti ya, kalau kamu engga malu pun, aku bakalan tetap cerita sama kamu kok, tadi."
__ADS_1
"Iya engga apa-apa Tan, kalau kelas kamu kosong nanti setelah istirahat, kabari aku lagi ya."
"Kelas gue selalu kosong Re, dan nanti gue pasti bakalan kabarin elu lagi kok, soalnya gue engga mau kalau harus ada masalah yang ditutup-tutupin, dan apalagi masalah ini bisa membuat hatimu kecewa."