Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 283 : Sikap yang harus dipertahankan


__ADS_3

Sementara itu di dalam ruangan kontrakan, di mana semua teman-teman Sultan tengah menunggu kedatangannya, tapi anehnya Sultan masih belum datang juga, dan ponselnya sangat sulit Dimas hubungi.


Mereka semua terlihat khawatir apalagi di luar sana rintik air hujan masih juga belum berhenti. Bilamana Sultan belum juga tiba di sana, niat mereka untuk menyusulnya takan pernah bisa ditunda lagi walaupun mereka semua harus membantah perintah dari Sultan.


"Gue khawatir sama si Sultan Bre, kenapa dari tadi hingga sampai sekarang dia masih belum pulang-pulang juga ya, apa perlu kita yang bergerak sendiri untuk mencarinya? gue cuma takut ada seseorang yang menghambat perjalanannya," tanya Dimas kepada semua temannya sembari memberikan raut wajah gelisahnya.


Pandangan mereka terhadap Sultan mulai berubah, semua rekannya pun berpikiran hal yang sama seperti apa yang tengah Dimas pikirkan untuk saat ini, mau sampai kapan pun mereka menunggu Sultan di dalam sana, bilamana waktunya sudah melewati batasnya, maka mereka semua hanya bisa menjemput Sultan.


"Sebenarnya elu udah coba menghubungi si Sultan bego itu engga Dim?" tanya Alam sambil menghisap perlahan rokoknya dengan perasaan gelisahnya.


"Udah lima kali gue neleponin dia Lam, tapi tetap aja belum ada jawaban yang jelas dari si Sultan bego itu."


"Kita tunggu beberapa menit lagi, kalau masih nihil, lebih baik kita susul si Sultan."


Perbincangan Alamsyah dan Dimas tak cukup panjang dikarenakan perasaan yang mereka rasakan sekarang itu tengah berada diambang kebingungan.


Dimas yang tak henti-henti menelepon Sultan pun mulai dibuat bingung, mengapa Sultan begitu sulit menjawab panggilan telepon darinya, padahal nomernya aktif, tapi anehnya Sultan masih saja mengabaikannya.


Lima menit waktu telah mereka habiskan di dalam sana, hingga pada akhirnya mereka pun tak memiliki pilihan lain lagi selain mencari keberadaan Sultan.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kita terus menunggu di dalam sini! lebih baik kita segera pergi mencari keberadaan Sultan yang sekarang sebelum hari dihabiskan oleh kegelapan malam," ujar Azmi yang sudah siap mencari Sultan.


Walaupun di luar sana hujan rintik masih belum juga berhenti-berhenti, namun hal itu takan pernah membuat tekad mereka pergi begitu saja, demi temannya mereka semua rela menahan dinginnya air hujan yang jatuh, asalkan mereka mengetahui keberadaan Sultan yang sekarang.


Grungg, grungg, grungg ....


Suara raungan mesin motor pun mulai dinyalakan, dan sekarang mereka hanya menggunakan beberapa motor saja, dikarenakan bila terlalu banyak suara motor yang dinyalakan, yang mereka takutkan hanya akan mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat di dalam sana.


Dan terlebih sebelumnya Sultan sempat memberikan sebuah pesan isyarat agar mereka semua tidak pergi ke luar ruangan kontrakan seorang diri tanpa adanya pendamping yang menemaninya pergi.


"Semua sudah dibagi menjadi dua kelompok, satu motor harus ada dua orang, dan dua orang itu adalah si pengemudi dan yang satunya lagi adalah orang yang dibonceng di belakang. Pokoknya kalian semua harus ingat pesan dari Sultan, jangan pernah ada yang ke luar ruangan seorang diri tanpa ada satu orang pendamping," ucap Azmi, di mana dia adalah orang pertama yang mendengar perintah dari Sultan itu.


....


"Pokoknya kita semua akan mencari Sultan secara bersamaan, mau bagaimanapun caranya jangan sampai ada yang terpisah dari rombongan," ujar Azmi, dan itu adalah perintahnya yang terakhir.


Mereka bergerak sesuai dengan rencana yang sebelumnya telah mereka buat di dalam kontrakan, semua motor dijajarkan membentang hingga menutupi seisi jalanan, untung saja air hujan turun di malam itu, dan jadi jalanan dibuat semakin sepi saja olehnya.


Perncariannya yang sekarang sungguh sangat di luar dugaan, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada satu pun penghambat yang bermunculan.

__ADS_1


Berhubung mereka masih bisa memanfaatkan jalanan yang sepi, jadi semua motor tetap dibariskan ke arah samping saja agar seluruh anggota temanya tidak ada yang tertinggal di belakang.


Azmi hanya takut diantara temannya ada yang menghilang begitu saja, entah itu menghilang karena tertinggal, ataupun menghilang karena diblok oleh musuh, hanya saja semua temannya harus tetap fokus ke arah jalanan yang sangat sepi itu, dan bilamana mereka lengah sedikit saja, sewaktu-waktu musuh dapat dengan mudahnya memblokir arah laju motor mereka, apalagi untuk si pengendara yang bergerak dibarisan paling belakang, mereka harus benar-benar bisa menyesuaikan dengan posisinya itu.


Maka tak heran mengapa Azmi menyuruh semua temannya untuk berbaris sejajar ke arah samping, dan alasannya adalah itu, di mana agar mereka tak menghilangkan arah pandangnya dari semua temannya.


"Mi, apa engga sebaiknya kita berpencar ataupun berbaris sejajar ke arah belakang aja? gue cuma takut aja kalau ada pengendara lain yang melintas di jalanan sepi ini," tanya Rizki sembari menatap Azmi selintas saja.


"Pokoknya jangan sampai ada rombongan yang terpisah, palingan kalau ada pengendara motor yang melintas di jalanan ini, kita tinggal menepi saja sebentar, soalnya kita engga akan tahu kapan musuh akan menyerang kita, pokoknya apa pun yang terjadi kita harus tetap bersama, itu sebabnya kita terlihat kuat, Sultan pernah bilang sama gue bahwa musuh hanya bermain disaat kita semua sedang lengah saja, makanya tetap jaga pandangan kita oke, dan gue yakin cara ini takan pernah diblok oleh musuh."


Azmi terus saja memperingati mereka, pandanganya yang sekarang benar-benar sama dengan Sultan, dan itu bukan pandangan datar yang dimiliki oleh sosok Sultan, melainkan arah pandang dalam menjaga semua temannya.


"Yang Azmi ucapkan itu memang benar, bila kita terlalu terobsesi dengan prinsip untuk memisahkan diri dalam situasi yang sekarang ini, maka dinding pembatas kita itu akan hancur dengan seketika, lebih baik kita tetap patuh agar semua usaha kita tidak runtuh," ujar Dimas membuat semangat teman-temannya kembali menyatu.


"Bener Dim, ini bukan sebuah pertarungan yang memiliki banyak peraturan, jadi lebih baik sekarang kita tetap diam dan tetap berbaur menjadi satu agar semua ketakutan yang kita takutkan itu benar-benar takan pernah terjadi, pokoknya jangan sampai pertarungan kita ini menjadi ajang pertaruhan, soalnya gue masih ingin melihat elu semua disaat gue lulus nanti," ucap Ujeng terlihat begitu ambisius dalam mengingatkan semua temannya agar bisa bertahan sampai titik puncak yang telah ditentukan, yakni simbol kemenangan.


Mereka semua tertawa lepas mendengar ucapan Ujeng yang begitu mengkhawatirkan keselamatan para teman-temannya di sana.


Tawa itu adalah suara tawa kemenangan, mereka harus bisa mempertahankan sikap tersebut dikarenakan sikap itu adalah sikap yang ingin dilihat oleh guru pembimbingnya yang bernama, Pak Mukhsin.

__ADS_1


__ADS_2