
"Diemin udah diemin! haha, mampus lu Bai! sebenarnya kita itu sayang sama elu, jadi tolong lah jaga sikap elu selayaknya seperti cowok sejati," ujar Iman yang baru saja tak menyadari bahwa dia salah dalam mengucapkan kata di hadapan semua temannya.
Bahwasannya tidak ada kata sayang terhadap semua teman-teman lelakinya, melainkan kata yang tepat untuk diucapkan itu sebenarnya adalah perduli.
Tentu saja Maulana masih merasa dendam terhadap Iman, jadi dialah yang menyadari lebih dulu bahwa temannya itu baru saja mengucapkan kata yang geli untuk didengarkan.
Maulana memegang kedua tangan Iman dengan begitu erat, semua kawannya terlihat bingung, bahkan Iman juga bingung, kenapa Maulana memegang kedua tangannya seperti itu.
"Ul, elu ini kenapa bego! kalau dendam jangan beginilah! ada cara lain agar elu bisa membuat gue terjerumus seperti waktu itu," ujar Iman kembali, namun anehnya dia tak melawan apa yang telah Maulana perbuat terhadapnya.
"Ikat tangannya pakai tali cepetan! kalian semua engga sadar apa dia baru saja mengucapkan kata sayang kepada si Akbar bolot ini?" tanya Maulana membuat Yogi sadar, yang di mana tanpa berlama-lama lagi Yogi pun mengikat tangan Iman di sana.
Sekarang yang terkena hukuman bukan hanya Akbar seorang diri, melainkan Iman pun terkena batunya karena dari awal Iman menertawakan Akbar selepas melebihi tawa yang di keluarkah oleh semua temannya.
Maulana bukanlah seorang Sultan, dan mungkin dia akan lebih kejam memberikan hukuman terhadap Iman, apalagi rasa dendamnya itu masih melekat dihatinya sendiri.
Tangan dan kaki Iman diikat seperti Akbar, di sana Maulana tertawa lepas, hingga pada akhirnya dia bisa membalaskan dendamnya kepada kawan gilanya itu di sana.
"Mampus lu Men! akhirnya dendam gue terbalaskan juga, pokoknya raisain aja apa rasa sakit yang tak seberapa ini seperti gue disiksa sama elu waktu itu," ucap Maulana sambil mengelitiki tubuh Iman.
__ADS_1
"Oyy, Bai, sisa waktu elu sekarang tinggal sembilan menitan lagi tuh, sedangkan waktu Iman di mulai dari sekarang, seperti biasa sepuluh menit ya, Men, tahan tuh sampai elu bisa sadar dan bisa menjadi pria yang sesungguhnya, jangan berbelok lagi," ujar Sultan, di mana ia pun tak sanggup menahan rasa ingin tertawanya.
Sultan sadar, dikarenakan ia merasa bahwa nanti ia pun akan merasakan hal yang sama seperti mereka, makanya ia berusaha menjaga sikapnya agar kedua temannya itu takan pernah membuat Sultan terjerumus masuk hingga sampai bernasib yang sama seperti mereka.
Pada dasarnya mereka pasti memiliki dendam yang sama, namun itu semua tergantung dengan apa dan seberapa berat yang memberikan hukuman itu kepada mereka berdua, apakah pemberi hukuman itu memberikan hukumannya terlalu berat, ataupun si pemberi hukuman itu memberikan hukumannya lebih ringan.
Seperti hal nya Maulana, dia menambah dan memberikan hukumannya lebih berat sambil sesekali menggelitik tubuh temannya tanpa henti, dan di sanalah drama mulai dimainkan, di mana Iman pastinya akan menyimpan dendam yang sama seperti Maulana.
"Mampus, mampus, mampus! makanya jangan main-main sama Maulana! rasain lu Men! elu tahu sendirikan akibatnya akan berdampak seperti apa bilamana elu berurusan dengan orang semacam gue," ucap Maulana masih saja menggelitiki tubuh Iman tanpa henti.
"Udah Ul! gue nyerah, gue minta maaf sama lu, gue janji engga akan melakukan hal yang sama lagi seperti waktu itu gue menghukum elu," ucapan Iman tak terdengar jelas ditelinga Maul, dikarenakan itu karena sebab bibirnya dijepit begitu dengan menggunakan jepitan baju.
"Gue engga ngerti apa yang elu omongin! udahlah Men, terimain aja hukuman ini dengan hati yang damai, intinya jangan banyak ngomong oke," ujar Maulana, hingga pada akhirnya dia membiarkan Iman duduk bersama Akbar di depan parkiran kosan.
Maul duduk di samping Sultan, dia pun lalu mengambil satu batang rokok milik Sultan. Di sana Sultan tengah berbincang asik bersama dengam Dimas, lantas Maulan pun penasaran, habisnya mereka berdua tertawa-tawa berdua.
"Tan, minta rokok elu dong, rokok gue ketinggalan di rumah soalnya, nanti gue ganti kok, tenang aja," pinta Maulana sambil membakar rokoknya itu di hadapan Sultan.
"Abisin kalau perlu Ul, lagian elu kayak kesiapa aja dah, perasaan kita kenal udah lebih dari satu hari, mau ngambil rokok aja harus izin segala," ujar Sultan berbicara begitu santainya.
__ADS_1
Maulana tersenyum tipis seraya menghisap rokoknya itu. Di sana dia mulai ikut berbincang bersama dengan kedua temannya itu.
"Tan, bukannya kemarin elu bilang sama gue ya, katanya elu engga akan pulang ke Sukabumi, tapi kenapa sekarang lu ada di sini, udah itu dengan seketika elu ngabarin kita semua kalau Pak Mukhsin nyuruh kita untuk datang ke rumahnya hari ini," ucap Dimas terlihat bingung, kenapa dia bisa ada di Sukabumi, dan kenapa pagi tadi Sultan mengabarinya untuk datang ke rumah Pak Mukhsin.
"Satu hari setelah kalian pulang semua ke Sukabumi, malam itu gue engga sengaja mendengar ada suara aneh di depan teras kontrakan, dan setelah gue lihat ternyata itu adalah cewe yang kalian kejar-kejar selama di sana," ucap Sultan dengan seketika membuat Dimas menyadari wanita itu adalah Aisyah.
"Kalau tahu waktu itu Aisyah datang ke kontrakan, lebih baik gue diam aja di sana Tan."
"Dasar bego! masa iya elu lupa! emangnya elu engga ingat apa kalau niat elu pulang itu karena elu ingin merayakan hari ulang tahunnya, masa iya elu mau mengabaikannya demi wanita lain yang memang kita engga tahu apakah dia suka sama elu di sana."
Dimas tersenyum, ucapan Sultan memang benar, untung saja Sultan mengingatkannya, jadi dengan seketika dia sadar bahwa apa yang dia lakukan di belakang kekasihnya itu tidak baik.
Maulana sempat mendengar wanita lain, maka dari itu dia pun bertanya seberapa cantik wanita yang mereka ceritakan di dekatknya itu.
"Cantik kagak Dim, wanitanya? kapan-kapan gue main ke sana ah sama si Iman, siapa tahu gue bisa bertemu dengannya, apalagi sampai mendapatkan nomor Whatsappnya," tanya Maulana membuat Sultan menapar bibir Maulana itu.
"Jaga tuh mulut! pelan-pelan kenapa lu ngomongnya Ul! bau itu bego mulut elunya! lagian elu ini udah punya pacar, udah itu pacar elu cantik lagi, tapi kenapa elu masih aja mau mencari wanita yang lebih good loking, sadar diri lu Ul, dia cantik, sedangkan elu burik, itu adalah kata yang pernah gue dengar dari mulut Alamsyah," ucap Sultan begitu kencang, sampai-sampai semua temannya tertawa selepas yang ingin Sultan dengarkan.
Kopi yang akan Alamsyah minum pun tidak jadi dia minum, dikarenakan ucapan Sultan mengganggu kesadarannya hingga hatinya menyuruh dia untuk tertawa, dan perasaan dia tak pernah berkata seperti itu di hadapan Sultan.
__ADS_1